JAKARTA - Harga nikel yang sempat mengalami fluktuasi besar pada tahun 2025 diperkirakan akan tetap stabil di kisaran US$ 19.000 hingga US$ 20.000 per ton sepanjang 2026.
Proyeksi ini disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang berharap bahwa kebijakan pengendalian produksi dalam negeri dapat menjaga keseimbangan pasar nikel global.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan keyakinannya bahwa harga nikel dapat bertahan pada level stabil berkat kebijakan yang akan diterapkan dalam beberapa bulan mendatang.
Baca JugaProyek Peternakan Ayam Danantara Dimulai 28 Januari 2026, Fokus Distribusi Pangan
Pada 2026, produksi nikel di Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni hanya berada di kisaran 250 juta hingga 260 juta ton.
Hal ini berbanding terbalik dengan target produksi nikel pada 2025 yang tercatat sebanyak 379 juta ton. Penurunan produksi ini tidak lepas dari upaya pemerintah untuk mengendalikan produksi nikel dalam negeri, yang diharapkan bisa memberikan dampak positif pada stabilitas harga komoditas tersebut di pasar global.
Kebijakan Pengendalian Produksi dan Stabilitas Pasar
Kebijakan pemangkasan produksi nikel dalam negeri merupakan strategi yang diambil oleh Kementerian ESDM untuk menstabilkan harga nikel yang sempat terjun bebas pada akhir 2025.
Pada 16 Desember 2025, harga nikel bahkan jatuh hingga mencapai angka US$ 14.125 per ton. Namun, berkat kebijakan pengendalian ini dan upaya stabilisasi, harga nikel mulai pulih, dan pada 22 Januari 2026 tercatat telah menembus angka US$ 17.000 per ton.
Bahkan, pada 7 Januari 2026, harga nikel sempat mencapai puncaknya di US$ 18.450 per ton.
Tri Winarno menjelaskan bahwa produksi nikel di dalam negeri akan dipertahankan pada angka yang lebih rendah pada tahun 2026 dengan harapan dapat mengurangi tekanan penawaran yang berlebih di pasar global, yang pada gilirannya dapat menjaga harga tetap stabil.
Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga untuk memberikan dampak positif pada perdagangan internasional nikel yang selama ini dipengaruhi oleh ketidakpastian produksi dan konsumsi.
Target Produksi dan Implikasi pada Sektor Tambang
Menurunnya target produksi nikel di Indonesia pada 2026 menjadi 250 hingga 260 juta ton merupakan langkah signifikan yang diambil pemerintah. Kebijakan ini berfokus pada pengendalian jumlah produksi agar tidak terjadi overproduksi yang dapat memengaruhi harga global.
Dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025, target produksi nikel Indonesia sempat dipatok sebanyak 379 juta ton, namun hal ini tidak tercapai.
Namun, meskipun ada penurunan produksi nikel, pemerintah memberi kesempatan kepada perusahaan tambang untuk melanjutkan kegiatan produksinya dengan kuota 25% hingga Maret 2026.
Hal ini diberikan kepada perusahaan yang RKAB-nya belum memperoleh persetujuan, dengan syarat mereka harus memenuhi sejumlah persyaratan administrasi dan regulasi yang berlaku.
Dengan begitu, kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap volume produksi yang terlalu besar dan lebih menekankan pada kualitas produksi yang lebih efisien dan terkendali.
Kondisi Pasar Nikel Global dan Dampaknya pada Harga
Harga nikel dunia, seperti yang tercatat oleh London Metal Exchange (LME), telah menunjukkan pemulihan setelah penurunan tajam pada Desember 2025. Secara historis, harga nikel memiliki volatilitas tinggi yang dipengaruhi oleh permintaan global serta kebijakan produksi dari negara-negara penghasil utama, salah satunya Indonesia.
Dengan adanya kebijakan pengendalian produksi di dalam negeri, diharapkan pasokan nikel global tidak akan terlampau berlebih, sehingga harga dapat kembali stabil pada kisaran US$ 19.000 hingga US$ 20.000 per ton.
Meski harga sempat mengalami penurunan signifikan pada Desember 2025, harapan akan stabilitas harga semakin besar dengan adanya upaya kebijakan pemerintah dan peningkatan konsumsi di sektor-sektor yang membutuhkan nikel, seperti industri kendaraan listrik.
Adanya pengurangan produksi ini juga diharapkan bisa menciptakan kondisi pasar yang lebih seimbang, dengan harga yang lebih menguntungkan bagi produsen dan negara penghasil nikel, tanpa harus mengorbankan daya beli pasar.
Langkah Pemerintah dalam Mendukung Industri Nikel Domestik
Selain kebijakan pengendalian produksi, pemerintah juga terus mendorong agar industri besar dalam negeri lebih banyak menyerap bijih nikel dari perusahaan tambang domestik.
Langkah ini penting untuk menjaga keberlangsungan usaha sektor hulu, sekaligus memperkuat ketahanan industri dalam negeri. Pemerintah berharap agar produsen besar dalam negeri, termasuk pabrikan smelter dan industri hilir, semakin bergantung pada pasokan nikel domestik untuk mendukung ketahanan industri dalam negeri.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga mendorong agar perusahaan-perusahaan besar terus memperkuat kemitraan dengan pengusaha tambang nikel dalam negeri guna menjaga keberlangsungan pasokan dan stabilitas harga. Ini penting untuk menjaga stabilitas sektor hulu yang sangat bergantung pada kestabilan harga dan pasokan bahan baku.
Pemerintah Tetap Optimis dengan Penerimaan Negara dari Sektor Mineral
Walaupun produksi nikel dan batu bara pada 2026 mengalami penurunan, pemerintah tetap optimis dengan target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara yang dipatok sebesar Rp 134 triliun pada 2026.
Target ini lebih tinggi dibandingkan dengan target PNBP 2025 yang sebesar Rp 124,7 triliun, meskipun sektor tambang dihadapkan pada berbagai tantangan terkait stabilitas harga komoditas global.
Penerimaan yang tinggi dari sektor ini diharapkan dapat mendukung pembangunan infrastruktur dan proyek strategis lainnya, sambil memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam yang lebih efisien dan bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, proyeksi stabilitas harga nikel yang diperkirakan akan bertahan pada kisaran US$ 19.000 hingga US$ 20.000 per ton sepanjang 2026 menggambarkan langkah strategis pemerintah dalam mengendalikan produksi untuk menjaga keseimbangan pasar global.
Kebijakan pengendalian ini, meski menyebabkan penurunan target produksi, diharapkan dapat membawa manfaat jangka panjang bagi stabilitas harga dan ketahanan sektor tambang domestik, serta menciptakan kondisi pasar yang lebih menguntungkan bagi Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar nikel di dunia.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Plant-Based Food Jadi Gaya Hidup Modern, Ini Panduan Lengkap Menu Sehat Berbasis Nabati
- Jumat, 23 Januari 2026
Lima Makanan Alami Penguat Imun Tubuh Agar Tidak Mudah Sakit dan Tetap Fit Setiap Hari
- Jumat, 23 Januari 2026
Investasi Kesehatan Lewat Minuman Low Sugar Lezat yang Mudah Dibuat di Rumah
- Jumat, 23 Januari 2026
Americano dan Long Black: Perbedaan Rasa, Teknik Seduh, dan Cerita di Baliknya
- Jumat, 23 Januari 2026












