Sabtu, 24 Januari 2026

Parlemen Eropa Dorong Penguatan Hak Penumpang Pesawat Terkait Delay Kompensasi Bagasi

Parlemen Eropa Dorong Penguatan Hak Penumpang Pesawat Terkait Delay Kompensasi Bagasi
Parlemen Eropa Dorong Penguatan Hak Penumpang Pesawat Terkait Delay Kompensasi Bagasi

JAKARTA - Dorongan untuk memperkuat perlindungan penumpang pesawat di Eropa kembali menguat setelah pembahasan panjang yang tertunda bertahun-tahun akhirnya menemukan titik terang. 

Di tengah meningkatnya keluhan soal keterlambatan penerbangan dan biaya tambahan bagasi, Parlemen Eropa memilih berdiri di sisi konsumen. Langkah ini dinilai sebagai upaya menyesuaikan aturan penerbangan dengan realitas perjalanan udara modern. Fokus utama perubahan ini mencakup kompensasi delay serta hak membawa bagasi kabin tanpa biaya tambahan.

Keputusan tersebut diambil dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026. Mayoritas anggota parlemen Uni Eropa menyetujui rancangan undang-undang yang telah dibahas lebih dari satu dekade.

Baca Juga

Bahaya Memencet Jerawat di Area Wajah Ini yang Jarang Disadari Banyak Orang

Dari total suara, 632 anggota menyatakan dukungan, sementara 15 lainnya menolak. Dengan persetujuan ini, maskapai diwajibkan memberikan kompensasi finansial atas keterlambatan tiga jam serta mengizinkan penumpang membawa bagasi kabin kecil secara gratis.

Dukungan kuat parlemen setelah penantian panjang

Proses panjang selama hampir 15 tahun menunjukkan betapa alotnya tarik-menarik kepentingan antara industri penerbangan dan pembuat kebijakan. Kelompok konsumen menyambut baik langkah Parlemen Eropa yang dinilai berpihak pada penumpang. Mereka menilai aturan lama tidak lagi relevan dengan kondisi penerbangan saat ini yang semakin padat. Bagi parlemen, revisi ini menjadi simbol keberpihakan pada hak dasar penumpang.

Sebaliknya, maskapai penerbangan justru menyampaikan kekhawatiran serius. Mereka menilai aturan baru berpotensi meningkatkan biaya operasional yang pada akhirnya dibebankan kepada penumpang. Beberapa operator bahkan mengklaim kebijakan ini dapat mendorong risiko kebangkrutan, terutama bagi maskapai dengan margin tipis. Kritik ini membuat proses legislasi berjalan lambat dan penuh tekanan lobi industri.

Perdebatan sengit soal kompensasi keterlambatan

Salah satu isu paling krusial dalam revisi aturan ini adalah ambang batas kompensasi keterlambatan penerbangan. Maskapai penerbangan sebelumnya mengusulkan agar kompensasi baru berlaku setelah lima jam keterlambatan. 

Usulan itu diajukan dengan alasan untuk mencerminkan kendala operasional yang sering kali berada di luar kendali operator. Namun, pandangan tersebut tidak diterima oleh Parlemen Eropa.

Mengutip Euro News, Kamis, anggota parlemen Andrey Novakov (Partai Rakyat Eropa/Bulgaria), yang memimpin pembahasan legislatif di Parlemen, mengatakan bahwa majelis tersebut "bertekad untuk meningkatkan, bukan melemahkan, hak-hak penumpang udara".

"Parlemen siap untuk melanjutkan perjuangan demi aturan yang lebih jelas dan lebih mudah diprediksi untuk maskapai penerbangan dan sektor penerbangan yang lebih kuat, tetapi bukan dengan mengorbankan penumpang," kata Novakov.

Skema kompensasi baru bagi penumpang pesawat

Dalam aturan yang berlaku saat ini, penumpang di Eropa berhak menerima kompensasi antara €250 hingga €600 jika penerbangan dibatalkan atau mengalami keterlambatan lebih dari tiga jam. 

Skema ini akan disesuaikan melalui teks baru yang didukung parlemen. Maskapai diwajibkan membayar kompensasi antara €300 hingga €600, tergantung pada jarak penerbangan. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp5,9 juta hingga Rp11,85 juta.

Bagi Parlemen Eropa, ambang batas keterlambatan tiga jam dianggap tidak dapat dinegosiasikan. Mereka menilai batas tersebut sudah menjadi standar yang dipahami penumpang. Penurunan standar justru dinilai akan melemahkan posisi konsumen. Oleh karena itu, parlemen memilih mempertahankan prinsip lama dengan penyesuaian nominal kompensasi.

Aturan baru bagasi kabin yang lebih jelas

Selain kompensasi, aturan mengenai bagasi kabin juga menjadi sorotan utama. Proposal baru menghapus biaya tambahan untuk bagasi kabin tertentu. 

Penumpang berhak membawa satu barang pribadi gratis dengan ukuran 40cm x 30cm x 15cm, serta satu koper kecil beroda dengan dimensi total maksimum 100cm dan berat hingga 7 kilogram. Kebijakan ini diharapkan memberikan kepastian dan transparansi bagi penumpang.

Meskipun maskapai berbiaya rendah diperkirakan paling terdampak, sebagian besar maskapai komersial sebenarnya telah menyediakan fasilitas ini. 

Ourania Georgoutsakou, direktur pelaksana Airlines4Europe (A4E), menegaskan pentingnya kesederhanaan aturan.
"Aturan bagasi harus sederhana dan transparan, itulah sebabnya kami secara proaktif mengadopsi dimensi minimum standar yang disepakati oleh negara-negara anggota pada bulan Juni," katanya.

Namun, Georgoutsakou juga mengkritik pendekatan parlemen terhadap kompensasi. "Berpegang pada aturan lama tentang kompensasi ketika keterlambatan telah meningkat sebesar 114 persen dalam 15 tahun terakhir karena faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh maskapai penerbangan tidak membantu penumpang sampai ke tujuan mereka lebih cepat."

Keberatan keras maskapai penerbangan regional

Penolakan paling keras datang dari maskapai penerbangan regional. Mereka menilai keputusan tersebut berisiko memengaruhi bisnis secara tidak proporsional. Menurut mereka, kebijakan ini gagal mencerminkan kondisi operasional spesifik penerbangan regional yang sering melayani rute terbatas. Dampaknya dinilai bisa mengancam keberlangsungan layanan di daerah terpencil.

Montserrat Barriga, Direktur Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Regional Eropa (ERA), menyampaikan keberatan tersebut. Ia menolak anggapan bahwa maskapai regional menentang hak penumpang.

"Maskapai penerbangan regional berisiko menjadi sasaran tarik-menarik politik," kata Barriga. "Anggota ERA mengoperasikan lebih dari 1.000 rute unik, seringkali tanpa moda transportasi alternatif yang layak."

Barriga juga mengingatkan dampak lanjutan dari kompensasi yang terlalu tinggi.
“Ketika kompensasi dapat mencapai dua hingga tiga kali harga tiket, hasilnya bukanlah hak penumpang yang lebih kuat tetapi lebih sedikit jalur udara penting bagi penduduk pulau, daerah terpencil, dan komuter yang bergantung pada layanan ini.”

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Alasan Tekstur Makanan Basah Kucing Berserat Justru Lebih Sehat dan Bernutrisi Tinggi

Alasan Tekstur Makanan Basah Kucing Berserat Justru Lebih Sehat dan Bernutrisi Tinggi

Cara Cerdas Menikmati Nasi Putih Tanpa Takut Gula Darah Naik Drastis

Cara Cerdas Menikmati Nasi Putih Tanpa Takut Gula Darah Naik Drastis

Waspada Salah Kombinasi Buah, Ini Aturan Aman Konsumsi Agar Pencernaan Tetap Sehat

Waspada Salah Kombinasi Buah, Ini Aturan Aman Konsumsi Agar Pencernaan Tetap Sehat

16 Oleh-Oleh Khas Okinawa yang Wajib Dibawa Pulang Saat Liburan ke Jepang

16 Oleh-Oleh Khas Okinawa yang Wajib Dibawa Pulang Saat Liburan ke Jepang

11 Kuliner Khas Kudus yang Wajib Dicicipi Saat Liburan Santai di Jawa Tengah

11 Kuliner Khas Kudus yang Wajib Dicicipi Saat Liburan Santai di Jawa Tengah