Emas Dunia Jatuh di Tengah Ketegangan Timur Tengah yang Memuncak

Ilustrasi Emas (Dok. Pexel)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 08 Juli 2026 | 09:20:43 WIB

NEW YORK – Nilai komoditas emas dunia ditutup merosot tajam pada sesi perdagangan Selasa (7/7/2026) waktu setempat seiring terapresiasinya harga minyak akibat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. 

Para pelaku pasar juga tengah mengantisipasi rilis nota rapat kebijakan terbaru bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang diproyeksikan bakal memberikan indikasi mengenai proyeksi suku bunga mendatang.

Harga emas spot ditutup jatuh 1,43% menuju level US$ 4.105,7 per ons troi. Di saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk periode pengiriman Agustus ditutup terpangkas 1,22% ke angka US$ 4.116,7 per ons troi.

Satu hari sebelumnya, emas sempat menyentuh titik tertinggi dalam dua pekan setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih rendah dari prediksi menumbuhkan asumsi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.

Kendati begitu, Wakil Presiden sekaligus Senior Metal Strategist Zaner Metals Peter Grant berpandangan bahwa prioritas utama The Fed masih tetap tertuju pada langkah meredam laju inflasi.

"Saya pikir kenyataannya mulai terlihat bahwa The Fed masih sangat fokus mengendalikan inflasi. Karena itu, skenario suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama masih menjadi yang paling mungkin," ujar Grant dikutip dari Reuters.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, para pelaku pasar masih memperkirakan probabilitas berkisar 60% bahwa The Fed bakal kembali mengerek tingkat suku bunga pada September mendatang.

Fokus para penanam modal kini terarah pada risalah rapat kebijakan moneter The Fed edisi Juni yang dijadwalkan meluncur pada Rabu (8/7/2026) waktu setempat. 

Dokumen cetak biru itu diproyeksikan memberikan indikasi yang lebih gamblang mengenai perspektif para petinggi bank sentral terkait inflasi dan proyeksi kebijakan ke depan.

Di sudut lain, pergolakan di Timur Tengah kembali bergejolak setelah dua kapal tanker mendapati serangan di Selat Hormuz. 

Pihak Iran pun menegaskan tidak akan meneruskan negosiasi perdamaian sebelum Presiden AS Donald Trump menyudahi gertakan untuk kembali menyulut perang.

Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak dan menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi akibat potensi meroketnya harga energi. 

Realitas ini menjadi katalis negatif bagi pergerakan emas lantaran tren suku bunga tinggi berpotensi menekan daya pikat aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (yield).

Sementara itu, bank sentral China dilaporkan terus melanjutkan penambahan cadangan emas mereka untuk bulan ke-20 berturut-turut. 

Hingga pengujung Juni, akumulasi cadangan emas negara tersebut melonjak menjadi 75,44 juta ons troi, jika disandingkan dengan posisi 74,96 juta ons troi pada akhir Mei.

Di kawasan Asia, Hong Kong turut meresmikan sistem kliring terpusat demi aktivitas perdagangan emas sekaligus mengaktifkan kembali transaksi kontrak berjangka emas, sebagai langkah strategis memperkokoh reputasinya sebagai episentrum perdagangan logam mulia regional.

Adapun untuk pergerakan logam mulia lainnya, harga perak spot ambles 3,37% ke posisi US$ 59,96 per ons troi dan paladium terkoreksi 0,46% menjadi US$ 1.266,95 per ons troi. Berbanding terbalik, platinum justru merangkak naik 0,57% menuju level US$ 1.643,65 per ons troi.

Reporter: Ibtihal