Bitcoin Anjlok ke USD 60.991, Pasar Kripto Kompak ke Zona Merah

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 25 Juni 2026
Bitcoin Anjlok ke USD 60.991, Pasar Kripto Kompak ke Zona Merah
Ilustrasi Bitcoin Menurun. (Foto: net)

JAKARTA – Nilai Bitcoin (BTC) merosot pada hari ini, Kamis (25/6/2026), sesudah sebelumnya sempat terjerembap di bawah angka psikologis US$ 60.000. 

Keperkasaan dolar AS serta kian tingginya prediksi kenaikan suku bunga The Fed memicu gelombang pelepasan di pasar kripto dan menarik sebagian besar aset digital menuju teritori negatif.

Merujuk data CoinMarketCap pada pukul 07.10 WIB, nilai total pasar kripto global menyusut 2,17% menjadi US$ 2,1 triliun. Di sisi lain, nilai Bitcoin (BTC) hari ini terpangkas 2,8% ke posisi US$ 60.991 per koin atau berkisar Rp 1,09 miliar (kurs Rp 18.024 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20 yang menggambarkan kinerja 20 aset kripto terbesar merosot 2,34%. Ethereum anjlok 2,91% ke angka US$ 1.620, Binance (BNB) menyusut 2,43% ke US$ 564, XRP tertekan 3,23% ke US$ 1,07, Dogecoin (DOGE) turun 3,39% ke US$ 0,07, dan Solana (SOL) terpangkas 2,35% menjadi US$ 68,1.

Disadur dari Tradingview, nilai bitcoin (BTC) kembali terpuruk dan sempat jatuh di bawah angka psikologis US$ 60.000, titik terendah sejak akhir 2024. Penurunan tersebut berlangsung di tengah menguatnya dolar AS dan meningkatnya prediksi kenaikan suku bunga The Fed.

Tekanan terhadap bitcoin mencuat sesudah pasar kian meyakini bank sentral AS masih memiliki peluang mengerek suku bunga dalam kurun waktu beberapa bulan mendatang. 

Pandangan agresif Ketua The Fed Kevin Warsh menjadikan para pemodal mulai mengurangi porsi pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dipandang lebih memikat di tengah tren kenaikan imbal hasil.

Bukan hanya bitcoin, instrumen lindung nilai seperti emas dan perak turut menderita tekanan yang berat. Nilai emas juga jatuh di bawah US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan belakangan, sedangkan perak terlempar di bawah US$ 60 per ons, titik paling rendah sejak akhir 2025.

Pengamat menilai penurunan serempak ini merefleksikan hilangnya pesona ‘debasement trade’, yakni strategi investasi yang selama kurun waktu beberapa tahun terakhir bersandar pada emas, perak, dan bitcoin sebagai instrumen pelindung nilai dari inflasi sekaligus penurunan nilai mata uang.

Keperkasaan dolar AS menjadi salah satu aspek utama yang memberatkan pasar. Indeks dolar AS dilaporkan menanjak sekitar 2,8% sepanjang bulan ini, yang menjadi lompatan bulanan paling masif dalam hampir setahun terakhir.

Dolar yang semakin perkasa menjadikan emas dan perak menjadi lebih tinggi nilainya bagi para pemodal global. Di saat yang sama, kenaikan prediksi suku bunga memperbesar opportunity cost untuk menggenggam aset yang tidak menawarkan imbal hasil seperti logam mulia dan kripto.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua