HUT Ke-77 Garuda Indonesia, Museum Satria Mandala Simpan Jejak Sejarahnya

Kamis, 29 Januari 2026 | 11:37:58 WIB
HUT Ke-77 Garuda Indonesia, Museum Satria Mandala Simpan Jejak Sejarahnya

JAKARTA - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Garuda Indonesia bukan hanya menjadi momentum selebrasi bagi dunia penerbangan nasional, tetapi juga ajakan untuk menengok kembali sejarah panjang maskapai kebanggaan Indonesia.

Di Jakarta, jejak awal berdirinya Garuda Indonesia dapat disaksikan langsung di Museum Satria Mandala, melalui koleksi replika pesawat yang menjadi embrio lahirnya maskapai milik negara tersebut.

Kepala Museum Satria Mandala Jakarta, Letnan Kolonel Caj Anggi Salamun, menyampaikan ucapan dirgahayu kepada Garuda Indonesia sekaligus mengundang masyarakat untuk berkunjung ke museum yang berada di Jalan Gatot Subroto itu. Menurutnya, museum tidak hanya menyimpan sejarah militer, tetapi juga potongan penting perjalanan bangsa, termasuk sejarah penerbangan nasional.

Ucapan Dirgahayu dan Ajakan Edukatif dari Museum

Letnan Kolonel Caj Anggi Salamun menyampaikan bahwa HUT ke-77 Garuda Indonesia merupakan momen yang tepat untuk memperkenalkan kembali sejarah berdirinya maskapai tersebut kepada generasi muda.

Ia menegaskan bahwa Museum Satria Mandala memiliki koleksi yang berkaitan langsung dengan perjalanan awal Garuda Indonesia. Salah satunya adalah replika pesawat yang menjadi simbol lahirnya maskapai nasional di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Menurut Salamun, keberadaan koleksi ini dapat menjadi sarana edukasi sejarah yang konkret, bukan hanya melalui buku, tetapi juga melalui visual dan narasi langsung di museum.

Replika Pesawat RI-001 di Taman Dirgantara

Di Taman Dirgantara, yang merupakan bagian dari halaman Museum Satria Mandala, pengunjung dapat melihat replika Pesawat Dakota RI-001. Pesawat ini memiliki nilai historis tinggi karena pernah digunakan Garuda Indonesia pada masa awal berdirinya, tepatnya pada 26 Januari 1949.

Pesawat RI-001 dikenal sebagai salah satu simbol kemandirian bangsa Indonesia di bidang penerbangan pada masa awal kemerdekaan. Replika tersebut menjadi salah satu koleksi unggulan yang sering menarik perhatian pengunjung, khususnya pelajar dan mahasiswa.

Kehadiran replika pesawat ini memperlihatkan bagaimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan di darat, tetapi juga melalui penguasaan udara dan sarana transportasi penerbangan.

Pesawat “Seulawah” dan Peran Saudagar Aceh

Dalam buku Perjalanan Pengabdian Garuda Indonesia yang ditulis M. Abriyanto dkk (1993), disebutkan bahwa pesawat RI-001 yang diberi nama “Seulawah” merupakan sumbangan dari para saudagar Aceh. Bantuan tersebut diberikan atas permintaan Presiden Soekarno yang menginginkan Indonesia memiliki pesawat terbang sendiri di awal masa kemerdekaan.

Pesawat ini kemudian dibeli dan dioperasikan oleh para prajurit TNI Angkatan Udara. Salah satu tokoh yang menonjol dalam pemanfaatan pesawat tersebut adalah Wiweko Soepono, yang kelak dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah penerbangan nasional.

Pesawat RI-001 tidak hanya digunakan untuk kepentingan operasional, tetapi juga dimanfaatkan secara komersial. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan dana demi mendukung perjuangan di dalam negeri yang saat itu masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Penerbangan di Birma dan Lahirnya Garuda Indonesia

Salah satu momen penting dalam sejarah pesawat RI-001 adalah ketika Wiweko Soepono dan rekan-rekannya menyewakan pesawat tersebut kepada Pemerintah Birma. Dari aktivitas penyewaan itulah, dana perjuangan berhasil diperoleh untuk mendukung kebutuhan bangsa Indonesia.

Penerbangan perdana pesawat RI-001 di Birma pada 26 Januari 1949 kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Garuda Indonesia, yang pada masa itu masih bernama Indonesian Airways.

Peristiwa ini menandai transformasi pesawat perjuangan menjadi cikal bakal maskapai nasional yang kini dikenal luas di tingkat internasional. Sejarah tersebut menjadi bukti bahwa Garuda Indonesia lahir dari semangat kemandirian, perjuangan, dan pengorbanan.

Museum sebagai Ruang Belajar Generasi Penerus

Letnan Kolonel Caj Anggi Salamun menegaskan bahwa replika pesawat RI-001 yang dipamerkan di Museum Satria Mandala memiliki fungsi penting sebagai media pembelajaran sejarah.

“Replika pesawat RI-001 adalah di museum kami dan bisa dijadikan sarana pendidikan sejarah bagi generasi penerus bangsa untuk mengetahui perjuangan para prajurit TNI AU dahulu,” kisah Salamun.

Ia juga mengajak generasi muda dan masyarakat umum untuk datang langsung ke Museum Satria Mandala. Menurutnya, museum menyimpan berbagai peristiwa sejarah penting bangsa Indonesia, khususnya peran yang diemban Tentara Nasional Indonesia sejak masa awal kemerdekaan hingga periode setelahnya.

Melalui kunjungan ke museum, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal Garuda Indonesia sebagai maskapai modern, tetapi juga memahami akar sejarah dan nilai perjuangan yang melatarbelakangi berdirinya perusahaan tersebut.

Dengan peringatan HUT ke-77 Garuda Indonesia, Museum Satria Mandala menjadi salah satu ruang refleksi untuk mengenang bagaimana penerbangan nasional tumbuh dari semangat perjuangan menuju simbol kedaulatan dan kebanggaan bangsa.

Terkini