Rupiah Berpeluang Menurun Lagi, Terimbas Suku Bunga The Fed

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 25 Juni 2026
Rupiah Berpeluang Menurun Lagi, Terimbas Suku Bunga The Fed
Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah. (Foto: bisnis.com)

JAKARTA - Kurs rupiah ditutup merosot 0,52% menuju posisi Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi transaksi Rabu (24/6/2026), sejalan dengan berlanjutnya keperkasaan mata uang dolar AS serta kian besarnya prediksi kenaikan suku bunga The Fed. Depresiasi rupiah diproyeksikan masih bakal berlanjut pada sesi transaksi Kamis (25/6/2026).

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menuturkan, untuk transaksi Kamis (25/6/2026) perhatian para pemodal akan berpusat pada perilisan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi indikator inflasi acuan Federal Reserve. 

Dirinya memperkirakan data itu berpeluang memperlihatkan lonjakan inflasi, dengan begitu dapat kian memperkokoh prediksi pengetatan kebijakan moneter AS.

Lewat indikasi tersebut, Lukman memproyeksikan fluktuasi rupiah pada sesi transaksi Kamis (25/6/2026) bakal berada pada rentang Rp 17.900 sampai Rp 18.000 per dolar AS.

Lukman menyebutkan, kemerosotan rupiah pada Rabu (24/6/2026) disebabkan oleh penguatan dolar AS yang masih terus berjalan. Indeks dolar AS (DXY) bahkan menembus posisi paling tinggi dalam 14 bulan ke belakang. 

Kemarin, indeks dolar AS berada pada posisi 101,56 atau menguat 0,15% bila disandingkan dengan posisi hari sebelumnya.

"Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (24/6/2026).

Di samping faktor eksternal, rupiah turut memperoleh tekanan dari sentimen risk-off pada pasar keuangan dalam negeri. Menurut Lukman, para pelaku pasar masih mengamati hasil penilaian MSCI terhadap status pasar modal Indonesia.

"Meskipun, MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market, tetapi masih akan melakukan peninjauan ulang pada November dan tetap membuka peluang downgrade ke Frontier Market," kata Lukman.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua