Kamis, 29 Januari 2026

Harga Timah Dunia Naik Tajam, Dipicu Ketatnya Pasokan dan Permintaan Global

Harga Timah Dunia Naik Tajam, Dipicu Ketatnya Pasokan dan Permintaan Global
Harga Timah Dunia Naik Tajam, Dipicu Ketatnya Pasokan dan Permintaan Global

JAKARTA - Pasar komoditas global tengah menyoroti pergerakan harga timah yang terus mengalami kenaikan signifikan. Dalam tiga bulan terakhir, logam ini mencatat lonjakan tajam yang menarik perhatian pelaku industri dan pemerintah.

Kenaikan harga timah tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab. Berbagai faktor struktural dan kebijakan diyakini berperan dalam membentuk tren penguatan tersebut.

Data perdagangan menunjukkan bahwa timah menjadi salah satu komoditas logam dengan performa paling agresif dalam periode akhir 2025 hingga awal 2026. Kondisi ini menandai perubahan penting dalam dinamika pasar global.

Baca Juga

Peluncuran TFCCA Tandai Komitmen Global Jaga Terumbu Karang Indonesia

Ketatnya pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan industri berteknologi tinggi menjadi latar utama lonjakan harga. Situasi ini memperlihatkan bagaimana keseimbangan supply dan demand semakin rapuh.

Pergerakan Harga Timah di Pasar Internasional

Berdasarkan data London Metal Exchange, harga timah menunjukkan kenaikan yang sangat mencolok. Pada 27 Oktober 2025, harga timah tercatat sebesar US$36.435 per ton.

Dalam waktu kurang dari tiga bulan, harga tersebut melonjak tajam. Per 26 Januari 2026, harga timah mencapai level US$54.878 per ton.

Artinya, harga timah naik sekitar 50,62 persen dalam periode yang relatif singkat. Lonjakan ini menempatkan timah sebagai salah satu logam dengan apresiasi tertinggi.

Kenaikan harga tersebut mencerminkan tekanan besar pada sisi pasokan global. Pasar merespons cepat terhadap berbagai sinyal keterbatasan produksi.

Pemerintah menilai lonjakan harga ini tidak terlepas dari pengetatan tata kelola pertambangan timah di Indonesia. Upaya pemberantasan tambang ilegal dinilai memberikan dampak nyata.

Langkah pengetatan tersebut membuat pasokan timah dari Indonesia menjadi lebih terkendali. Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama di pasar timah dunia.

Pandangan Pemerintah terhadap Lonjakan Harga

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menilai kenaikan harga timah dipicu oleh lonjakan permintaan global. Permintaan tersebut terjadi di tengah kondisi pasokan yang relatif terbatas.

Menurut Yuliot, berbagai sektor strategis menjadi pendorong utama peningkatan kebutuhan timah. Industri elektronik, semikonduktor, hingga panel surya menjadi pengguna utama logam ini.

Di sisi lain, produksi timah dari sejumlah negara pemasok utama mengalami gangguan. Faktor kebijakan dan dinamika geopolitik global turut menekan suplai.

“Terjadi lonjakan permintaan sementara suplai relatif terbatas,” ujar Yuliot pada Rabu, 28 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan kondisi pasar yang tidak seimbang.

Pengetatan tata kelola pertambangan di dalam negeri juga disebut sebagai faktor penting. Pemerintah menilai kebijakan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya pasokan ilegal.

Upaya pemberantasan tambang ilegal dinilai memperbaiki struktur industri. Namun, dampaknya juga terasa pada ketersediaan timah di pasar global.

Respons Emiten dan Pelaku Industri Timah

Dari sisi korporasi, PT Timah Tbk melihat lonjakan harga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Isu keterbatasan pasokan menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga.

Division Head Corporate Secretary PT Timah Tbk, Rendi Kurniawan, menjelaskan bahwa kebijakan dalam negeri berperan besar. Pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya serta izin ekspor menjadi sorotan.

Selain faktor domestik, kondisi pasokan global juga ikut memperketat pasar. Pemulihan produksi timah dari Myanmar dinilai berjalan lambat.

Di saat yang sama, Republik Demokratik Kongo memberlakukan larangan ekspor timah. Kebijakan tersebut berlaku selama enam bulan sejak akhir November 2025.

Kombinasi faktor tersebut membuat pasokan global semakin terbatas. Kondisi ini mendorong harga timah bertahan di level tinggi.

Rendi menambahkan bahwa kenaikan harga berdampak positif terhadap kinerja PT Timah. Harga jual produk, terutama untuk pasar ekspor, ikut meningkat.

Dampak positif tersebut tercermin pada kinerja penjualan perusahaan. Secara keseluruhan, kenaikan harga menopang performa keuangan PT Timah.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Tbk, Suhendra Yusuf Ratu Prawiranegara. Ia menilai sentimen global turut memengaruhi harga timah.

Isu terkait logam tanah jarang dan rare earth elements disebut ikut membentuk persepsi pasar. Timah turut terseret dalam dinamika tersebut.

Meski demikian, Suhendra menegaskan bahwa kenaikan harga tidak sepenuhnya didorong faktor fundamental. Sentimen pasar masih memegang peran signifikan.

“Ada faktor supply dan demand, tapi juga sentimen pasar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dampaknya tetap positif bagi bottom line perusahaan.

Dalam lebih dari satu semester terakhir, kenaikan harga memberikan kontribusi nyata. Kinerja keuangan perusahaan dinilai mendapatkan dorongan yang jelas.

Posisi Indonesia dan Risiko Jangka Panjang

Dari sisi industri nasional, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Sudirman Widhy menyoroti posisi strategis Indonesia. Indonesia merupakan produsen timah terbesar kedua dunia setelah China.

Produksi bijih timah nasional sempat mencapai puncak sekitar 65.000 ton pada 2023. Angka tersebut kemudian turun menjadi 45.000 ton pada 2024.

Pada 2025, produksi kembali meningkat ke kisaran 50.000 ton. Fluktuasi ini mencerminkan dampak kebijakan dan kondisi lapangan.

Sudirman menilai pengetatan tata kelola memberikan dampak signifikan terhadap pasokan. Pemberantasan tambang ilegal menekan ekspor yang tidak tercatat.

Pengetatan tersebut bahkan membuat pasar gelap timah di negara tetangga mulai menghilang. Dampaknya terasa langsung di pasar internasional.

“Ketika pasokan dari Indonesia mengetat, dampaknya langsung terasa di pasar internasional dan mendorong harga naik,” ujar Sudirman. Pernyataan ini menegaskan pengaruh Indonesia di pasar global.

Meski harga tinggi menguntungkan produsen, Sudirman mengingatkan adanya risiko jangka panjang. Harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan daya beli konsumen.

Jika harga terus melambung, permintaan bisa mengalami penurunan. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan pasar dalam jangka menengah.

Selain itu, lonjakan harga saat ini masih sarat spekulasi. Isu pasokan menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar.

Sudirman menilai harga berisiko terkoreksi secara tiba-tiba. Perubahan kondisi pasar global dapat memicu pembalikan arah harga.

Dengan demikian, lonjakan harga timah perlu disikapi secara hati-hati. Stabilitas pasar jangka panjang menjadi tantangan berikutnya bagi industri.

Pergerakan harga timah dalam tiga bulan terakhir menunjukkan kompleksitas pasar komoditas. Faktor kebijakan, permintaan industri, dan sentimen global saling berkelindan.

Ke depan, arah harga timah akan sangat bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan. Langkah pemerintah dan kondisi geopolitik akan tetap menjadi penentu utama.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Sawit Mitra Riau Naik Dorong Optimisme Petani Pekan Ini

Harga Sawit Mitra Riau Naik Dorong Optimisme Petani Pekan Ini

Kenaikan Harga Minyak Beri Sinyal Positif Stabilitas Energi Global Ke Depan

Kenaikan Harga Minyak Beri Sinyal Positif Stabilitas Energi Global Ke Depan

Pemerintah Siapkan Anggaran Untuk Peternakan Ayam Terintegrasi Nasional

Pemerintah Siapkan Anggaran Untuk Peternakan Ayam Terintegrasi Nasional

Pesantren Daarul Hawariyyin Jadi Contoh Model Pertanian Terpadu Berkelanjutan

Pesantren Daarul Hawariyyin Jadi Contoh Model Pertanian Terpadu Berkelanjutan

Petani Muda Berperan Besar Dorong Popularitas Pupuk Organik Berkualitas

Petani Muda Berperan Besar Dorong Popularitas Pupuk Organik Berkualitas