Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Global dan Stabilitas Ekonomi Domestik
- Rabu, 28 Januari 2026
JAKARTA - Nilai tukar rupiah yang mulai menunjukkan tren menguat dinilai masih berada di kisaran wajar. Pada Rabu, 28 Januari 2026 pukul 10.00 WIB, rupiah di pasar spot menguat 0,18% ke Rp 16.737 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.801 per dolar AS pada Selasa, 27 Januari 2026. Meskipun demikian, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada 20 Januari 2026, yakni Rp 16.988 per dolar AS.
Level terendah ini menunjukkan besarnya tekanan dari faktor global maupun domestik. Fluktuasi tersebut menjadi refleksi sensitivitas rupiah terhadap dinamika ekonomi dan geopolitik dunia.
Baca JugaInfinID Akuisisi IKI Modal untuk Perluas Layanan FinTech di Indonesia
Fundamental Rupiah dan Faktor Pendukung Stabilitas
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai fundamental rupiah tetap solid. Ekspektasi neraca pembayaran yang terjaga dan tren kenaikan harga komoditas, terutama sektor mineral, menjadi bantalan utama nilai tukar.
Meski demikian, rupiah masih cukup rentan terhadap sentimen eksternal. Penurunan spread Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury (UST) yang kini menyempit ke 2,17% dari sekitar 2,5% pada awal 2025 menjadi salah satu indikatornya.
Selain itu, Credit Default Swap (CDS) Indonesia naik ke 73,76, meningkat 4,74% secara month to date (MTD). Kenaikan ini menunjukkan adanya sensitivitas rupiah terhadap risiko global, meski posisi cadangan devisa BI tetap kokoh.
David menekankan bahwa sentimen fiskal dan kondisi sektor riil domestik akan memengaruhi pergerakan rupiah ke depan. Arah kebijakan moneter global juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan investor.
Intervensi BI dan Posisi Cadangan Devisa
Hingga saat ini, BI tercatat masih aktif melakukan intervensi, termasuk di pasar offshore. Nilai outstanding intervensi mencapai sekitar US$ 14 miliar dalam sebulan terakhir, dengan rata-rata harian diperkirakan US$ 700 juta.
David menilai intervensi BI masih memiliki ruang yang luas dan aman untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Saat ini, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 156,5 miliar, setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa yang kuat membuat langkah stabilisasi BI efektif. Intervensi di pasar offshore diyakini dapat menahan gejolak nilai tukar tanpa mengganggu fundamental ekonomi.
Selain itu, pergerakan dolar AS diproyeksikan melemah seiring ekspektasi penurunan Federal Funds Rate (FFR). Informasi mengenai intervensi nilai tukar yen Jepang oleh otoritas AS juga turut menekan penguatan dolar.
David menjelaskan bahwa kebutuhan intervensi rupiah kemungkinan hanya meningkat dalam jangka pendek. Cadangan devisa yang memadai memastikan intervensi tetap aman dan terkendali.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Kuartal I 2026
Sejalan dengan stabilitas fundamental dan intervensi BI, rupiah diperkirakan tetap berada di kisaran Rp 16.700–Rp 16.900 per dolar AS pada kuartal I 2026. Estimasi ini mempertimbangkan ekspektasi ekonomi domestik dan tren global yang sedang berlangsung.
Kombinasi faktor domestik dan global menunjukkan bahwa rupiah dapat bergerak stabil dalam beberapa bulan ke depan. Fundamental ekonomi Indonesia, termasuk cadangan devisa dan neraca pembayaran, menjadi penopang utama nilai tukar.
Meskipun ada tekanan eksternal, intervensi BI dan dukungan cadangan devisa memberikan bantalan kuat. Investor dapat melihat kondisi ini sebagai sinyal stabilitas jangka pendek bagi pasar keuangan Indonesia.
David menekankan pentingnya memperhatikan sentimen risiko fiskal dan sektor riil. Kedua faktor ini akan menentukan arah rupiah, selain kebijakan moneter global yang terus berkembang.
Fluktuasi pasar global dan dinamika domestik membuat rupiah tetap harus dikelola secara hati-hati. BI terus memantau pergerakan dan siap menyesuaikan strategi intervensi sesuai kebutuhan.
Perkembangan harga komoditas juga menjadi katalis penting bagi stabilitas rupiah. Kenaikan sektor mineral dan komoditas ekspor lainnya memberikan penguatan bagi nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Dalam jangka pendek, fluktuasi rupiah mungkin tetap terjadi, tetapi fundamental yang kuat memberi optimisme. Intervensi BI dan cadangan devisa yang solid memastikan volatilitas dapat dikendalikan dengan baik.
Investor lokal maupun asing perlu memperhatikan langkah BI dalam menjaga stabilitas pasar. Informasi mengenai intervensi, cadangan devisa, dan kondisi ekonomi makro menjadi acuan penting bagi strategi investasi.
Dengan demikian, rupiah yang mulai menguat mencerminkan kemampuan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global. Kombinasi faktor domestik yang kuat dan pengelolaan risiko yang tepat memberi sinyal positif bagi pasar.
Secara keseluruhan, tren penguatan rupiah menandakan keseimbangan antara tekanan eksternal dan fundamental domestik. Dengan manajemen yang tepat, nilai tukar diperkirakan akan tetap stabil sepanjang kuartal pertama 2026.
Rupiah yang bergerak di kisaran Rp 16.700–Rp 16.900 per dolar AS menjadi indikator bahwa ekonomi Indonesia mampu menghadapi volatilitas global. Dukungan BI dan kondisi cadangan devisa memberi kepercayaan diri bagi pelaku pasar.
Penguatan rupiah di tengah tekanan global menegaskan pentingnya cadangan devisa, intervensi BI, dan fundamental ekonomi. Stabilitas ini menjadi kunci kepercayaan investor dan ketahanan ekonomi nasional di awal 2026.
Nathasya Zallianty
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Allianz Indonesia Jalin Kerja Sama dengan AllianzGI Kelola Portofolio Investasi
- Rabu, 28 Januari 2026
Transformasi Digital Bank Mandiri Lewat Kopra Dorong Akselerasi Ekonomi Nasional 2026
- Rabu, 28 Januari 2026
OJK Perkuat Perlindungan Asuransi Bencana untuk Masyarakat Indonesia 2026
- Rabu, 28 Januari 2026













