Harga Merosot 53 Persen, Saham Batubara Ini Bagi Dividen Rp130 Miliar

Ilustrasi tambang batu bara. (Foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 22 Mei 2026 | 09:45:37 WIB

JAKARTA - Nilai saham emiten di sektor logistik perbatubaraan, PT RMK Energy Tbk (RMKE) hingga memasuki Mei 2026 terpantau sudah merosot sangat dalam. 

Meski demikian muncul kabar menggembirakan, para pemegang saham RMKE dipastikan bakal memperoleh kucuran dividen.

Posisi saham RMKE pada penutupan pasar Kamis 21 Mei 2026 bertengger di level Rp 2.760, alias anjlok sebesar 430 poin atau melorot 13,48% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. 

Terhitung sejak pembukaan tahun 2026, harga saham emiten penyedia jasa logistik batubara ini kumulatifnya telah terpangkas Rp 3.190 atau susut hingga 53,61%.

RMKE telah menetapkan pengucuran dividen tunai dengan total Rp 130,9 miliar lewat keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dilangsungkan di Jakarta, Kamis (21/5/2026). 

Alokasi dividen tersebut setara dengan 54,1% dari total laba bersih perseroan untuk buku tahunan 2025. Melalui ketetapan ini, investor akan mengantongi dividen senilai Rp 30 per lembar saham.

Direktur Utama RMKE Vincent Saputra mengungkapkan, regulasi pendistribusian dividen ini bertindak sebagai wujud penghargaan manajemen kepada para pemegang saham di tengah impitan tantangan industri komoditas batubara serta ketidakpastian ekonomi dunia.

“Pembagian dividen ini mencerminkan apresiasi perseroan kepada pemegang saham sekaligus komitmen menjaga pertumbuhan jangka panjang. Perseroan terus menjaga fundamental bisnis yang sehat di tengah dinamika industri batu bara,” ujar Vincent dalam RUPST RMKE di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Di samping merestui agenda pembagian dividen, forum RUPST tersebut ikut mengesahkan laporan tahunan perseroan serta memberikan mandat pengangkatan kembali untuk jajaran Direksi dan Dewan Komisaris pada periode kerja berikutnya.

Fokus Pertumbuhan Bisnis RMKE

Vincent menerangkan, manajemen RMKE tetap memelihara rasa optimistis atas prospek usaha ke depan dengan mengandalkan dua motor pendapatan utama, yakni lini jasa logistik batubara serta lini perdagangan komoditas. 

Menurutnya, akselerasi perseroan bakal disokong oleh pengoperasian tambang baru yang terkoneksi secara langsung dengan fasilitas hauling road kepunyaan RMKE, sekaligus kenaikan volume logistik dari para mitra baru.

“Kami masih optimistis dapat membukukan kinerja baik ke depan, dengan dua engine pendapatan jasa di area hulu dan hilir. Pertumbuhan akan didorong oleh penambahan tambang baru yang terhubung langsung dengan hauling road,” jelas Vincent.

Bukan hanya memperlebar sayap di sektor jasa logistik, RMKE pun terus memacu peningkatan volume perdagangan batubara yang bersumber dari wilayah pertambangan yang telah terintegrasi dengan jaringan infrastruktur milik perseroan.

Profil Bisnis RMKE

Sebagai informasi, RMKE merupakan sebuah entitas penyedia jasa logistik batubara yang terintegrasi penuh berkat dukungan jalur kereta api sekaligus infrastruktur hauling

Perusahaan yang mula-mula berdiri pada 22 Juni 2009 ini resmi merealisasikan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 29 November 2021.

Pada saat ini, RMKE menjalankan rantai logistik batubara yang melingkupi:

  • Hauling road dengan panjang lintasan 38 kilometer dari area tambang menuju Stasiun Muat Gunung Megang.
  • Sarana fasilitas bongkar muat komoditas di Stasiun Simpang.
  • Hauling road dengan panjang lintasan 8 kilometer yang mengarah ke Pelabuhan Musi 2 Kramasan.

Di luar operasional bisnis jasa logistik, RMKE turut mengelola transaksi penjualan batubara lewat anak usaha PT Truba Bara Banyu Enim (TBBE), wilayah tambang yang berada di dalam satu grup, serta keterlibatan pihak ketiga melalui skema pembelian batubara langsung di mulut tambang.

Melalui komitmen pengucuran dividen yang menyerap lebih dari separuh laba bersihnya, RMKE membuktikan keseriusannya untuk senantiasa menghadirkan nilai tambah bagi para investor, sembari tetap mengawal momentum ekspansi usaha lewat penguatan ekosistem logistik serta peningkatan volume penjualan komoditas batubara.

Reporter: Ibtihal