Harga Komoditas: Batu Bara, Nikel, Timah dan CPO Kompak Menguat Hari Ini
JAKARTA - Grafik harga minyak mentah internasional terpantau bergulir relatif stabil pada Selasa (26/5) pasca mendapat tekanan hebat pada sesi transaksi terdahulu.
Kontrak berjangka untuk minyak mentah jenis WTI bertahan pada kisaran USD 91 per barel, sedangkan tipe Brent bertengger di sekitar USD 97 per barel, setelah keduanya sempat terosot dalam hingga melampaui 6 persen pada penutupan sebelumnya.
Menilik data Trading Economic, koreksi pada harga minyak dipicu oleh meningkatnya proyeksi positif pasar atas kans tercapainya rekonsiliasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang diprediksi mampu menyudahi pertikaian sekaligus membuka kembali akses Selat Hormuz sebagai rute pelayaran krusial bagi lalu lintas energi internasional.
Presiden Donald Trump mengatakan proses negosiasi berjalan cukup baik, meski ia juga memperingatkan serangan baru masih dapat terjadi jika pembicaraan gagal mencapai kesepakatan.
Di sudut lain, seorang utusan dari Pakistan dikabarkan telah mengonfirmasikan kepada pihak China bahwa peluang untuk mewujudkan kesepakatan kini semakin terbuka lebar.
Untuk saat ini, pihak AS dan Iran tengah menggodok cetak biru kesepakatan yang memuat poin perpanjangan masa gencatan senjata untuk kurun waktu sekitar dua bulan.
Di dalam periode penangguhan tersebut, pihak Washington diinfokan bakal mencabut langkah blokadenya, sementara pihak Teheran akan membuka kembali akses Selat Hormuz.
Kendati demikian, performa negosiasi untuk sejumlah poin krusial terpantau belum mencapai kesepahaman, khususnya yang bersinggungan dengan agenda program nuklir milik Iran serta determinasi Teheran untuk tetap memegang kendali atas lalu lintas pelayaran di koridor perairan vital tersebut.
Di saat bersamaan, para pelaku pasar tetap memantau secara berkala eskalasi ketegangan yang menyelimuti area Selat Hormuz. Munculnya kabar terkait aksi gempuran AS dan Israel atas armada kapal milik Iran turut memicu para investor untuk tetap defensif dan berhati-hati dalam mengeksekusi keputusan investasi.
Batu Bara
Nilai kontrak berjangka komoditas batu bara termal bertengger pada level USD 132,5 per ton dan bergulir dalam koridor yang relatif terbatas setelah sempat tergelincir dari rekor tertingginya selama 18 bulan di posisi USD 146 per ton pada akhir Maret lalu.
Berdasarkan laporan Trading Economic, dinamika pergerakan ini mengekor koreksi harga gas alam di saat pelaku pasar tengah mengalkulasi ulang prospek penyerapan pasokan atas sumber energi substitusi di sejumlah negara kekuatan ekonomi utama.
Nilai jual gas alam menyusut pasca beredarnya informasi bahwa deretan armada kapal pengangkut gas alam cair (LNG) dari Uni Emirat Arab (UEA) diinformasikan masih bisa melintasi kawasan Teluk Persia.
Fenomena ini meredakan kecemasan pasar atas potensi macetnya distribusi pasokan semenjak perselisihan tersebut pecah.
Akselerasi pasokan LNG di sepanjang tahun ini ikut memicu efek domino pada harga batu bara termal, lantaran banyak korporasi utilitas yang mengalihkan operasional pembangkit listrik ke basis batu bara demi mencukupi suplai energi.
Walau posisinya telah menyusut dari level puncak, lonjakan serapan batu bara sejak awal mula pertikaian tetap membuat harga kontrak berjangkanya membukukan kenaikan sebesar 22 persen sejak awal tahun (year-to-date).
Rotasi pemakaian sumber energi ini dominan dijumpai di negara Jepang serta Korea Selatan, yang berstatus sebagai pasar konsumen terbesar untuk produk batu bara termal premium asal Australia.
Volume impor batu bara termal oleh Korea Selatan pada periode April dilaporkan melesat hingga 40 persen menyentuh angka 5,7 juta ton, sedangkan kuantitas serapan Jepang membukukan kenaikan sebesar 2,5 persen menjadi 7,9 juta ton.
Nikel
Grafik harga nikel mencatatkan pergerakan positif. Mengacu pada kalkulasi data London Metal Exchange, nilai jual nikel terdongkrak sebesar 0,99 persen menuju level USD 18.913 per ton.
Timah
Komoditas timah pun ikut terapresiasi sebesar 1,74 persen. Bersandarkan pada pembaruan data terkini dari London Metal Exchange, nominal harga timah saat ini berada pada posisi USD 54.174 per ton.
CPO
Berdasarkan data transaksi Bursa Malaysia, harga komoditas CPO untuk waktu kontrak Juli dilaporkan mengalami tren penguatan. Melalui pertumbuhan tersebut, nilai jual CPO kini bertengger di posisi MYR 4.461 per ton.