Peran Batu Bara Dalam Bauran Energi AS Diperkirakan Meningkat Tahun Ini
- Jumat, 23 Januari 2026
JAKARTA - Pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, harga batu bara mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Harga kontrak pengiriman bulan mendatang di pasar ICE Newcastle tercatat sebesar US$ 109,55 per ton, yang menguat 0,18% dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Kenaikan ini terjadi di tengah situasi cuaca buruk yang melanda sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS), yang memicu peningkatan permintaan energi cadangan, khususnya batu bara.
Baca JugaProyek Peternakan Ayam Danantara Dimulai 28 Januari 2026, Fokus Distribusi Pangan
Faktor Penyebab Kenaikan Harga Batu Bara
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi harga batu bara adalah cuaca buruk yang melanda beberapa negara besar pengimpor batu bara, termasuk AS.
Pemerintah AS meminta operator jaringan listrik untuk beralih ke sumber energi cadangan akibat badai musim dingin yang cukup parah. Tanpa sumber energi cadangan, AS terancam mengalami pemadaman listrik massal atau blackout.
Menghadapi kemungkinan tersebut, pemerintah AS memastikan ketersediaan energi cadangan sebesar 35 gigawatt yang siap digunakan untuk menjaga kestabilan pasokan listrik.
Selain gas alam yang masih menjadi sumber utama pembangkit energi di AS dengan kontribusi 40%, batu bara memainkan peran penting meskipun hanya menyumbang sekitar 17% dari total pembangkitan energi di negara tersebut.
Dengan diaktifkannya cadangan batu bara, maka permintaan terhadap komoditas ini meningkat, berimbas pada lonjakan harga batu bara di pasar internasional.
Proyeksi Harga Batu Bara dan Risiko Koreksi
Harga batu bara yang terus meningkat hampir mencapai US$ 110 per ton memicu berbagai spekulasi tentang bagaimana pergerakan harga batu bara pada hari-hari mendatang.
Berdasarkan analisis teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), harga batu bara berada dalam zona bullish, tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang kini mencapai angka 55. Angka ini mengindikasikan bahwa batu bara masih berada dalam posisi yang cenderung bullish.
Namun, meskipun harga tampak menguat, indikator lain menunjukkan bahwa pasar sudah mendekati zona jenuh beli (overbought). Indikator Stochastic RSI 14 hari tercatat pada angka 93, jauh di atas level 80, yang menunjukkan bahwa batu bara bisa saja mengalami koreksi harga dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, meskipun tren harga batu bara terlihat positif, investor harus tetap waspada terhadap kemungkinan penurunan harga dalam jangka pendek.
Analisis Pergerakan Harga Batu Bara untuk Hari Jumat 23 Januari 2026
Untuk perdagangan hari ini, Jumat, 23 Januari 2026, harga batu bara berisiko turun apabila tidak mampu bertahan di atas level pivot point yang terletak di harga US$ 108 per ton.
Jika harga jatuh di bawah level tersebut, komoditas batu bara diperkirakan akan menguji support pertama yang terletak di kisaran harga US$ 107 hingga US$ 106 per ton.
Namun, apabila harga batu bara dapat bertahan di atas level tersebut, kemungkinan harga akan melanjutkan tren positifnya dan menguji resisten di level US$ 110 per ton.
Jika harga mampu menembus resisten tersebut, maka potensi kenaikan lebih lanjut bisa membawa harga batu bara ke rentang harga US$ 111 hingga US$ 117 per ton.
Dengan demikian, pelaku pasar harus memantau pergerakan harga secara cermat untuk menilai kemungkinan terjadinya perubahan harga dalam waktu dekat.
Dinamika Pasokan Batu Bara dan Pengaruh pada Harga
Selain faktor cuaca buruk dan permintaan energi cadangan, kondisi pasokan batu bara juga memengaruhi pergerakan harga komoditas ini. Dalam hal ini, Indonesia sebagai salah satu negara penghasil batu bara terbesar di dunia memainkan peran penting dalam kestabilan harga batu bara global.
Produksi batu bara Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijakan domestik dan permintaan dari pasar internasional.
Meskipun pemerintah Indonesia menetapkan kuota ekspor batu bara yang cukup ketat, permintaan internasional yang tinggi terhadap batu bara Indonesia tetap menjadi faktor penentu dalam kestabilan harga.
Selain itu, Indonesia juga berupaya menjaga pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik, terutama bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama.
Harga Batu Bara dan Dampaknya pada Industri Energi dalam Negeri
Sebagai negara penghasil batu bara terbesar, Indonesia harus cermat dalam mengelola pasokan batu bara, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor. Kebijakan pemerintah untuk mengatur alokasi batu bara sangat penting agar kebutuhan dalam negeri tetap terjamin meskipun harga batu bara global terus berfluktuasi.
Pihak PLN dan perusahaan pembangkit listrik lainnya di Indonesia harus memastikan bahwa pasokan batu bara untuk PLTU tetap stabil, terutama dengan adanya lonjakan harga batu bara di pasar internasional.
Meskipun harga batu bara internasional melonjak, harga batu bara yang digunakan untuk kebutuhan domestik harus tetap terkendali agar tidak menambah beban biaya operasional PLN dan mengurangi dampak pada tarif listrik yang dibayar oleh konsumen.
Proyeksi Jangka Panjang Harga Batu Bara
Seiring dengan peningkatan permintaan energi, baik di negara maju seperti AS maupun negara berkembang, batu bara akan tetap menjadi komoditas yang memiliki peran vital dalam pembangkitan energi.
Meskipun transisi energi terbarukan semakin gencar dilakukan di berbagai negara, batu bara diperkirakan akan tetap memainkan peran penting dalam beberapa tahun ke depan.
Pemerintah Indonesia juga tengah mendorong pengalihan penggunaan energi terbarukan, tetapi transisi ini tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dalam transisi ini, batu bara masih akan berperan sebagai penyedia energi utama, terutama di sektor industri dan pembangkit listrik.
Harga batu bara pada Januari 2026 terus menunjukkan tren positif, dengan harga hampir mencapai US$ 110 per ton. Kenaikan harga ini didorong oleh faktor cuaca buruk dan kebutuhan energi cadangan di berbagai negara, termasuk AS.
Meskipun harga batu bara menunjukkan potensi kenaikan, indikator teknikal menunjukkan adanya potensi koreksi harga dalam waktu dekat, sehingga investor perlu berhati-hati.
Dengan potensi pasar yang besar dan permintaan energi yang terus meningkat, batu bara tetap akan menjadi komoditas yang memiliki daya tarik dalam jangka panjang.
Namun, pergerakan harga yang fluktuatif ini menuntut pelaku pasar untuk selalu memantau perkembangan kondisi pasar global serta kebijakan dalam negeri yang dapat memengaruhi kestabilan pasokan dan harga batu bara.
Pemerintah Indonesia, sebagai negara penghasil batu bara terbesar, juga harus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi domestik dan ekspor batu bara.
Kebijakan yang bijak dan pengelolaan yang tepat terhadap pasokan batu bara akan memainkan peran penting dalam memastikan kestabilan harga dan keberlanjutan sektor energi nasional.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Plant-Based Food Jadi Gaya Hidup Modern, Ini Panduan Lengkap Menu Sehat Berbasis Nabati
- Jumat, 23 Januari 2026
Lima Makanan Alami Penguat Imun Tubuh Agar Tidak Mudah Sakit dan Tetap Fit Setiap Hari
- Jumat, 23 Januari 2026
Investasi Kesehatan Lewat Minuman Low Sugar Lezat yang Mudah Dibuat di Rumah
- Jumat, 23 Januari 2026
Americano dan Long Black: Perbedaan Rasa, Teknik Seduh, dan Cerita di Baliknya
- Jumat, 23 Januari 2026












