Dampak Bansos & MBG ke Saham Konsumer: Mengintip Prospek ICBP hingga MYOR

Konsumen berbelanja di pusat perbelanjaan. (Foto: KONTAN)
Penulis: Ibtihal
Senin, 06 Juli 2026 | 14:28:47 WIB

JAKARTA — Sejumlah stimulus dari pemerintah berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial (bansos), serta subsidi energi dinilai tetap menjadi pendorong utama bagi aktivitas konsumsi rumah tangga. 

Memanfaatkan situasi tersebut, Sinarmas Sekuritas menentukan saham-saham di sektor konsumer yang dianggap mempunyai prospek paling menjanjikan. 

Equity Research Analyst Sinarmas Sekuritas Vita Lestari berpendapat bahwa konsumsi domestik hingga kini masih tergolong kuat walaupun situasi ekonomi makro masih didera berbagai tantangan. 

Akan tetapi, menurut pandangannya, situasi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kapasitas permintaan riil masyarakat. 

"Permintaan masyarakat sebenarnya belum sekuat yang terlihat pada indikator utama. Pertumbuhan upah riil masih terbatas, pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan masih menekan daya beli rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah," tulisnya dalam laporan riset yang dikutip Minggu (5/7/2026). 

Vita memaparkan bahwa para konsumen tetap memperlihatkan perilaku yang sangat peka terhadap perubahan harga. 

Hal tersebut terlihat dari maraknya langkah promosi yang dilakukan oleh para produsen, tingginya tren masyarakat yang beralih ke produk dengan harga lebih murah (downtrading), hingga melonjaknya permintaan terhadap produk kemasan kecil yang harganya lebih ramah di kantong. 

Menurut dirinya, konsumsi rumah tangga pada masa sekarang ini juga masih disokong oleh aneka regulasi pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, subsidi energi, sampai penangguhan beberapa kebijakan yang berisiko memicu inflasi.

Aneka stimulus tersebut dipandang sukses memelihara roda konsumsi. Namun di sisi lain, situasi ini membikin tingkat permintaan dari sektor swasta menjadi semakin sukar untuk ditakar secara riil. 

"Ketahanan konsumsi saat ini masih banyak ditopang oleh kebijakan pemerintah, bukan karena daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya," tambahnya. 

Sinarmas Sekuritas turut menyoroti data penjualan ritel yang memperlihatkan bahwa aktivitas belanja masih sangat bergantung pada momentum musiman. 

Usai tumbuh sebesar 3,4% secara tahunan pada bulan Maret 2026 karena imbas Ramadan dan Idulfitri, penjualan ritel justru merosot 3,7% pada bulan April 2026. 

Berdasarkan basis bulanan, angka penjualan juga mengalami koreksi sebesar 11,6% sesudah sempat melonjak hingga 10,3% pada bulan sebelumnya. 

Walaupun penurunan itu merupakan bentuk normalisasi setelah masa Lebaran, data tersebut mengindikasikan bahwa belanja masyarakat masih sangat disetir oleh faktor musiman serta sokongan regulasi pemerintah. 

Secara garis besar, Sinarmas Sekuritas berpandangan bahwa pemulihan konsumsi masih berjalan terpusat pada barang kebutuhan pokok serta produk berharga miring. 

Pemulihan pendapatan rumah tangga yang lebih kokoh masih sangat diperlukan agar belanja masyarakat dapat merambah ke sektor nonprimer. Dalam situasi seperti ini, korporasi yang mempunyai porsi besar pada produk kebutuhan pokok dinilai berada dalam posisi yang paling diuntungkan. Vita tetap mempertahankan sikap yang seimbang (balanced) terhadap sektor konsumer di Indonesia. 

Menurutnya, pelaku pasar saat ini terlalu terpaku pada lesunya konsumsi dalam jangka pendek, sementara perbaikan kualitas laba bersih emiten mulai nampak seiring melandainya harga bahan baku. 

Lewat valuasi saham yang dinilai masih menarik serta prospek margin yang kian positif, ia menyarankan saham-saham konsumer yang dianggap paling berpeluang meraup berkah dari pulihnya permintaan dan kenaikan profitabilitas.

Target Harga Emiten Konsumer

Beberapa saham yang menjadi pilihan utama meliputi PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) dengan rekomendasi BUY serta target harga Rp5.500, diikuti oleh PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) dengan rekomendasi BUY menuju target harga Rp2.200. Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) juga masuk ke dalam jajaran rekomendasi BUY dengan target harga di level Rp7.900. 

Sementara itu, untuk saham konsumer lainnya yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) direkomendasikan ADD dengan target harga Rp7.500, selanjutnya PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) juga mendapat rekomendasi ADD dengan target harga Rp2.000, serta PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) yang posisinya masih Neutral dengan target harga di angka Rp400. 

Vita menganggap INDF dan ICBP tetap mempunyai prospek yang kuat lantaran menawarkan produk dengan harga yang terjangkau, menguasai pangsa pasar yang kokoh, serta ditopang oleh rantai distribusi yang luas. 

Di samping itu, CMRY dinilai sanggup untuk terus memperlebar pangsa pasarnya berkat modal kekuatan merek, taktik pemasaran yang mumpuni, serta fokus menyasar konsumen kelas menengah. Untuk MYOR, kinerjanya masih disokong oleh portofolio varian produk yang beragam serta merek yang kuat di sektor makanan dan minuman. 

Melandainya harga bahan baku juga diproyeksikan akan semakin memperkuat margin keuntungan korporasi tersebut. UNVR sendiri mulai memperlihatkan indikasi perbaikan operasional lewat langkah simplifikasi portofolio produk serta peningkatan eksekusi bisnis. 

Sementara itu, SIDO tetap dinilai sebagai saham defensif lantaran permintaan terhadap produk kesehatan dan herbal tergolong stabil dalam berbagai situasi ekonomi.

Reporter: Ibtihal