Kamis, 22 Januari 2026

Harga Minyak Mentah Global Tertekan Akibat Geopolitik Dan Tekanan Pasokan Dunia

Harga Minyak Mentah Global Tertekan Akibat Geopolitik Dan Tekanan Pasokan Dunia
Harga Minyak Mentah Global Tertekan Akibat Geopolitik Dan Tekanan Pasokan Dunia

JAKARTA - Tekanan terhadap harga minyak mentah global kembali terlihat pada perdagangan pertengahan pekan, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap dinamika geopolitik dan prospek ekonomi global. 

Pergerakan harga ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan internasional yang memengaruhi sentimen investor, khususnya di sektor energi yang sangat sensitif terhadap isu politik dan pasokan.

Pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis WIB, harga minyak mentah dunia bergerak melemah. Penurunan ini menandai kehati-hatian pasar dalam merespons perkembangan global yang dinilai berpotensi menekan permintaan energi. Investor cenderung bersikap defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan negara-negara besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perdagangan minyak dunia.

Baca Juga

Update Terbaru Harga BBM Pertamina 22 Januari 2026: Stabil di Seluruh SPBU Indonesia

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor non-fundamental seperti geopolitik dan kebijakan perdagangan masih menjadi penentu utama arah harga minyak, meskipun beberapa gangguan pasokan sempat memberikan penahan tekanan dalam jangka pendek.

Pergerakan Harga Minyak Brent Dan WTI

Mengutip Yahoo Finance, Kamis, 22 Januari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka tercatat turun hampir 0,9 persen menjadi USD64,35 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI berjangka juga mengalami penurunan sebesar 0,8 persen ke level USD59,86 per barel.

Penurunan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek permintaan minyak di tengah ketegangan global yang meningkat. Investor menilai bahwa potensi perlambatan ekonomi akibat konflik dan kebijakan proteksionis dapat berdampak langsung pada konsumsi energi, khususnya di negara-negara maju.

Selain itu, pelemahan harga terjadi meskipun tidak ada gangguan besar pada pasokan global secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor risiko ke depan dibandingkan kondisi pasokan jangka pendek.

Geopolitik Jadi Sorotan Pelaku Pasar

Analis ekuitas senior di Hargreaves Lansdown, Matt Britzman, menilai bahwa kebisingan geopolitik kembali menjadi fokus utama pasar. Ia menyebut berbagai isu mulai dari ancaman tarif baru terhadap Eropa hingga penegakan sanksi yang lebih ketat terhadap Venezuela sebagai faktor yang membebani harga minyak.

Ekspektasi peningkatan persediaan minyak mentah dan bensin di Amerika Serikat juga menambah tekanan lanjutan. Data persediaan yang berpotensi naik sering kali diartikan pasar sebagai sinyal melemahnya permintaan atau kelebihan pasokan, sehingga mendorong harga bergerak turun.

“Gangguan pasokan sementara di Kazakhstan memberikan sedikit kompensasi, tetapi karena gangguan tersebut kemungkinan hanya berlangsung singkat, keseimbangan risiko untuk minyak tetap condong ke arah penurunan untuk saat ini,” terang Britzman.

Gangguan Pasokan Belum Cukup Menahan Tekanan

Gangguan pasokan di beberapa wilayah produsen minyak memang sempat memberikan harapan akan tertahannya penurunan harga. Namun, pasar menilai dampak gangguan tersebut bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk mengubah tren secara keseluruhan.

Kazakhstan, yang sempat mengalami gangguan distribusi, dinilai mampu memulihkan pasokan dalam waktu relatif singkat. Dengan demikian, efek positif terhadap harga minyak pun menjadi terbatas dan tidak berkelanjutan.

Kondisi ini mempertegas bahwa pasar saat ini lebih fokus pada potensi kelebihan pasokan global, terutama jika permintaan tidak tumbuh sesuai harapan akibat tekanan ekonomi dan geopolitik yang terus berlanjut.

Ancaman Tarif Trump Picu Kepanikan Pasar

Di sisi lain, pasar juga dikejutkan oleh ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengenakan tarif terhadap sejumlah negara Uni Eropa. Ancaman tersebut terkait dengan sikap negara-negara Eropa terhadap isu Greenland, yang memicu kepanikan dan aksi jual besar-besaran pada aset Amerika Serikat.

Namun, situasi sempat mereda setelah komentar Trump di Davos yang menyatakan bahwa ia telah mengesampingkan tindakan militer di pulau utara tersebut. Pernyataan ini memberikan sedikit kelegaan bagi investor yang sebelumnya khawatir konflik akan meningkat.

Sebelumnya, Trump berjanji menerapkan gelombang peningkatan tarif mulai 1 Februari terhadap anggota Uni Eropa seperti Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Finlandia, bersama Inggris dan Norwegia, hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland.

Respons Uni Eropa Dan Ketidakpastian Lanjutan

Langkah Trump tersebut menuai kecaman keras dari negara-negara besar Uni Eropa yang menilainya sebagai bentuk pemerasan. Ancaman tarif dinilai berpotensi merusak hubungan dagang dan memperburuk ketidakpastian ekonomi global yang sudah rapuh.

Trump tidak memberikan detail apa pun dalam unggahan di Truth Social terkait kerangka kerja kesepakatan masa depan dengan NATO. Meski demikian, ia menyatakan bahwa sebagai hasil dari sikap tersebut, ia tidak akan memberlakukan tarif yang sebelumnya diancamkan.

Meski ada sedikit kelegaan, para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan melanjutkan pertemuan darurat pada Kamis waktu setempat untuk membahas opsi lanjutan. Situasi ini membuat pasar minyak tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian, sehingga tekanan terhadap harga minyak mentah global diperkirakan masih akan berlanjut.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Rincian Tarif Listrik PLN Minggu Ini: Stabil untuk Rumah Tangga, Bisnis, dan Industri

Rincian Tarif Listrik PLN Minggu Ini: Stabil untuk Rumah Tangga, Bisnis, dan Industri

Harga Minyak Sawit Menguat Signifikan Didorong Permintaan Musiman Tinggi

Harga Minyak Sawit Menguat Signifikan Didorong Permintaan Musiman Tinggi

Harga Batu Bara Global Menguat Signifikan Didorong Permintaan dan Gangguan Produksi

Harga Batu Bara Global Menguat Signifikan Didorong Permintaan dan Gangguan Produksi

PGN Catat Lonjakan Penyaluran Gas Bumi Selama Periode Natal dan Tahun Baru 2026

PGN Catat Lonjakan Penyaluran Gas Bumi Selama Periode Natal dan Tahun Baru 2026

Saham PGEO Diprediksi Terus Menguat, Peluang Imbal Hasil Hampir 40 Persen

Saham PGEO Diprediksi Terus Menguat, Peluang Imbal Hasil Hampir 40 Persen