Harga Emas Naik Dipicu Ketegangan Geopolitik Global Meningkat

Kamis, 22 Januari 2026 | 11:51:02 WIB
Harga Emas Naik Dipicu Ketegangan Geopolitik Global Meningkat

JAKARTA - Ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan pada awal 2026. Berbagai konflik regional, friksi dagang, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia mendorong investor untuk bersikap lebih defensif.

 Dalam kondisi seperti ini, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai yang paling diburu. Lonjakan harga emas dunia yang mencetak rekor baru menjadi cerminan perubahan preferensi risiko investor global.

Pada 21 Januari 2026 harga emas spot melonjak lebih dari 2 persen dan diperdagangkan di kisaran 4.880 dollar AS per troy ounce. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya dollar Amerika Serikat serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Reuters melaporkan, pasar merespons eskalasi risiko geopolitik dengan mengalihkan dana dari aset berisiko menuju instrumen yang dinilai lebih aman, salah satunya emas.

Reli harga emas di awal 2026 bukan fenomena yang berdiri sendiri. Tren penguatan ini merupakan kelanjutan dari performa impresif sepanjang 2025, ketika emas mencetak lebih dari 50 rekor harga baru dan membukukan penguatan tahunan di atas 60 persen, menurut World Gold Council. Kombinasi konflik geopolitik, pembelian bank sentral, serta perubahan ekspektasi suku bunga global menjadi pendorong utama reli tersebut.

Emas Sebagai Aset Safe Haven Global

Dalam sejarah pasar keuangan, emas kerap menjadi tujuan utama ketika ketidakpastian meningkat. Ketegangan geopolitik, baik berupa konflik bersenjata maupun memburuknya hubungan antarnegara, membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap saham dan aset berisiko lainnya. Situasi ini kembali terlihat jelas pada awal 2026.

Meningkatnya kekhawatiran atas potensi konflik berkepanjangan mendorong pasar global masuk ke mode risk-off. Saham-saham global tertekan, sementara emas justru menguat tajam. Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, mengatakan kepada Reuters bahwa lonjakan harga emas mencerminkan akumulasi risiko global yang semakin kompleks.

“Harga emas didukung oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran tentang tingkat utang global, dan dollar AS yang lebih lemah,” ujar Hansen. Ia menambahkan, selama ketidakpastian geopolitik belum mereda, investor masih melihat ruang penguatan harga emas.

Pelemahan Dollar AS Mengerek Permintaan

Faktor lain yang memperkuat reli emas adalah pelemahan dollar AS. Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dollar AS, melemahnya mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan permintaan global.

Reuters melaporkan, indeks dollar AS tertekan seiring meningkatnya kecemasan pasar terhadap prospek fiskal dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Tekanan terhadap dollar ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Giovanni Staunovo, analis komoditas senior di UBS, mengatakan kepada Reuters bahwa hubungan terbalik antara dollar AS dan emas kembali terlihat jelas. “Dollar AS yang lebih lemah menambah daya tarik emas, terutama pada saat risiko geopolitik tetap tinggi,” tutur Staunovo.

Kombinasi pelemahan dollar dan meningkatnya ketegangan geopolitik menciptakan kondisi yang ideal bagi emas untuk terus menguat, terutama dalam jangka pendek.

Risiko Geopolitik Tercermin Dalam Harga

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa risiko geopolitik kini semakin tercermin langsung dalam pembentukan harga emas. World Gold Council dalam laporan risetnya menyebutkan adanya korelasi positif antara lonjakan indeks risiko geopolitik global dan pergerakan harga emas, khususnya dalam jangka pendek.

Peningkatan signifikan pada Geopolitical Risk Index berpotensi mendorong harga emas naik beberapa persen dalam waktu relatif singkat. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa emas tidak hanya bereaksi terhadap inflasi dan suku bunga, tetapi juga terhadap eskalasi konflik serta ketidakpastian politik global.

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, konflik regional di berbagai kawasan menjadi latar belakang kuat reli harga emas. Persepsi pasar bahwa risiko global bersifat struktural dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat emas semakin dipandang sebagai instrumen pelindung nilai jangka menengah.

Peran Suku Bunga Dan Bank Sentral

Ketegangan geopolitik juga memengaruhi harga emas melalui perubahan ekspektasi kebijakan moneter global. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, pelaku pasar cenderung memperkirakan bank sentral akan mengambil sikap lebih akomodatif untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Ekspektasi penurunan suku bunga, terutama di Amerika Serikat, turut menopang harga emas. Ketika suku bunga riil diperkirakan turun, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Bart Melek, Head of Commodity Strategies di TD Securities, mengatakan kepada Reuters bahwa kombinasi risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi emas. 

“Selama imbal hasil riil berada di bawah tekanan dan ketidakpastian tetap tinggi, harga emas kemungkinan akan tetap didukung,” ujarnya.

Selain investor swasta, bank sentral juga berperan besar dalam menopang harga emas. World Gold Council mencatat, pembelian emas oleh bank sentral global tetap kuat sepanjang 2025 sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Langkah ini mencerminkan upaya mitigasi risiko terhadap volatilitas mata uang dan ketidakpastian politik internasional.

Meski tren jangka menengah masih menguat, harga emas tetap sensitif terhadap arus berita geopolitik. Reuters mencatat, harga emas sempat terkoreksi ketika muncul indikasi meredanya ketegangan dan investor melakukan aksi ambil untung. Hal ini menunjukkan bahwa setiap perubahan sentimen dapat memicu fluktuasi jangka pendek.

Terkini