JAKARTA - Harga batu bara mayoritas menguat pada Rabu, 21 Januari 2026, seiring lonjakan permintaan di China dan Australia. Sementara itu, pasar Eropa masih tertekan oleh kenaikan stok dan biaya emisi karbon yang tinggi.
Harga batu bara Newcastle untuk kontrak Januari turun 0,6% menjadi US$ 109,35 per ton. Sedangkan kontrak Februari melonjak 0,8% ke US$ 113 per ton, dan Maret naik 0,4% menjadi US$ 112,7 per ton.
Kinerja Pasar Regional
Di Eropa, harga batu bara melemah karena stok di terminal ARA (Amsterdam–Rotterdam–Antwerp) naik signifikan. Lonjakan harga izin emisi CO? juga menambah tekanan pada pasar.
Sementara itu, di Asia, harga batu bara China dan Australia mengalami kenaikan untuk jenis termal maupun metalurgi. Faktor gangguan pasokan dan meningkatnya permintaan regional menjadi pendorong utama harga.
Situasi Pasar di Afrika Selatan dan Ekspor
Di Afrika Selatan, harga batu bara High-CV 6.000 naik ke US$ 90 per ton. Lonjakan ini didorong oleh aktivitas pasar spot yang meningkat serta permintaan tinggi dari India.
Ekspor melalui Richards Bay Coal Terminal tumbuh 10% sepanjang 2025 menjadi 57,07 juta ton. India menjadi pasar ekspor terbesar dengan volume lebih dari 28 juta ton, naik sekitar 3 juta ton dibanding tahun sebelumnya.
Kondisi Pasokan dan Permintaan China
Di China, harga spot batu bara 5.500 NAR di pelabuhan Qinhuangdao menembus US$ 101,85 per ton. Ekspektasi gelombang dingin baru dan libur Tahun Baru Imlek mendorong pembelian untuk mengisi stok.
Meski demikian, suhu 4–6 derajat Celsius di atas normal beberapa hari terakhir berpotensi menekan konsumsi. Gelombang dingin pada 17–20 Januari diperkirakan menurunkan suhu hingga 4–8 derajat secara nasional.
Dampak di Indonesia
Indeks batu bara 5.900 GAR Indonesia naik melampaui US$ 81 per ton. Sedangkan harga 4.200 GAR meningkat ke US$ 46,5 per ton karena penguatan pasar China dan gangguan logistik akibat musim hujan.
Perusahaan tambang di Sumatra Selatan menghadapi pembatasan pengangkutan melalui Sungai Lalan dan jalur darat. Kebijakan ini sejak 1 Januari 2026 berpotensi mengganggu produksi lebih dari 6 juta ton per bulan, memengaruhi puluhan perusahaan.
Prospek Australia
Di Australia, harga High-CV 6.000 melonjak ke atas US$ 109 per ton. Gangguan pasokan akibat penghentian pengapalan di pelabuhan Queensland imbas Siklon Koji menahan volume ekspor.
Harga metalurgi hard coking coal (HCC) juga melonjak di atas US$ 230 per ton. Permintaan yang melampaui pasokan akibat banjir dan force majeure pabrikan menahan penurunan harga.
Kenaikan harga batu bara global didorong oleh kombinasi gangguan pasokan, permintaan musiman, dan ekspektasi pasar. Namun, risiko penurunan tetap ada di pasar Eropa dan beberapa wilayah produksi.
Pelaku pasar disarankan tetap memantau stok, cuaca, dan kebijakan pemerintah terkait ekspor. Keseimbangan pasokan dan permintaan menjadi kunci menentukan arah harga selanjutnya.