BI Masih Buka Peluang Pangkas Suku Bunga, Inflasi Inti Rendah Jadi Kunci Dorong Ekonomi Nasional
- Rabu, 28 Januari 2026
JAKARTA - Prospek arah kebijakan moneter Bank Indonesia kembali menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat luas menjelang awal tahun 2026. Di tengah kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat, bank sentral membuka peluang untuk kembali memangkas suku bunga acuan atau BI rate dalam waktu mendatang.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan kondisi inflasi inti yang masih terkendali serta stabilitas nilai tukar yang relatif terjaga. Dengan kombinasi indikator makroekonomi yang cukup kondusif, ruang pelonggaran kebijakan moneter dinilai masih tersedia.
Bank Indonesia (BI) masih membuka peluang untuk kembali memangkas suku bunga acuan atau BI rate ke depan. Ruang pelonggaran tersebut didukung oleh inflasi inti yang tetap rendah serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar lebih kuat.
Baca JugaBRI BO Tanjung Redeb Tingkatkan Sinergi Strategis dengan Yon Armed
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dalam merumuskan kebijakan moneter, bank sentral selalu mempertimbangkan tiga indikator utama, yakni inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi. Dari ketiganya, inflasi inti menjadi indikator fundamental karena mencerminkan kemampuan kapasitas ekonomi dalam memenuhi permintaan.
“Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat 2,38%. Angka ini relatif rendah karena masih di bawah titik tengah sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%,” ujar Perry dalam konferensi pers, Selasa, 27 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan bahwa tekanan harga masih berada dalam batas aman sesuai target bank sentral.
Menurut Perry, rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi nasional masih lebih besar dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi saat ini. BI memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8% hingga 6,2%.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah potensi tersebut justru menahan tekanan inflasi inti. Kondisi ini sekaligus membuka ruang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif guna mendorong aktivitas ekonomi.
Inflasi Inti Jadi Penentu Arah Kebijakan
Dalam berbagai kesempatan, Bank Indonesia menegaskan bahwa inflasi inti menjadi fokus utama dalam perumusan kebijakan suku bunga. Indikator ini dinilai paling mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan kapasitas produksi dalam perekonomian.
Inflasi inti yang rendah mencerminkan bahwa tekanan permintaan masih bisa dipenuhi oleh kapasitas produksi nasional. Dengan demikian, risiko lonjakan harga yang berlebihan dinilai masih terbatas.
“Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat 2,38%. Angka ini relatif rendah karena masih di bawah titik tengah sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%,” ujar Perry dalam konferensi pers, Selasa, 27 Januari 2026. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa stabilitas harga masih terjaga di tengah dinamika global.
Menurut Perry, rendahnya inflasi inti juga menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kapasitas produksi yang tersedia masih lebih besar dibandingkan dengan permintaan aktual di pasar.
BI memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8% hingga 6,2%. Namun, realisasi pertumbuhan saat ini masih berada di bawah rentang tersebut.
Kondisi tersebut dinilai sebagai peluang bagi kebijakan moneter untuk lebih ekspansif. Dengan inflasi yang tetap terkendali, BI memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong konsumsi dan investasi.
Namun, BI tetap berhati-hati agar pelonggaran kebijakan tidak memicu tekanan inflasi baru di kemudian hari. Oleh karena itu, pengambilan keputusan tetap mengacu pada keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Perry menegaskan bahwa inflasi inti tetap menjadi jangkar utama kebijakan moneter BI. Selama indikator tersebut berada dalam rentang sasaran, ruang penyesuaian suku bunga akan tetap terbuka.
Ruang Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi nasional menjadi salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Dengan ekonomi yang masih berada di bawah potensi, bank sentral menilai perlu adanya stimulus tambahan untuk mengakselerasi aktivitas ekonomi.
Menurut Perry, rendahnya inflasi inti justru mencerminkan bahwa tekanan permintaan domestik masih bisa ditingkatkan. Hal ini membuka peluang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih optimal.
BI memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8% hingga 6,2%. Namun, realisasi pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah kisaran tersebut dinilai menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan pelonggaran lanjutan.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah potensi tersebut justru menahan tekanan inflasi inti. Kondisi ini sekaligus membuka ruang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif guna mendorong aktivitas ekonomi.
Sejalan dengan kondisi tersebut, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025. Sejak September 2024 hingga Januari 2026, BI rate telah dipangkas hingga berada di level 4,75%.
Langkah penurunan suku bunga tersebut bertujuan untuk menurunkan biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat. Dengan bunga yang lebih rendah, diharapkan konsumsi rumah tangga dan investasi dapat meningkat.
Kebijakan ini juga diharapkan mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional di tengah tantangan global. BI berupaya menyeimbangkan antara stabilitas makroekonomi dan kebutuhan pertumbuhan jangka menengah.
“Ke depan kami melihat masih ada ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut. Kebijakan suku bunga diarahkan agar inflasi inti tetap rendah dan pertumbuhan ekonomi bisa didorong lebih tinggi,” kata Perry.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BI tidak menutup kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga lanjutan jika kondisi makroekonomi tetap mendukung. Namun, keputusan tetap akan diambil secara hati-hati dan berbasis data.
BI juga menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil akan mempertimbangkan dinamika global, termasuk kebijakan bank sentral negara maju. Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Proyeksi BI Rate dan Pandangan Analis
Sejalan dengan pandangan BI, sejumlah lembaga keuangan global juga memproyeksikan adanya pelonggaran lanjutan kebijakan moneter di Indonesia. Salah satunya adalah The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC), yang memperkirakan BI masih akan melanjutkan penurunan suku bunga pada 2026.
Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, memproyeksikan BI akan menurunkan suku bunga hingga total 75 basis poin. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi pada kuartal I hingga kuartal III 2026.
Dengan proyeksi tersebut, BI rate berpotensi turun ke level 4%. Level ini dinilai dapat memberikan stimulus tambahan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Perry menegaskan bahwa kebijakan suku bunga BI akan tetap fokus menjaga stabilitas inflasi inti. Di saat yang sama, BI juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan moneter yang ekspansif dan dukungan ekspansi likuiditas.
Ia menambahkan bahwa BI akan terus mencermati perkembangan inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi secara simultan. Ketiga indikator tersebut akan menjadi dasar utama dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan moneter.
Dalam konteks stabilitas nilai tukar, BI juga menegaskan komitmennya menjaga rupiah agar tetap stabil sesuai fundamental. Stabilitas nilai tukar dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mencegah tekanan inflasi impor.
Dengan kebijakan suku bunga yang akomodatif, BI berharap aktivitas ekonomi dapat terus bergerak positif. Sektor konsumsi, investasi, dan ekspor diharapkan dapat memperoleh dorongan tambahan.
Langkah pelonggaran moneter juga diharapkan dapat mendukung sektor perbankan dalam menyalurkan kredit. Dengan bunga yang lebih rendah, minat masyarakat dan dunia usaha untuk mengajukan pembiayaan diharapkan meningkat.
Namun, BI tetap menegaskan bahwa pelonggaran kebijakan akan dilakukan secara terukur dan berhati-hati. Bank sentral tidak ingin langkah stimulus justru memicu risiko baru terhadap stabilitas ekonomi.
Dengan kondisi inflasi inti yang masih rendah dan pertumbuhan ekonomi yang belum mencapai potensi maksimal, ruang kebijakan moneter masih terbuka lebar. BI akan terus mengoptimalkan perannya sebagai penjaga stabilitas sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Zahra
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.













