Indika Energy Raih Laba Bersih USD 7 Juta di Kuartal I/ 2026
JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatatkan perolehan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 7 juta sepanjang kuartal I-2026.
Nominal tersebut menunjukkan lonjakan masif hingga 141,4% jika dikomparasikan dengan raihan pada kuartal I-2025 yang tertahan di angka US$ 2,9 juta.
Tren positif pertumbuhan ini disokong oleh penguatan performa Kideco serta keberhasilan efisiensi pada pos pengeluaran operasional.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026, INDY mengumpulkan total pendapatan sebesar US$ 493,2 juta, atau terkerek naik sekitar 0,7% dari posisi US$ 489,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan omzet ini dominan dipicu oleh peningkatan kontribusi dari Interport dan Indika Indonesia Resources, walaupun di sisi lain sumbangsih pendapatan dari Kideco terpantau sedikit melandai.
Pada triwulan pertama tahun 2026, perolehan komoditas dari Kideco terkoreksi sebesar 5,7% menjadi US$ 377,4 juta akibat volume penjualan batu bara yang menyusut 4,1% menjadi 7 juta ton, serta penurunan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 1,7% ke level US$ 51,1 per ton.
Kendati demikian, Kideco konsisten memegang teguh komitmennya terhadap ketahanan energi nasional lewat penyaluran 3,1 juta ton (setara 45% dari keseluruhan volume produksi) untuk menyuplai pasar dalam negeri.
Volume tersebut sukses melampaui batas minimum Domestic Market Obligation (DMO) yang dipatok sebesar 25%.
Sementara itu, porsi sisa sebesar 55% atau setara 3,9 juta ton diekspor menuju pasar China, India, Jepang, serta beberapa negara tujuan lainnya.
Di sisi lain, Indika Indonesia Resources (IIR) membukukan lonjakan pendapatan yang signifikan hingga 38,3% menjadi US$ 13 juta pada kuartal I-2026.
Kenaikan performa ini didorong oleh pertumbuhan omzet dari aktivitas perdagangan batu bara sebesar 5% menjadi 126.000 ton, dari yang sebelumnya berada di angka 120.000 ton pada kuartal I-2025.
Selain itu, rapor keuangan IIR turut terdongkrak berkat naiknya ASP perdagangan batu bara sebesar 88,3% menjadi US$ 88,3 per ton dari posisi US$ 46,9 per ton pada periode yang sama di tahun lalu, beriringan dengan penjualan batu bara yang mengusung spesifikasi nilai kalori lebih tinggi.
IIR pun berhasil mendulang pendapatan sebesar US$ 1,9 juta dari sektor perdagangan non-batu bara, khususnya untuk komoditas bauksit dari Mekko.
Entitas anak usaha INDY lainnya, seperti Tripatra dan Interport, terpantau ikut menorehkan kenaikan pendapatan.
Tripatra mengantongi pertumbuhan pendapatan sebesar 11,2% menjadi US$ 68,7 juta pada kuartal I-2026, yang ditopang utama oleh pengerjaan proyek APA Geng North senilai US$ 33,9 juta, proyek Kaltim Parna LCO2 (US$ 3,4 juta), PMC untuk proyek UCC (US$ 4,3 juta), proyek PHR Utara (US$ 3,3 juta), serta FEED FPCI untuk proyek LNG Abadi (US$ 2,9 juta).
Sementara itu, anak usaha di sektor logistik terintegrasi, Interport Mandiri Utama, mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 53,4% menjadi US$ 43,1 juta, yang dipicu oleh kenaikan omzet dari lini bisnis perdagangan bahan bakar.
Sepanjang kuartal pertama 2026, struktur pendapatan Interport diisi oleh Cotrans sebesar US$ 16,4 juta, KGTE atau penyimpanan bahan bakar sebesar US$ 5,8 juta, sektor bisnis perdagangan bahan bakar senilai US$ 16,8 juta, sedangkan sisa nominal lainnya bersumber dari Interport Business Park (IBP) dan ILSS.
Pada waktu yang bersamaan, INDY berhasil menekan beban pokok kontrak dan penjualan sebesar 1,6% menjadi US$ 419,2 juta pada kuartal I-2026, dari raihan sebelumnya yang menyentuh US$ 425,9 juta pada kuartal I-2025.
Pengurangan ini utamanya dipengaruhi oleh melandainya biaya tunai (cash cost) Kideco termasuk kewajiban royalti menjadi sebesar US$ 44,6 per ton.
Efeknya, perolehan laba kotor yang diraup INDY menanjak 16,2% menjadi US$ 74 juta, dengan margin laba kotor konsolidasian yang ikut terkerek ke level 15,0% dari posisi 13,0% pada kuartal I-2025.
Kondisi tersebut utamanya dipacu oleh perbaikan margin laba kotor milik Kideco yang menyentuh angka 18,9% pada kuartal I-2026, berbanding 12,5% pada kuartal I-2025.
Beban penjualan, umum, dan administrasi milik INDY menyusut tipis 0,5% menjadi US$ 36,6 juta pada kuartal I-2026 dari angka sebelumnya US$ 36,8 juta.
Hal ini terjadi karena menyusutnya beban umum dan administrasi, penurunan tipis pada biaya pemasaran yang selaras dengan lebih rendahnya pendapatan Kideco, serta kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berkaitan dengan Kideco.
Namun di sudut lain, bagian laba bersih dari entitas asosiasi INDY menyusut menjadi US$ 4,5 juta pada kuartal I-2026 dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 9,6 juta akibat melemahnya kontribusi dari PLTU Cirebon (CEPR).
Di sisi positif, beban keuangan INDY berhasil ditekan sebesar 8,6% menjadi US$ 16 juta pada kuartal I-2026 berkat penurunan rata-rata pada biaya utang.
Atas akumulasi hasil tersebut, INDY sukses meraup laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 7 juta pada kuartal I-2026.
Fokus INDY dalam melebarkan sayap ke bisnis non-batu bara terlihat dari penyerapan belanja modal atau capital expenditure (capex) selama kuartal I-2026 yang menyentuh US$ 26,2 juta, di mana 100% dari dana tersebut dialokasikan sepenuhnya ke sektor non-batu bara.
Lini bisnis mineral lewat proyek tambang emas Awak Mas menyerap porsi terbesar senilai US$ 20,4 juta, sedangkan sisa dana senilai US$ 5,8 juta disalurkan untuk pengerjaan inisiatif bisnis hijau.
Sampai dengan tanggal 31 Maret 2026, pengerjaan konstruksi di proyek Awak Mas telah menyentuh 56,8% penyelesaian, dengan total akumulasi biaya yang sudah dikeluarkan mencapai US$ 288,1 juta.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Indika Energy tetap menunjukkan ketahanan kinerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar US$ 7 juta pada kuartal pertama 2026 di tengah dinamika industri energi global,” ujar Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).
INDY pun terus memperkuat transformasi bisnis, di mana seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Langkah ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan yang relevan dengan arah transisi energi global menuju net-zero,” tandas dia.