BIPI Gandeng Bakrie dan Tommy Garap Energi Hijau, Saham Target Rp 300

Kawasan infrastruktur energi milik BIPI. (Foto: Istimewa)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 26 Mei 2026 | 12:17:22 WIB

JAKARTA – PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) sukses keluar sebagai pemenang dalam pelaksanaan tender proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy/WtE) gelombang kedua Danantara lewat perantara Konsorsium Mentari Citra Lestari. 

Perusahaan mengantongi sokongan penuh dari Grup Bakrie melalui PT Bakrie Capital Indonesia yang menggelontorkan kucuran investasi dengan nominal fantastis menyentuh Rp1,06 triliun demi mempertebal porsi kepemilikan saham hingga bertengger di angka 6,73%.

Corporate Secretary BIPI, Kurniawati Budiman menerangkan bahwa langkah strategis tersebut dieksekusi sebagai bagian dari draf rencana perseroan dalam memperkokoh portofolio investasi pada sektor energi hijau yang menyokong pertumbuhan bisnis energi berkelanjutan. 

Pasokan likuiditas segar serta keberhasilan mengamankan tender bergengsi dari Danantara ini bertindak sebagai pilar utama bagi perusahaan dalam mengejar target yang ambisius, yakni memindahkan 50% porsi sumber pendapatan ke segmen non-batu bara dalam jangka waktu tiga tahun mendatang.

“Ini untuk mendongkrak kembali kinerja fundamental keuangan korporasi yang sempat mengalami tekanan,” kata dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (25/5/2026).

Kemitraan taktis yang dibangun BIPI terpantau semakin melebar pasca perusahaan secara resmi merekatkan tali kerja sama dengan Grup Humpuss kepunyaan Tommy Soeharto. 

Langkah korporasi ini ditandai dengan prosesi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) guna bersama-sama mengeksekusi lima proyek energi berkelanjutan dengan perkiraan alokasi anggaran belanja modal menembus angka US$1,5 miliar.

Kolaborasi kuat ini bakal dipusatkan pada pengerjaan proyek-proyek masa depan, meliputi infrastruktur pembangkit listrik panas bumi (geothermal) yang diintegrasikan dengan pusat data (data center) di Pulau Sabang Aceh, pembangunan mini LNG plant di kawasan Sidoarjo dan Batam, hingga pengerjaan infrastruktur hilir untuk industri penyokong energi terbarukan.

Di samping agenda tersebut, perusahaan sebelumnya telah menggenggam 20% porsi kepemilikan saham pada entitas anak usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) guna menjalankan operasional fasilitas PSEL Cipeucang yang berlokasi di Tangerang Selatan.

Demi mencukupi kebutuhan pos belanja modal (capex) pada sektor non-batu bara yang diprediksi memerlukan pendanaan hingga Rp86 triliun (US$ 5 miliar) dalam rentang beberapa tahun ke depan, BIPI mengambil langkah berani dengan melego keseluruhan porsi kepemilikan saham sebesar 99,9% di anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan batu bara, PT Sintesa Bara Gemilang Tbk (SBG). 

Saham tersebut dilepas dengan nilai nominal Rp1,79 triliun kepada PT Indo Panca Borneo.

Langkah divestasi berskala besar ini menjelma menjadi strategi korporasi yang sangat menguntungkan. 

Sebab, selain mendatangkan tambahan likuiditas segar untuk keperluan ekspansi, BIPI kini juga resmi lepas dari beban kewajiban berat selaku corporate guarantor atas utang tambang milik SBG yang menyentuh angka Rp4 triliun. 

Dengan demikian, struktur kondisi neraca keuangan perusahaan menjadi jauh lebih sehat serta terlihat menarik di mata para pelaku investor.

Langkah transformasi menyeluruh dari sektor komoditas fosil ke arah raksasa infrastruktur hijau yang terintegrasi ini seketika menyulut optimisme tinggi di lantai bursa perdagangan. 

Sejumlah analis pasar modal merilis proyeksi bahwa pergerakan saham BIPI mempunyai potensi kuat untuk reli menuju target harga yang baru pada level Rp300.

Reporter: Ibtihal