Harga Minyak Dunia Jatuh 2 Persen di Tengah Isu Inflasi dan Ekonomi

Ilustrasi kapal tanker. (Foto: PIXABAY)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 10 Juli 2026 | 09:31:55 WIB

NEW YORK – Nilai jual minyak global ditutup merosot kisaran 2% pada sesi perdagangan Kamis (9/7/2026). 

Penurunan ini dipicu oleh kecemasan terkait lonjakan inflasi serta kelesuan ekonomi dunia yang berpotensi memangkas tingkat penyerapan energi, walau ancaman tersendatnya pasokan masih membayangi seiring perselisihan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Melansir dari Reuters, nilai minyak Brent untuk kontrak terdekat anjlok sebesar US$ 1,72 (2,2%) menuju angka US$ 76,30 per barel. 

Di waktu yang sama, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menyusut sebesar US$ 1,44 (2%) ke level US$ 72,08 per barel.

Padahal pada hari sebelumnya, Brent sempat mendarat di level tertingginya sejak 19 Juni, sedangkan WTI mengamankan posisi tertingginya sejak 22 Juni. 

Meninjau aspek geopolitik, angkatan bersenjata Iran mengeksekusi gempuran ke fasilitas militer AS di kawasan negara-negara Teluk setelah Washington membombardir area tepi pantai selatan dan provinsi bagian timur Iran. 

Situasi ini kian menyudutkan kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya baru berjalan kurang lebih tiga pekan.

Ketegangan tersebut juga menghalangi operasional penuh Selat Hormuz, sebuah rute krusial yang sebelum masa perang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global. 

Global Energy Strategist Macquarie Group Vikas Dwivedi memproyeksikan gesekan terbaru di Timur Tengah ini tidak akan bergulir dalam waktu lama lantaran kedua belah pihak terbentur oleh batasan ekonomi serta politik. 

"Kami memperkirakan ketegangan baru antara AS dan Iran akan relatif singkat karena kedua negara dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik," ujar Dwivedi dalam risetnya.

Qatar, yang selama ini aktif memposisikan diri sebagai penengah antara Washington dan Teheran, mengecam aksi penyerangan ke kapal-kapal niaga sekaligus meminta kedua belah pihak kembali mengambil opsi diplomasi. 

Menteri luar negeri Turki dan Oman pun menyuarakan hal senada agar eskalasi kekuatan militer tidak kian membesar. 

Director of Energy Futures Mizuho Bob Yawger menilai, Iran tampaknya mulai menjajaki metode untuk meredakan perselisihan dan membuka peluang kembali berdiskusi. 

"Setelah dua hari serangan, Iran tampaknya berupaya mengurangi permusuhan dan kemungkinan kembali bernegosiasi," katanya.

Berdasarkan kalkulasi Goldman Sachs, volume distribusi minyak dari Teluk Persia sempat membaik hingga melampaui 80% dari level normal pada 10 hari pertama pasca pembukaan kembali Selat Hormuz. 

Kendati demikian, persentase tersebut menyusut lagi ke kisaran 70% setelah terjadinya gempuran terbaru terhadap kapal-kapal tanker. 

Di AS, angka permohonan kompensasi pengangguran mingguan mengalami penurunan, mempertegas sentimen bahwa sektor lapangan kerja masih relatif kuat kendati aktivitas perekrutan bergerak lambat.

Dokumen hasil pertemuan The Fed pada Juni mengindikasikan bahwa kekhawatiran otoritas moneter terhadap inflasi kian menebal, walaupun mereka memprediksi situasi sektor tenaga kerja akan tetap kokoh dalam jangka pendek. 

Presiden The Fed New York John Williams menyatakan bahwa ia tidak mengira lonjakan harga energi bakal bertahan lama, sekalipun pergolakan di Timur Tengah masih terus bergulir. 

Kebijakan pengetatan suku bunga yang dieksekusi The Fed demi meredam laju inflasi memiliki risiko memperlambat derap roda ekonomi, yang kelak dapat menekan volume kebutuhan minyak.

Sementara itu di China, indeks harga produsen (PPI) untuk bulan Juni melesat ke level tertingginya dalam periode empat tahun terakhir. 

Fenomena ini memperberat beban margin keuntungan pada sektor industri manufaktur di tengah masih lesunya tingkat permintaan domestik. 

Di belahan Eropa, pihak militer Ukraina mengklaim telah sukses menggempur belasan kapal tanker kepunyaan Rusia di Laut Azov, sebagai bagian dari skenario mengacaukan jalur logistik bahan bakar Rusia sekaligus mengisolasi area Krimea yang dicaplok oleh Moskow.

Pelaku pasar juga tetap memperhatikan dinamika perang Ukraina. Titik terang penyelesaian sanksi konflik tersebut berpotensi membuka jalan bagi dicabutnya sebagian sanksi atas Rusia, yang berujung pada kesempatan bagi Moskow untuk menggenjot keran ekspor minyaknya.

 Pada 2025, Rusia menempati posisi sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia di bawah posisi AS dan Arab Saudi.

Reporter: Ibtihal