Diproyeksi Naik Terbatas, Simak Pilihan Saham Analis Hari Ini

Ilustrasi IHSG Naik. (Gambar: NET)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 21 Mei 2026 | 09:50:44 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mendarat di zona merah pada sesi perdagangan Rabu (20/5/2026), di tengah gempuran sentimen domestik serta eksternal yang masih menyelimuti pasar. 

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, IHSG merosot 0,82% atau 52,18 poin menuju level 6.318,50. Koreksi pasar dipicu oleh bermacam faktor, mulai dari agenda rebalancing MSCI, peningkatan suku bunga Bank Indonesia (BI), sampai kecemasan pemodal atas arah regulasi otoritas terkait ekspor komoditas alam. 

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memaparkan laju IHSG sempat bergerak volatil pada paruh pertama perdagangan ketika Presiden Prabowo Subianto membacakan pidato dalam sidang paripurna DPR.

Pada waktu yang bersamaan, mata uang rupiah justru terapresiasi ke rentang Rp 17.685 per dolar AS sehabis BI mengerek suku bunga acuan menuju 5,25% demi memelihara stabilitas nilai tukar. Walau begitu, secara teknikal pergerakan IHSG dinilai masih terjebak dalam tren penurunan. 

Herditya mengutarakan pasar masih dibayangi oleh tekanan dari aktivitas rebalancing MSCI beserta sentimen aturan di sektor pertambangan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengimbuhkan sentimen global ikut membebani laju bursa saham Asia, tidak terkecuali Indonesia. 

Para investor masih memantau eskalasi geopolitik di Timur Tengah, utamanya konflik Iran yang belum kunjung mereda.

"Kondisi ini mendorong harga minyak tetap tinggi dan berpotensi menjaga tekanan inflasi global, sehingga membuka peluang bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat," ujar Nico.

Dari ranah domestik, para pelaku pasar pun mengantisipasi pidato Presiden Prabowo mengenai rancangan anggaran 2027, terkhusus rencana tata kelola ekspor sumber daya alam lewat mekanisme satu pintu melalui BUMN. 

Menurut pandangan Nico, regulasi tersebut memicu kecemasan investor atas potensi menguatnya campur tangan pemerintah serta efeknya terhadap efisiensi maupun tata kelola korporasi.

Untuk sesi perdagangan Kamis (21/5/2026), Nico memproyeksikan IHSG bakal berfluktuasi pada kisaran 6.150 sampai 6.400. Sementara itu, level 6.100 dipandang sebagai area krusial yang wajib dipantau oleh pemodal. 

Di sisi lain, Herditya memprediksi IHSG mempunyai peluang untuk menguat secara terbatas dengan area support di 6.184 dan resistance di 6.388. 

Beberapa saham yang disarankan untuk dipantau pada perdagangan hari ini meliputi AMRT pada rentang Rp 1.555–Rp 1.635, HRTA di kisaran Rp 2.240–Rp 2.370, serta MBMA pada posisi Rp 478–Rp 520 per lembar saham.

Reporter: Ibtihal