Harga Minyak Brent dan WTI Tumbang ke Level Terendah 3 Bulan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 24 Juni 2026
Harga Minyak Brent dan WTI Tumbang ke Level Terendah 3 Bulan
Ilustrasi harga minyak dunia turun. (Foto: dok KabarBursa.com)

JAKARTA - Nilai minyak global merosot ke posisi paling rendah dalam kurun lebih dari tiga bulan pasca pasar mulai menghapus premi risiko konflik AS-Iran, seiring adanya progres dalam perundingan antara kedua belah pihak serta besarnya harapan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada sesi perdagangan Selasa, 23 Juni 2026 waktu Amerika Serikat, minyak jenis Brent bertengger di posisi USD77,08 per barel atau menyusut USD4,34 setara 5,3 persen. 

Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendarat di level USD73,21 per barel sesudah melemah USD4,14 atau 5,4 persen.

Kemerosotan nilai jual ini berlangsung setelah mencuatnya dinamika teranyar mengenai perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. 

Pelaku pasar menilai potensi hambatan suplai minyak dari kawasan Timur Tengah mulai merosot, sehingga premi perang yang mulanya mengerek naik harga minyak kini mulai dilepas.

Bukan cuma isu geopolitik, pasar pun menyoroti peluang bertambahnya pasokan minyak dunia apabila aktivitas ekspor Iran kembali beroperasi. 

Sejumlah korporasi keuangan global bahkan sudah mulai memotong prediksi harga minyak mereka untuk semester kedua 2026 sejalan dengan tingginya harapan normalisasi suplai.

Bagi Indonesia, melemahnya harga minyak berpeluang memberikan napas segar bagi tata kelola subsidi serta kompensasi energi yang sempat terbebani sepanjang masa kenaikan harga minyak imbas pertikaian di Timur Tengah.

Sebelum itu, anggaran subsidi energi Indonesia membubung tinggi akibat lonjakan harga minyak selama konflik AS-Iran. Melalui posisi Brent yang kembali berkutat di angka USD77 per barel, beban ekstra bagi pos belanja energi pemerintah berpeluang menyusut jika dikomparasikan ketika harga minyak sempat mendekati kisaran USD100 per barel.

Walau begitu, tingkat harga minyak saat ini sejatinya masih bertengger di atas posisi sebelum perselisihan meletus. Sebelum pecahnya konflik AS-Iran pada akhir Februari 2026, Brent berada di kisaran USD72,48 per barel dan WTI di angka USD67,02 per barel.

Cukup menarik, penyusutan harga minyak tetap berlangsung kendati rilis data cadangan minyak Amerika Serikat memperlihatkan penurunan dalam jumlah yang tergolong besar.

American Petroleum Institute (API) memaparkan cadangan minyak mentah AS menyusut 8,33 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni 2026. Nominal tersebut jauh melampaui ekspektasi pelaku pasar yang memproyeksikan penurunan hanya di kisaran 4,6 juta barel.

Di tengah situasi lumrah, penurunan cadangan minyak dalam volume masif tersebut biasanya menjadi stimulus pendukung harga lantaran merefleksikan suplai yang kian ketat. 

Namun untuk kondisi sekarang, psikologis geopolitik dipandang jauh lebih berpengaruh ketimbang rilis data inventori.

Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, menyebutkan nilai minyak merosot cepat akibat pelaku pasar mengasumsikan Selat Hormuz bakal segera beroperasi kembali.

“Harga minyak mentah turun cepat karena asumsi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa, 23 Juni 2026.

Pasar pun turut mengalkulasi potensi Iran kembali melego minyak ke pasar dunia jikalau kesepakatan dengan pihak Amerika Serikat benar-benar terwujud.

Managing Principal Obsidian Risk Advisors Brett Erickson memprediksi Iran mempunyai koleksi lebih dari 100 juta barel minyak yang tersimpan dalam depot penampungan serta armada kapal tanker yang dapat dilepas ke pasar dalam waktu relatif kilat jikalau blokade ekspor dihapuskan.

Penurunan harga minyak berpeluang ikut meredakan tekanan inflasi sektor energi di skala global. Nilai komoditas energi yang kian bersahabat umumnya berimbas positif pada ongkos transportasi, manajemen logistik, hingga harga jual bahan bakar.

Bagi Indonesia yang posisinya masih bertindak sebagai net importir minyak berikut komoditas BBM, melandainya harga minyak dapat menekan beban impor energi sekaligus menyokong stabilitas fiskal lewat berkurangnya keperluan subsidi serta kompensasi energi.

Kendati demikian, para pelaku pasar masih memantau perkembangan lebih lanjut mengenai eksekusi riil dari kesepakatan AS-Iran serta situasi nyata lalu lintas distribusi minyak di Selat Hormuz. 

Sejumlah pengamat berpendapat bahwa pasar fisik memerlukan durasi yang lebih panjang untuk dapat kembali stabil jika dibandingkan reaksi kilat yang tampak di pasar berjangka.

Oleh sebab itu, walaupun harga minyak sudah terkoreksi dalam beberapa waktu terakhir, arah pergerakan selanjutnya tetap akan disetir oleh dinamika pasokan dari Timur Tengah, rilis berkala stok minyak AS, serta level pemulihan jalur ekspor minyak dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua