Harga CPO BMD Tergelincir Akibat Profit Taking dan Ringgit Menguat

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 24 Juni 2026
Harga CPO BMD Tergelincir Akibat Profit Taking dan Ringgit Menguat
Ilustrasi buah kelapa sawit. (Foto: ANTARA)

JAKARTA  – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot tiba-tiba pada Selasa (23/6/2026), menghentikan tren kenaikan yang terjadi selama dua hari berturut-turut. Faktor pemicu utamanya adalah maraknya aksi ambil untung (profit taking) serta turunnya harga minyak nabati kompetitor.

Merujuk pada data BMD saat penutupan Selasa (23/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 berkurang 10 Ringgit Malaysia ke angka 4.600 Ringgit Malaysia per ton. 

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Agustus 2026 merosot 13 Ringgit Malaysia ke level 4.628 Ringgit Malaysia per ton.

Di sisi lain, kontrak berjangka CPO September 2026 terkoreksi 14 Ringgit Malaysia menjadi 4.658 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 ikut melemah 17 Ringgit Malaysia ke posisi 4.684 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, kontrak berjangka CPO November 2026 tergerus hingga 23 Ringgit Malaysia ke harga 4.706 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak berjangka CPO Desember 2026 jatuh sedalam 21 Ringgit Malaysia menuju 4.733 Ringgit Malaysia per ton.

“Terjadi aksi profit taking setelah reli terakhir. Harga yang sudah tinggi menjadi tekanan bagi pasar karena pembeli mulai membatasi pembelian,” ujar Direktur Pelindung Bestari, Selangor, Paramalingan Supramaniam dikutip dari Bernama.

Melihat pasar global, nilai minyak kedelai (soyoil) di Chicago Board of Trade terpantau tidak bergerak, sedangkan kontrak aktif di Dalian Commodity Exchange menyusut 0,27%. 

Kontrak minyak kelapa sawit di bursa yang sama pun ikut turun sebesar 0,71%.

Kondisi tersebut memperberat beban harga CPO lantaran sifat komoditas-komoditas ini yang saling menggantikan dalam pasar minyak nabati internasional.

Walau begitu, angin segar masih berembus dari sektor ekspor. Catatan dari surveyor kargo Intertek Testing Services memperlihatkan bahwa pengapalan produk minyak sawit Malaysia untuk masa 1–20 Juni melonjak 19,1% dari bulan lalu.

Bahkan, badan inspeksi AmSpec Agri Malaysia merilis angka kenaikan yang lebih besar, yakni menyentuh 25% secara bulanan.

Namun di sisi berbeda, keperkasaan ringgit ikut memberi beban karena menjadikan harga CPO terasa lebih mahal bagi para importir dengan mata uang asing. 

Mata uang ringgit terpantau terapresiasi sebesar 0,19% terhadap dolar AS.

Membaca indikator teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan CPO masih punya peluang untuk menguji titik resistance 4.697 ringgit per ton pada triwulan ketiga, dengan potensi reli lanjutan menuju rentang 4.933–5.226 ringgit jika daya dorong penguatan dapat muncul kembali.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua