JAKARTA - Memasuki bulan Ramadan, masyarakat Indonesia kerap menghadapi tantangan dalam menyesuaikan tubuh dengan pola makan, tidur, dan aktivitas harian yang berubah secara drastis.
Fenomena ini, yang dikenal sebagai "Health Adjustment Gap," menjadi perhatian utama bagi Halodoc, yang melalui laporan Indonesia Health Insights Q1 2026 mengidentifikasi dampak kesehatan yang timbul, terutama pada minggu pertama puasa.
Dalam menghadapi tantangan kesehatan tersebut, Halodoc hadir dengan inovasi berbasis kecerdasan buatan, HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), yang memberikan solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat selama Ramadan.
Dampak Perubahan Pola Hidup di Awal Ramadan
Laporan Halodoc menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup yang sangat signifikan selama Ramadan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama pada fase awal puasa.
Salah satu masalah utama yang muncul adalah gangguan pencernaan, seperti maag dan GERD, yang meningkat drastis pada minggu pertama Ramadan.
Tubuh, yang belum sepenuhnya siap untuk beradaptasi dengan jadwal makan dan tidur yang berbeda, seringkali bereaksi dengan gejala-gejala fisik yang mengganggu kenyamanan sehari-hari.
Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc, mengungkapkan bahwa Ramadan merupakan periode di mana mayoritas masyarakat Indonesia merasakan perubahan gaya hidup yang cukup ekstrem.
"Melalui Indonesia Health Insights, kami ingin memberikan rujukan berbasis data dan pandangan medis agar masyarakat lebih siap mengantisipasi gangguan kesehatan di periode krusial ini," kata Fibriyani
Lonjakan Aktivitas Konsultasi Kesehatan di Luar Jam Biasa
Temuan menarik lainnya yang dicatat oleh Halodoc adalah lonjakan aktivitas konsultasi kesehatan pada jam-jam yang tidak biasa, terutama pada dini hari.
Dalam laporan tersebut, konsultasi terkait gangguan pencernaan seperti maag dan GERD meningkat 21 persen pada minggu pertama Ramadan.
Layanan ini mencatat lonjakan tertinggi pada rentang waktu 00.00 hingga 05.59, yang melonjak hingga 150 persen. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang mencari solusi medis untuk mengatasi masalah kesehatan mereka pada saat jam layanan konvensional sulit dijangkau.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak masalah kesehatan terkait puasa terjadi pada saat yang tidak terduga. Hal ini memunculkan kebutuhan bagi masyarakat untuk mendapatkan arahan kesehatan yang cepat dan tepat, terutama ketika tenaga medis tidak selalu tersedia dalam jam-jam tersebut.
HILDA, Solusi Cerdas untuk Pendampingan Kesehatan di Ramadan
Menanggapi kebutuhan mendesak ini, Halodoc memperkenalkan HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), sebuah asisten digital berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memberikan arahan awal terkait kesehatan.
HILDA hadir sebagai solusi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan informasi medis awal di luar jam layanan medis yang biasa, khususnya selama bulan Ramadan.
Fibriyani Elastria menjelaskan bahwa HILDA berfungsi sebagai pendamping awal untuk pengguna dalam menghadapi berbagai keluhan kesehatan yang mungkin timbul selama puasa.
"Di bulan Ramadan, banyak kebutuhan kesehatan justru muncul di saat-saat yang tidak terduga. HILDA hadir untuk mendampingi di momen-momen itu, memberikan arahan awal yang dapat membantu pengguna mengambil bantuan medis yang tepat," katanya.
Meski demikian, Fibriyani menegaskan bahwa HILDA bukanlah pengganti tenaga medis, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memberikan saran awal sebelum pengguna memutuskan untuk mendapatkan bantuan medis lebih lanjut.
HILDA dapat memberikan informasi dasar tentang kondisi kesehatan yang dialami, mengarahkan pengguna untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, atau merujuk mereka untuk melakukan konsultasi dengan tenaga medis jika diperlukan.
Penanganan Gangguan Kesehatan di Awal Ramadan
Menurut dr. Irwan Heriyanto, anggota Board of Medical Excellence Halodoc, lonjakan keluhan kesehatan di awal Ramadan merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan rutinitas yang cukup ekstrem, terutama terkait dengan pola makan dan tidur.
"Masa adaptasi tubuh paling berat terjadi di awal puasa. Lonjakan keluhan di awal Ramadan merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan pola makan dan tidur. Lambung menjadi lebih sensitif karena jam makan berubah," kata dr. Irwan.
Untuk mempersiapkan tubuh sebelum Ramadan, dr. Irwan menyarankan masyarakat untuk memperbaiki pola konsumsi serat dan cairan, serta menjaga keseimbangan asupan gizi.
"Selama puasa, penerapan pola makan seimbang saat sahur dan berbuka sangat penting, begitu juga dengan menjaga hidrasi tubuh dengan pola minum 2-4-2, yakni dua gelas air saat sahur, empat gelas di antara buka puasa, dan dua gelas sebelum tidur," ujarnya.
Pola makan yang sehat, seperti memperbanyak konsumsi serat dari buah-buahan dan sayuran, serta menghindari makanan yang terlalu berlemak dan pedas, juga dapat membantu mencegah gangguan pencernaan. Selain itu, menjaga waktu tidur yang cukup dan menjaga kebugaran tubuh juga sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama berpuasa.
Halodoc dan Komitmennya dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
Melalui inovasi-inovasi seperti HILDA, Halodoc berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, khususnya selama bulan Ramadan.
Dengan adanya asisten digital berbasis kecerdasan buatan, Halodoc berharap dapat memberikan kemudahan akses kepada masyarakat yang membutuhkan informasi medis yang tepat dan cepat, tanpa harus menunggu jam layanan medis yang terbatas.
Tak hanya itu, Halodoc juga terus berupaya memperluas penetrasi layanan kesehatan digital melalui berbagai program dan kemitraan dengan institusi medis terkemuka.
Dengan dukungan teknologi dan tim medis yang handal, Halodoc ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia dapat menjalani Ramadan dengan tubuh yang sehat dan siap menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang mungkin timbul.