JAKARTA - Pergerakan logistik nasional mulai menunjukkan peningkatan signifikan menjelang perayaan Lebaran 2026.
Sejumlah wilayah yang memiliki aktivitas pelabuhan besar diperkirakan akan mengalami lonjakan arus barang, terutama pada sektor peti kemas.
Peningkatan aktivitas logistik ini diperkirakan terjadi di beberapa wilayah strategis di Indonesia. Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi dua kawasan yang diprediksi mengalami lonjakan paling tinggi dalam arus distribusi barang.
Para pelaku usaha logistik bersama pemangku kepentingan di sektor pelabuhan telah mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Beragam strategi operasional diterapkan guna memastikan distribusi barang tetap berjalan lancar di tengah meningkatnya volume pengiriman.
Lonjakan arus barang menjelang Lebaran sebenarnya merupakan fenomena yang terjadi hampir setiap tahun. Namun pada 2026, peningkatan volume logistik diperkirakan lebih besar karena bertepatan dengan sejumlah momentum aktivitas ekonomi dan perayaan besar yang berlangsung dalam waktu berdekatan.
Kondisi ini membuat pengelola pelabuhan, perusahaan logistik, hingga asosiasi industri memperkuat koordinasi untuk menjaga kelancaran proses bongkar muat barang.
Lonjakan Arus Logistik Diprediksi Terjadi di Jawa Timur
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono menjelaskan bahwa peningkatan arus logistik menjelang Lebaran merupakan kondisi yang sulit dihindari.
Ia menyebut volume arus logistik pada periode Lebaran diperkirakan meningkat drastis dibandingkan hari biasa.
Volume arus logistik Lebaran diprediksi bakal meroket hingga 80% karena status Surabaya sebagai jalur transit ke wilayah Indonesia Timur. Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak diperkirakan akan normal kembali usai April.
"Kebetulan saat Nataru, Imlek, dan Idulfitri waktunya bersamaan, sehingga load-nya memang tinggi. Saat Imlek, banyak impor turun ke sini, lalu didistribusikan ke wilayah, seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan," beber Wibi.
Surabaya sendiri memiliki peran penting dalam jalur distribusi logistik nasional. Kota ini menjadi pintu utama pengiriman barang menuju berbagai wilayah di Indonesia bagian timur.
Karena itu, ketika permintaan barang meningkat menjelang hari besar keagamaan, aktivitas bongkar muat di pelabuhan juga meningkat secara signifikan.
Strategi Pengalihan Gudang untuk Antisipasi Penumpukan
Untuk mengantisipasi potensi penumpukan kontainer, para pelaku usaha logistik telah menyiapkan sejumlah strategi operasional.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan gudang ekspor sebagai lokasi penyimpanan sementara bagi barang impor.
Guna mengantisipasi penumpukan, ALFI Jatim telah menerapkan strategi pengalihan lokasi. Wibi menjelaskan gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor oleh para pelaku usaha bakal dimanfaatkan sementara waktu untuk menampung barang impor.
Kebijakan tersebut, lanjut dia, secara resmi diperbolehkan untuk dijalankan oleh para pelaku usaha logistik usai koordinasi dan memperoleh perizinan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai agar arus logistik tetap lancar.
Ia menjelaskan lonjakan arus logistik tahun lalu di Surabaya mencapai 103%. Namun, hal tersebut dapat diantisipasi dengan memindahkan kontainer ke storage domestik maupun depo yang beroperasi selama 24 jam tanpa henti.
"Setiap tahun selalu ada migrasi antarterminal, terutama untuk kontainer ekspor-impor. Di sini ada 2 terminal utama, Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya," ujar dia.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kegiatan distribusi barang tetap berjalan tanpa hambatan meskipun volume pengiriman meningkat.
Aktivitas Logistik di Jawa Tengah Ikut Meningkat
Peningkatan arus logistik tidak hanya terjadi di Jawa Timur. Aktivitas distribusi barang di wilayah Jawa Tengah juga menunjukkan tren peningkatan yang cukup tinggi.
Ketua ALFI Jateng-DIY Teguh Arif Handoko mengungkapkan volume kargo jelang Lebaran 2026 telah melonjak naik hingga sekitar 130%.
Ia menjelaskan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, kenaikan kargo membuat rotasi kontainer yang biasanya rata-rata sekitar 2.800 unit per hari meningkat menjadi 3.000 unit per hari.
Selain momentum Lebaran, ALFI Jateng menyoroti tren pertumbuhan aktivitas logistik itu juga disebabkan oleh menjamurnya aktivitas investasi industri di Jawa Tengah, seperti di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang secara multiplier mendorong peningkatan throughput di Pelabuhan Tanjung Emas.
"Tahun 2023 sekitar 700.000 TEUs, 2024 naik 800.000 TEUs, dan 2025 sudah tembus 1 juta TEUs. Ini signifikan, walaupun perusahaan di kawasan industri KIK dan KITB baru sekitar 20% yang sudah produksi dan beroperasi," papar Teguh.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan aktivitas industri di kawasan Jawa Tengah juga turut mendorong meningkatnya volume distribusi barang melalui pelabuhan.
Aktivitas Ekspor Impor Jadi Sinyal Ekonomi Menguat
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah Frans Kongi menyatakan bahwa peningkatan aktivitas ekspor dan impor di pelabuhan menjadi indikasi membaiknya kondisi ekonomi regional.
Menurutnya, lonjakan aktivitas logistik tidak hanya dipengaruhi oleh momentum Lebaran, tetapi juga oleh meningkatnya konsumsi masyarakat.
Volume bongkar muat tercatat naik seiring dengan meningkatnya kegiatan konsumsi masyarakat saat Imlek, yang berlanjut menjelang Lebaran.
Frans membeberkan volume bongkar muat saat ini diperkirakan naik sekitar 20% bila dibanding hari biasa. Apindo Jateng juga memprediksi bahwa sekitar 10 hari sebelum Lebaran, lonjakan aktivitas bongkar muat dapat menyentuh kisaran 25%.
"Sejak Desember sudah terlihat ada peningkatan aktivitas bongkar muat di sana. Ini akan terus meningkat mendekati Lebaran, dengan kenaikan sekitar 25% dibanding hari biasa," tutur Frans.
Menurut Frans, komoditas yang mendominasi peningkatan arus barang di antaranya adalah kebutuhan konsumsi musiman, seperti bahan pangan, produk fesyen, hingga pernak-pernik lebaran.
Ia menilai kondisi tersebut memberikan dampak positif bagi sektor usaha, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta sektor ritel.
Perputaran uang yang lebih cepat menjelang Lebaran membuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah ikut meningkat.
Pelindo Siapkan Antisipasi Kepadatan Terminal
Seiring meningkatnya aktivitas logistik menjelang Lebaran, pengelola pelabuhan juga menyiapkan berbagai langkah antisipasi.
PT Pelindo Terminal Petikemas telah melakukan sejumlah persiapan di terminal yang dikelola untuk menghindari kepadatan aktivitas bongkar muat.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menjelaskan dengan sistem operasi terminal yang digunakan saat ini pihaknya dapat merencanakan pelayanan bongkar muat kapal peti kemas sejak jauh-jauh hari.
Dia mengungkapkan terminal dapat memprediksi tingkat kepadatan tambatan di dermaga (berth occupancy ratio) serta tingkat kepadatan lapangan penumpukan peti kemas (yard occupancy ratio).
"Kami melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk lapangan penumpukan agar lebih optimal dalam menampung peti kemas karena kurang lebih selama 16 hari, peti kemas ini akan berada di dalam terminal dengan adanya pembatasan angkutan barang," ujar Widyaswendra.
Pengelola terminal bersama para pihak terkait juga menyiapkan lokasi overbrengen (pindah lokasi penumpukan) sebagai alternatif untuk mengurai kepadatan di dalam area terminal.
Selama libur Hari Raya Idulfitri 2026, PT Pelindo Terminal Petikemas menegaskan operasional terminal tetap berlangsung penuh selama 24 jam dalam 7 hari.
"Kami mengimbau kepada para pengguna jasa untuk memanfaatkan layanan terminal booking system untuk meminimalkan kepadatan dan terjadinya kemacetan di jalan raya saat akan melakukan pengiriman maupun pengambilan peti kemas sebelum libur dan setelah libur lebaran," pungkasnya.