Petani Muda Berperan Besar Dorong Popularitas Pupuk Organik Berkualitas
- Kamis, 29 Januari 2026
JAKARTA - Di Desa Lassang, Kabupaten Takalar, pagi-pagi sekali petani sudah mengantre di kios pupuk.
Mereka datang dari berbagai usia, mulai remaja hingga lansia, membawa ponsel untuk menebus pupuk subsidi. Teknologi digital kini digunakan untuk mempermudah proses pembelian sekaligus menghindari penyimpangan distribusi pupuk.
Salah satu petani muda bernama Sukriadi sudah mengenal pertanian sejak kecil. Meskipun sempat menempuh pendidikan pesantren dan menjadi da’i, Sukriadi aktif membantu ayahnya bertani. Dalam dua tahun terakhir, ia mulai berinovasi menggunakan pupuk organik pada sawahnya sebagai upaya meningkatkan hasil panen.
Baca JugaHarga Batu Bara Naik Dua Hari Beruntun, Pasar Energi Global Mulai Berubah Arah
Tahun 2024, Sukriadi mencampur pupuk organik dan pupuk biasa sebelum menabur ke sawah. Pada tahun berikutnya, ia menaburkan pupuk organik terlebih dahulu sebelum menanam padi. Cara ini terbukti membuat tanah lebih subur dan panen meningkat.
Keuntungan dan Manfaat Pupuk Organik bagi Petani
Sukriadi menyampaikan bahwa penggunaan pupuk organik meningkatkan hasil produksi sawahnya. Sebelumnya, ia hanya mendapatkan 31 karung padi, tetapi setelah memakai pupuk organik hasilnya bertambah sekitar tiga sampai lima karung. Selain itu, pupuk organik harganya jauh lebih terjangkau, sekitar Rp640 per kilogram.
Pupuk organik yang terjangkau membuat petani merasa tidak dirugikan ketika menggunakannya. Selain biaya yang lebih murah, pupuk organik juga membuat tanah menjadi lebih subur dan hasil panen meningkat. Hal ini menjadikan pupuk organik sebagai pilihan yang tepat untuk pertanian berkelanjutan.
Sukriadi juga membagikan pengalamannya kepada tetangga dan kerabat meskipun belum semua langsung beralih ke pupuk organik. Ia yakin, dengan contoh nyata, semakin banyak petani yang tertarik mencoba pupuk organik. Dukungan sosial dan bukti keberhasilan menjadi kunci perubahan ini.
Kisah Petani Lain yang Beralih ke Pupuk Organik
Baharuddin, petani muda asal Sidrap, juga mulai menggunakan pupuk organik untuk tanaman jagungnya. Ia membeli 7 sak pupuk organik untuk 1,7 hektar lahan dengan total biaya hanya Rp175 ribu. Biaya ini jauh lebih rendah dibanding pupuk non organik seperti urea dan NPK yang biasa ia pakai sebelumnya.
Baharuddin menaburkan pupuk organik seminggu setelah menanam tanaman secara tunggal tanpa mencampur dengan pupuk lain. Ia berharap hasil panennya bisa maksimal karena mengikuti anjuran dari sosialisasi kelompok tani. Sistem pembayaran setelah panen yang diberikan kios pupuk membuatnya lebih leluasa menggunakan pupuk organik.
Pengalaman Baharuddin menanam jagung dengan pupuk organik berhasil meningkatkan hasil panen hingga 8,3 ton per panen. Keberhasilannya memotivasi petani lain untuk mencoba pupuk organik. Informasi dan edukasi dari kelompok tani menjadi peran penting dalam memperluas penggunaan pupuk organik.
Tren Meningkatnya Penyaluran Pupuk Organik di Sulawesi Selatan
Data menunjukkan penyaluran pupuk organik mulai mendapat respon positif dari petani sejak tahun 2025. Kabupaten Takalar mencatat penyaluran tertinggi dengan realisasi 52 persen dari alokasi pupuk organik. Kabupaten lain seperti Sidrap, Luwu Utara, Bone, dan Gowa juga menunjukkan peningkatan penyaluran pupuk organik yang signifikan.
Distribusi pupuk dilakukan secara proporsional berdasarkan kebutuhan kelompok tani sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Alokasi ini ditentukan melalui Surat Keputusan Dinas Pertanian tingkat provinsi dan kabupaten. Sinergi antara pemerintah dan Pupuk Indonesia sangat menentukan keberhasilan distribusi pupuk organik.
Menurut Sukodim, Senior Manager Pupuk Indonesia wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua, keberhasilan menarik minat petani memerlukan contoh nyata di lapangan. Bukti peningkatan hasil produksi akibat pemupukan berimbang menjadi motivasi utama bagi petani. Sinergi ini menjadi fondasi untuk mengembangkan pertanian organik secara berkelanjutan.
Peran Penting Kolaborasi untuk Pertanian Berkelanjutan
Petani muda seperti Sukriadi dan Baharuddin menjadi penggerak utama penggunaan pupuk organik di daerah mereka. Mereka menggabungkan tradisi bertani dengan inovasi teknologi untuk meningkatkan hasil dan keberlanjutan pertanian. Perubahan pola pikir ini menjadi modal penting bagi kemajuan sektor pertanian di masa depan.
Pemerintah dan berbagai institusi berperan penting dalam mendukung ketersediaan pupuk organik dan edukasi kepada petani. Regulasi dan mekanisme subsidi yang tepat menjamin distribusi pupuk organik sampai ke tangan petani. Sistem yang terintegrasi juga membantu mencegah penyimpangan serta memastikan keadilan dalam distribusi.
Kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pelaku industri pupuk diharapkan dapat terus diperkuat. Dengan demikian, pertanian organik dapat menjadi solusi untuk ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Masa depan pertanian Indonesia akan cerah jika semangat muda dan teknologi terus bersinergi.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
OJK Minta Industri Asuransi Jiwa Perkuat Manajemen Risiko Klaim Kesehatan
- Kamis, 29 Januari 2026
Berita Lainnya
Rekomendasi Rumah Subsidi Kabupaten Mojokerto 2026 Paling Dicari Calon Pembeli Baru
- Kamis, 29 Januari 2026
Harga Timah Dunia Tembus USD 54.000, Bangka Belitung Sambut Peluang Baru Tambang
- Kamis, 29 Januari 2026
Teknologi Digital Mendorong Efisiensi dan Keselamatan dalam Industri Otomotif Modern
- Kamis, 29 Januari 2026
Terpopuler
1.
Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Kamis 29 Januari 2026
- 29 Januari 2026
2.
Harga Emas Antam Naik Tajam Perdagangan Kamis 29 Januari 2026
- 29 Januari 2026
3.
Pergerakan Harga Perak Antam Meningkat Kamis 29 Januari 2026
- 29 Januari 2026












