Prediksi Reli Harga Aluminium, Timah, dan Nikel pada Kuartal III/2026

Ilustrasi pekerja di PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum). (Foto: DOK. Humas MIND ID)
Penulis: Ibtihal
Senin, 25 Mei 2026 | 10:54:22 WIB

JAKARTA – Grafik peningkatan nilai jual komoditas logam industri yang terjadi sejak pembukaan tahun ini diestimasikan bakal konsisten berlanjut sampai triwulan ketiga tahun 2026. 

Melonjaknya harga pada Aluminium, Timah, serta Nikel dipicu oleh perpaduan antara membaiknya sektor manufaktur pada skala global dan munculnya hambatan suplai yang bersifat struktural di sejumlah negara produsen utama.

Merujuk pada rilis data Trading Economics per hari Jumat (22/5/2026), harga Aluminium menonjolkan apresiasi 0,35% dalam rentang harian menuju level US$ 3.650 per ton, serta menorehkan lonjakan mencapai 47,67% secara year to date (YtD). 

Di sudut lain, nilai jual Timah terpantau mengalami koreksi 1,45% dalam sehari ke zona US$ 53.248 per ton, walaupun secara akumulatif masih mencatatkan penguatan sebesar 64,46% YtD. Sementara itu, untuk komoditas Nikel membukukan pertumbuhan harian sebesar 0,67% ke posisi US$ 18.880 per ton dengan total penguatan menyentuh 21,26% YtD.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjabarkan bahwa merangkaknya nilai jual logam industri ini pada dasarnya diakibatkan oleh pemulihan yang bergulir secara simultan pada sektor manufaktur global, terutama di negara China dan Amerika Serikat (AS).

“Ekspansi PMI manufaktur China dan AS menjadi fondasi utama penguatan kompleks logam industri sejak awal tahun. Momentum itu bertemu dengan pengetatan suplai struktural sehingga mendorong harga naik agresif,” ujar Sutopo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan sudut pandangnya, ketika memasuki triwulan kedua tahun 2026, iklim pasar mulai bergeser dari yang semula digerakkan oleh sentimen spekulasi murni menjadi akibat dari adanya kendala ketersediaan stok yang riil (real supply disruption). 

Sebagai gambaran, nilai jual Aluminium terkerek naik dipicu oleh hambatan logistik serta memanasnya kondisi geopolitik di Selat Hormuz yang menghambat jalur distribusi logistik dari kawasan Teluk.

Pada momen yang berbarengan, harga Timah melambung tinggi sampai menyentuh rekor tertinggi setelah aparat penegak hukum di Indonesia mengintensifkan pengawasan terhadap operasional penambangan ilegal tanpa izin di wilayah Sumatra. 

Pasokan global juga makin tersendat dipicu oleh proses audit sumber daya yang bergulir lamban pasca-penutupan wilayah tambang Man Maw di Myanmar sejak akhir tahun kemarin.

Di lini berbeda, komoditas Nikel mulai memperlihatkan tren peningkatan setelah Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk membatasi kuota output tambang demi menjaga stabilitas harga di pasar spot. 

Sentimen positif ini kian didorong oleh bergulirnya agenda pemeliharaan terjadwal di kawasan industri Weda Bay yang diestimasi bakal memangkas volume produksi dalam rentang 10%–15%.

Sutopo memberikan pemaparan bahwa China beserta ekosistem industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) masih bertindak sebagai motor penggerak utama bagi penyerapan logam industri di pasar global, kendati dampaknya bervariasi pada masing-masing jenis komoditas. 

Ia mengimbuhkan bahwa langkah stimulus fiskal dari pemerintah Beijing lewat peluncuran obligasi khusus pemerintah daerah berhasil menyokong tingkat permintaan Aluminium untuk pengerjaan proyek-proyek infrastruktur dalam skala besar.

“Untuk nikel dan timah, kebutuhan industri kendaraan listrik dan infrastruktur energi hijau di Asia masih cukup solid, meskipun konsumsi tradisional di Eropa cenderung stagnan,” kata Sutopo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sutopo pun menganalisis bahwa di tengah bergejolaknya situasi geopolitik dunia saat ini, Timah menjadi varian logam industri yang menyuguhkan prospek paling potensial secara struktural. 

Ia menerangkan bahwa pasar komoditas Timah tengah didera keterbatasan stok yang amat ketat akibat kombinasi antara regulasi yang ketat di Indonesia serta hambatan politik di Myanmar, sedangkan di lini lain tingkat permintaan dari sektor industri teknologi terus bergerak naik.

“Timah menjadi komponen penting untuk penyolderan sirkuit elektronik, pusat data AI, hingga industri semikonduktor. Karakter pasokannya sangat tidak elastis sehingga berpotensi mengalami supply squeeze paling tinggi,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sutopo melepas proyeksi bahwa harga Timah bakal bergerak pada kisaran US$ 50.000–US$ 57.000 per ton pada triwulan ketiga tahun 2026. 

Nominal US$ 50.000 diestimasi menjadi area support yang kuat akibat dari penyetopan operasional tambang ilegal di Indonesia serta kendala pasokan dari Myanmar.

Sementara itu, untuk nilai jual Aluminium diprediksi bakal berfluktuasi pada rentang US$ 3.450–US$ 3.850 per ton. Menurutnya, pasar Aluminium masih diselimuti oleh ancaman risiko defisit fisik lantaran lambannya pemulihan kapasitas operasional fasilitas kilang di kawasan Timur Tengah.

“Support aluminium terbentuk di sekitar US$ 3.450 karena lonjakan biaya energi dan logistik. Sedangkan resistance di US$ 3.850 berpotensi diuji jika premi fisik regional terus meningkat,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bagi komoditas Nikel, harganya diestimasi bakal berputar pada rentang nilai US$ 17.500–US$ 19.800 per ton. 

Sutopo menjelaskan bahwa Nikel mempunyai kecenderungan pola high floor, heavy lid, yang mengindikasikan bahwa komoditas ini memiliki batas bawah harga yang kuat namun ruang untuk reli kenaikannya cenderung terbatas akibat tingginya volume cadangan inventaris di London Metal Exchange (LME).

Ia menguraikan lebih lanjut bahwa kebijakan pembatasan kuota RKAB oleh Pemerintah Indonesia terbukti efektif menjaga support harga Nikel di zona US$ 17.500 per ton, yang berada dekat dengan biaya marginal bagi para emiten produsen berbiaya tinggi. 

Meski begitu, titik resistance pada level US$ 19.800 diramal bakal sulit ditembus kecuali apabila muncul hambatan baru pada mata rantai pasokan, semisal kendala dalam aktivitas impor sulfur untuk operasional pabrik high pressure acid leach (HPAL) yang merakit bahan baku baterai kendaraan listrik.

Sutopo menarik simpulan bahwa sepanjang gejolak geopolitik di area Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda sampai akhir kuartal ketiga tahun 2026, maka tarif logam industri diramal bakal terus bertahan pada level yang tinggi.

“Jika terjadi de-eskalasi geopolitik secara tiba-tiba, premi risiko aluminium kemungkinan menyusut paling cepat. Namun, timah diperkirakan tetap paling kokoh karena faktor kelangkaan pasokannya bersifat struktural dan domestik,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Ibtihal