IHSG Ditutup 8.274 Saat WIFI Rilis Internet Murah dan MPPA Rights Issue
- Jumat, 20 Februari 2026
JAKARTA - Pergerakan pasar saham pada Kamis sore mencerminkan tekanan yang masih membayangi indeks acuan.
Meski sejumlah saham mampu bertahan di zona hijau, laju Indeks Harga Saham Gabungan harus mengakhiri sesi dengan koreksi. Di tengah kondisi tersebut, kabar aksi korporasi dan peluncuran produk baru justru datang dari emiten berbeda sektor.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi pada penutupan perdagangan Kamis, 19 Februari 2026. Indeks berakhir menyusut 0,43 persen ke posisi 8.274,08. Pelemahan ini juga diikuti oleh penurunan pada instrumen ETF EIDO dan MSCI Indonesia.
Baca Juga
Tekanan yang terjadi tidak sepenuhnya merata di semua saham. Sejumlah emiten masih mencatatkan kinerja positif dan menjadi penahan laju penurunan indeks. Namun, saham berkapitalisasi besar tertentu justru memberi beban signifikan pada pergerakan IHSG.
Situasi ini menggambarkan dinamika pasar yang selektif. Investor tampak melakukan rotasi portofolio sambil mencermati sentimen global dan domestik. Aktivitas perdagangan pun tetap menunjukkan intensitas yang cukup tinggi.
Pergerakan Saham dan Aktivitas Investor Asing
Meski indeks secara keseluruhan tertekan, sejumlah saham seperti MBMA, MDKA, dan AMMN tetap mampu bergerak di zona hijau sekaligus menjadi penopang pasar. Sebaliknya, saham-saham seperti BMRI, DCII, dan DSSA justru menjadi pemberat gerak indeks. Perbedaan arah ini memperlihatkan adanya minat beli di sektor tertentu.
Dari sisi sektoral, industri dasar menjadi sektor yang paling menguat di saat sektor teknologi mengalami koreksi paling tajam. Rotasi sektor ini sering terjadi ketika investor mengalihkan dana ke saham berbasis komoditas. Perubahan preferensi tersebut turut memengaruhi komposisi penguatan dan pelemahan.
Adapun aktivitas pemodal asing di pasar reguler mencatatkan jual bersih senilai Rp245,37 miliar, meskipun secara total akumulasi investor asing masih membukukan beli bersih sebesar Rp387,80 miliar. Data ini menunjukkan strategi yang lebih selektif dari investor global.
Aksi jual di pasar reguler menandakan adanya realisasi keuntungan pada saham tertentu. Namun akumulasi beli bersih secara keseluruhan mengindikasikan kepercayaan asing belum sepenuhnya surut. Arus dana ini tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas indeks.
WIFI Luncurkan Internet Rakyat Berbasis 5G FWA
Di sektor korporasi teknologi, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melalui anak usahanya, Telemedia Komunikasi Pratama, resmi memperkenalkan layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) bernama Internet Rakyat pada 19 Februari. Langkah ini menjadi strategi ekspansi di tengah persaingan industri digital.
Mengandalkan spektrum 1,4 GHz yang dinilai lebih optimal untuk penetrasi jaringan di dalam ruangan, layanan ini menawarkan kecepatan hingga 100 Mbps. Teknologi tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan internet rumah yang stabil dan cepat.
Perseroan membanderol paket internet rumah tersebut seharga Rp100 ribu per bulan, angka yang berada di bawah plafon maksimal Rp147 ribu yang ditetapkan Kementerian Komunikasi dan Digital. Penetapan harga ini menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pelanggan.
WIFI menargetkan layanan ini mampu menjangkau lebih dari 5 juta pelanggan dengan aktivasi 5.500 site pada tahun 2026 yang tersebar di wilayah Jawa, Maluku, dan Papua. Target ekspansi ini menunjukkan ambisi perseroan memperluas pangsa pasar nasional.
Rencana Rights Issue MPPA Perkuat Permodalan
Sementara itu, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) berencana memperkuat struktur permodalan melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue). Emiten pengelola ritel ini akan menerbitkan sebanyak 24 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Dana hasil aksi korporasi yang diperkirakan mencapai Rp780 miliar ini dialokasikan untuk mengakuisisi sejumlah aset properti di berbagai wilayah. Strategi ini dilakukan untuk memperkuat basis aset dan mendukung ekspansi usaha. Rights issue menjadi opsi pembiayaan yang dipilih manajemen.
Beberapa aset yang menjadi target antara lain Plaza Gresik, Sinar Matahari Bogor, Mega M Kedung Badak Bogor, Gedoeng Merah eks Matahari Malioboro, serta lahan di Balaraja dan rumah susun di Dukuh Menanggal. Akuisisi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah jangka panjang.
Kepastian rencana ini akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Maret mendatang. Keputusan pemegang saham akan menjadi penentu realisasi aksi korporasi tersebut di tengah dinamika pasar yang masih fluktuatif.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Informasi Resmi Penerbangan Charter AT-802 PK-PAA Pelita Air Terbaru
- Jumat, 20 Februari 2026
Berita Lainnya
KB Bank Jalin Kerja Sama dengan BNI Asset Management Tawarkan Reksadana
- Jumat, 20 Februari 2026
Reformasi Pasar Modal Indonesia: BEI Tingkatkan Free Float dan Transparansi
- Jumat, 20 Februari 2026
Terpopuler
1.
BMKG Prakirakan Mayoritas Wilayah Indonesia Hujan Ringan Pada Jumat
- 20 Februari 2026
2.
Menko PM Lantik Dirut BPJS Kesehatan Dan Ketenagakerjaan Baru
- 20 Februari 2026
3.
Cak Imin Lantik Pimpinan Baru BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan
- 20 Februari 2026
4.
Puan Serukan Solidaritas Tanpa Sekat di Parlemen Ramadhan
- 20 Februari 2026











