Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Bergerak Menguat

Storage minyak di AS./dok. Bloomberg
Penulis: Ibtihal
Jumat, 10 Juli 2026 | 14:14:29 WIB

JAKARTA - Nilai komoditas minyak mentah global terpantau mengalami apresiasi tipis pada sesi transaksi Jumat (10/7/2026), walau begitu posisinya secara mingguan tetap bertahan dalam koridor penguatan yang lumayan kokoh. 

Merujuk pada data Refinitiv tepat pukul 10.00 WIB, nilai minyak jenis Brent untuk kontrak September (LCOc1) bertengger pada level US76,56perbarel,aliasterangkat0,3476,30 per barel.

Di lain pihak, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk serahan Agustus (CLc1) ditransaksikan pada harga US72,34perbarel,ataumenguat0,3672,08 per barel.

Apabila ditinjau dalam skala mingguan, tren kenaikan harga minyak masih konsisten terjaga. Jenis Brent tercatat sudah melesat kisaran 6% dari posisi permulaan pekan, sementara untuk varian WTI menanjak sekitar 5%. 

Lonjakan ini terjadi pasca nilai minyak mentah sempat terperosok hingga menyentuh area US72perbareluntukjenisBrentdanUS68 per barel untuk tipe WTI pada awal Juli.

Fluktuasi nilai jual komoditas ini masih digerakkan secara masif oleh dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Laporan dari Reuters menunjukkan bahwa tensi hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pasca jajaran militer Iran meluncurkan aksi ofensif yang menyasar sarana infrastruktur militer milik AS di wilayah negara-negara Teluk pada Kamis (9/7/2026). 

Langkah serangan tersebut dilancarkan sebagai bentuk respons balasan atas operasi militer yang digalang AS terhadap sektor pesisir selatan serta provinsi timur wilayah Iran.

Kondisi di lapangan kian pelik lantaran peristiwa gesekan tersebut meletus di tengah masa gencatan senjata yang sejatinya baru bergulir sekitar tiga minggu. 

Berbagai saluran media Iran turut mewartakan adanya deretan getaran ledakan di area selatan negara terkait, termasuk di kawasan Bushehr yang bertindak sebagai basis salah satu fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir milik Iran.

Perselisihan yang belum sepenuhnya mereda ini ikut menghambat proses pembukaan kembali Selat Hormuz secara menyeluruh. 

Koridor jalur laut ini dikenal sebagai salah satu titik paling krusial bagi kelancaran sirkulasi pasar energi internasional. Sebelum pecahnya konflik bersenjata, berkisar 20% dari total pasokan minyak dan gas bumi global didistribusikan melintasi selat tersebut. 

Oleh karena itu, setiap hambatan operasional di wilayah ini otomatis menyulut kecemasan kolektif terkait jaminan ketersediaan pasokan energi dunia.

Kendati demikian, situasi pasar sedikit memperoleh angin segar pasca jajaran pemerintahan di bawah Presiden Donald Trump memilih untuk tidak menggempur fasilitas infrastruktur energi milik Iran.

Analis komoditas senior dari ANZ, Daniel Hynes, memaparkan bahwa langkah kebijakan tersebut sukses mengikis kecemasan kolektif akan potensi macetnya pasokan minyak dalam skala masif. 

Sentimen positif itu kian diperkuat oleh pernyataan dari Trump yang memberikan penilaian bahwa friksi tersebut tidak akan bergulir menjadi perang terbuka yang menyeluruh, dan andaikata timbul eskalasi lanjutan, dampaknya diprediksi hanya akan bergulir dalam durasi yang singkat.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai mengalkulasi potensi risiko melambatnya angka permintaan energi. 

Di internal Amerika Serikat, kuantitas pengajuan tunjangan pengangguran terpantau menyusut pada pekan lalu, yang mengindikasikan struktur pasar tenaga kerja di sana masih cukup tangguh sekalipun intensitas penyerapan pegawai mulai melandai. 

Dinamika ini menjaga prediksi bahwa roda aktivitas ekonomi AS belum masuk dalam fase penurunan yang drastis.

Sementara itu di China, laju inflasi pada tingkat produsen (producer price inflation) untuk periode Juni melesat menuju posisi tertingginya dalam jangka waktu empat tahun ke belakang.

Membubungnya ongkos pada level produsen ini memperberat beban margin keuntungan jajaran korporasi manufaktur, di kala tingkat permintaan pasar domestik masih lesu serta kapasitas para pelaku bisnis untuk mengatrol harga jual akhir terhitung terbatas.

Kombinasi situasi tersebut menjadi salah satu elemen yang menahan ruang gerak penguatan nilai minyak dunia, mengingat China memegang status sebagai negara konsumen minyak terbesar kedua di kancah global setelah AS.

Reporter: Ibtihal