Strategi Jasa Marga Siapkan Tol Fungsional Gratis Demi Mudik Lebaran 2026
- Rabu, 28 Januari 2026
JAKARTA - PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyiapkan empat ruas tol fungsional untuk mendukung kelancaran arus mudik Lebaran 2026. Langkah ini menjadi antisipasi lonjakan kendaraan yang diprediksi mencapai jutaan unit dari Jabodetabek ke berbagai daerah.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, menyebut keempat ruas tol yang disiapkan adalah Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japek II Selatan), Prambanan–Purwomartani, Probolinggo–Besuki, dan Bawen–Ambarawa. Keempat ruas ini ditargetkan siap awal Maret 2026 dan akan digunakan secara fungsional selama mudik.
Rivan menegaskan, penggunaan tol fungsional ini gratis, namun pengoperasiannya tetap diatur bersama Korlantas Polri. Aturan ini bertujuan mencegah kepadatan di pintu keluar dan memastikan arus lalu lintas tetap terkelola dengan baik.
Baca JugaGelombang Tinggi Mengganggu Pelayaran, ASDP Kupang Belum Beroperasi
Koordinasi Antar-Stakeholder Kunci Kelancaran Arus Mudik
Pengelolaan arus lalu lintas tol memerlukan kolaborasi antar-stakeholder. Rivan menekankan pentingnya koordinasi dalam pengambilan keputusan terkait contraflow maupun one way.
Pengalaman pada Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi pelajaran penting. Pada 24 Desember 2025, arus tinggi sempat memicu penerapan contraflow karena hujan, namun saat arus balik 4 Januari 2026, lalu lintas lebih lancar meski jumlah kendaraan sama.
“Artinya masyarakat sudah mengikuti informasi dengan baik,” ujarnya. Hal ini menunjukkan komunikasi dan koordinasi efektif antara pengelola jalan tol dan pengendara dapat mengurangi kemacetan.
Keberhasilan pengelolaan arus lalu lintas juga dipengaruhi kepatuhan pengendara terhadap informasi resmi. Dengan demikian, koordinasi tidak hanya dilakukan di lapangan, tetapi juga melalui media informasi digital dan signage tol.
Prediksi Volume Kendaraan dan Distribusi Perjalanan
Untuk Lebaran 2026, Jasa Marga memprediksi sekitar 3,5 juta kendaraan akan keluar dari wilayah Jabodetabek. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode Nataru lalu yang mencapai 2,9 juta kendaraan.
Distribusi kendaraan diperkirakan 50 persen menuju Trans Jawa, 29 persen ke arah Merak dan Sumatera, serta sisanya menuju Bandung dan Ciawi. Rivan menekankan bahwa distribusi ini harus dikelola cermat agar tidak terjadi kepadatan di titik-titik rawan macet.
Prediksi pergerakan kendaraan juga membantu pengelola tol menyiapkan strategi pengaturan arus. Data ini menjadi dasar penerapan contraflow, one way, dan pengaturan pintu keluar tol sesuai kebutuhan.
Selain itu, pengaturan ini akan memudahkan masyarakat yang ingin mudik lebih aman dan nyaman. Perencanaan lalu lintas berbasis prediksi sangat penting untuk mengurangi risiko kemacetan panjang.
Teknologi Pemantauan Arus Lalu Lintas
Jasa Marga menyediakan akses 3.500 kamera pemantau secara real time melalui aplikasi Travoy. Masyarakat dapat melihat kepadatan lalu lintas dan kondisi cuaca sebelum memulai perjalanan mudik.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan membantu pengendara memilih waktu dan jalur terbaik. Dengan demikian, arus kendaraan bisa lebih tersebar dan mengurangi tekanan pada ruas tol utama.
Selain itu, aplikasi Travoy juga memberikan update cepat terkait kecelakaan atau gangguan lalu lintas. Informasi real time ini menjadi alat penting bagi pengendara untuk menyesuaikan rencana perjalanan secara dinamis.
Penerapan teknologi pemantauan ini juga sejalan dengan transformasi digital yang diterapkan Jasa Marga. Layanan berbasis digital meningkatkan transparansi informasi dan keselamatan pengguna tol.
Dengan pemantauan dan perencanaan yang matang, Jasa Marga berharap arus mudik Lebaran 2026 berjalan lancar. Koordinasi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan pengelolaan lalu lintas selama periode puncak perjalanan.
Pelajaran dari Pengelolaan Nataru dan Implementasi Lebaran 2026
Pengalaman pengelolaan arus Nataru menunjukkan bahwa informasi dan koordinasi efektif dapat menekan kepadatan lalu lintas. Hal ini menjadi dasar persiapan strategi tol fungsional untuk Lebaran 2026.
Rivan mencontohkan, meski jumlah kendaraan arus balik sama dengan arus Natal, penerapan contraflow tidak diperlukan karena masyarakat mengikuti informasi resmi. Hal ini menegaskan pentingnya komunikasi yang tepat antara pengelola tol dan pengendara.
Kolaborasi antara Jasa Marga dan Korlantas Polri juga menentukan efektivitas pengaturan arus. Keputusan terkait one way, contraflow, dan pengelolaan pintu keluar tol akan dilakukan berdasarkan kondisi real time di lapangan.
Selain itu, kesiapan tol fungsional yang akan digunakan gratis menjadi nilai tambah bagi masyarakat. Kebijakan ini memudahkan perjalanan mudik, sekaligus mengurangi beban transportasi pada ruas tol utama.
Ruas tol fungsional yang disiapkan juga dilengkapi fasilitas dasar seperti rambu, marka jalan, dan petugas yang siap mengatur lalu lintas. Semua ini diharapkan mampu menjaga keamanan dan kelancaran perjalanan selama mudik Lebaran 2026.
Dengan strategi lengkap mulai dari prediksi volume kendaraan hingga teknologi pemantauan, arus mudik diharapkan lebih terkelola. Masyarakat pun dapat menikmati perjalanan yang aman, nyaman, dan lancar tanpa kepanikan di pintu tol.
Rivan menutup, dengan perencanaan matang dan koordinasi lintas instansi, arus mudik Lebaran 2026 bisa berjalan lancar. Semua persiapan ini merupakan wujud komitmen Jasa Marga dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Nathasya Zallianty
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.













