Cabai Rawit Merah Rp62.100/ Kg, Cek Harga Pangan Hari Ini

Ilustrasi Cabai rawit merah. (Foto: ist)
Penulis: Ibtihal
Senin, 06 Juli 2026 | 14:54:01 WIB

JAKARTA - Nilai komoditas pangan seperti cabai rawit merah kedapatan menyentuh angka Rp 62.100 per kilogram (kg) pada Senin pagi, (6/7/2026) pukul 09.30 WIT. 

Sementara itu, untuk telur ayam ras harganya mencapai level Rp 29.250 per kilogram.

Hal tersebut merujuk pada pembaruan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang diambil laporannya di Merauke, Papua Selatan, Senin pagi.

Di samping itu, PIHPS turut mencatat nilai jual cabai merah besar berada di angka Rp 50.500 per kg. Untuk cabai merah keriting dipatok Rp 50.900 per kg, serta cabai rawit hijau dipasarkan senilai Rp 49.750 per kg, demikian mengutip Antara.

Nilai pangan lainnya pada lingkup pedagang eceran dalam skala nasional yakni bawang merah dipasang seharga Rp 47.800 per kg dan bawang putih senilai Rp 44.100 per kg.

Berikutnya, beras kualitas bawah I dihargai Rp 14.700 per kg, beras kualitas bawah II senilai Rp 14.500 per kg. Di sisi lain, beras kualitas medium I dipasarkan Rp 16.350 per kg, dan beras kualitas medium II dipatok di angka Rp 16.150 per kg.

Selanjutnya, beras kualitas super I dijual dengan harga Rp 17.650 per kg, dan beras kualitas super II senilai Rp 17.100 per kg.

Kemudian untuk daging ayam ras segar dipasang senilai Rp 36.600 per kg, daging sapi kualitas I sebesar Rp 150.250 per kg, serta daging sapi kualitas II bertengger di harga Rp 141.500 per kg.

Nilai untuk bahan pokok berikutnya yaitu gula pasir kualitas premium terdata senilai Rp 20.250 per kg, dan gula pasir lokal sebesar Rp 19.050 per kg.

Sementara itu, untuk minyak goreng curah dipatok di angka Rp 20.600 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I dipasarkan senilai Rp 24.250 per liter, dan minyak goreng kemasan bermerek II berada di harga Rp 23.400 per liter.

Purbaya: Inflasi Juni 2026 Dipicu Harga BBM dan Pangan

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan bahwa inflasi Indonesia untuk periode Juni 2026 menyentuh level 3,34 persen. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan bahwa jepitan inflasi di dalam negeri pada Juni 2026 ini bakal berangsur melandai dalam jangka waktu beberapa bulan mendatang.

Rasa percaya diri tersebut dilandasi oleh faktor penambah harga yang untuk waktu sekarang lebih didorong oleh kelompok komoditas fluktuatif, contohnya bahan bakar minyak (BBM) serta aneka jenis bahan pangan, bukan dipicu oleh ledakan kapasitas permintaan dari konsumen.

Menurut pandangan Purbaya, nilai barang yang terimbas faktor musiman pada masa mendatang pasti bakal kembali ke posisi normal. Terlebih, nilai minyak di kancah global saat ini mulai memperlihatkan tren penurunan yang diproyeksikan bakal diikuti oleh penyesuaian nilai jual BBM nonsubsidi di area domestik.

"Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," kata Purbaya dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia pun menegaskan bahwa situasi inflasi untuk saat ini belum mengindikasikan adanya tingkat belanja masyarakat yang kelewat tinggi. Kondisi tersebut tercermin dari angka inflasi inti (core inflation) yang nyatanya masih berada di posisi yang cukup konstan.

"Basically gitu, kami liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujarnya.

Kenaikan Harga Hanya Sementara

Purbaya berpendapat, konstan-nya angka inflasi inti menjadi petunjuk jika kenaikan harga yang berlangsung saat ini sekadar bersifat temporer dan bukan dipicu dari aspek permintaan.

"Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat," kata Purbaya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 menyentuh level 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Berdasarkan basis bulanan (month-to-month/mtm), angka inflasi terdata di level 0,44 persen.

Sektor transportasi menjadi pendorong inflasi bulanan paling besar dengan rasio inflasi 2,29 persen serta menyumbang andil sebesar 0,28 persen bagi inflasi secara nasional.

Lonjakan harga bensin menjadi faktor kontributor utama dalam sektor tersebut dengan sumbangsih 0,21 persen, diikuti oleh tarif penerbangan udara sebesar 0,05 persen serta cairan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.

Kelompok Makanan dan Minuman

Bukan hanya dari aspek transportasi, sektor makanan, minuman, beserta tembakau turut andil mendorong lonjakan inflasi pada periode Juni 2026.

Pihak BPS mendata kelompok ini mengalami inflasi di angka 0,20 persen dengan andil sebesar 0,06 persen bagi inflasi di tingkat nasional.

Sejumlah komoditas pangan yang menyumbangkan andil paling besar bagi inflasi di antaranya yakni bawang merah sebesar 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, dan beras sebesar 0,02 persen.

Di sisi lain, untuk inflasi inti pada Juni 2026 tercatat berada di level 0,23 persen secara bulanan serta 2,76 persen secara tahunan.

Besaran angka tersebut selaras dengan pandangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai jepitan inflasi saat ini masih dalam batas aman. 

Lewat kondisi inflasi inti yang bergeming stabil, pihak otoritas berharap kenaikan harga akibat aspek musiman, layaknya BBM serta komoditas pangan, bakal perlahan menurun sehingga ritme inflasi nasional dapat bergulir lebih aman dalam jangka beberapa bulan ke depan.

Reporter: Ibtihal