Harum Energy Optimistis Produksi MHP Tembus 50.000 Ton di 2026

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 05 Juni 2026
Harum Energy Optimistis Produksi MHP Tembus 50.000 Ton di 2026
Ilustrasi PT Harum Energy Tbk. (HRUM). (Foto: net)

JAKARTA – PT Harum Energy Tbk. (HRUM) mematok target produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) bisa menyentuh 50.000 ton pada tahun ini, menyusul beroperasinya PT Blue Sparking Energy (BSE) secara menyeluruh pada Maret 2026. 

Direktur Utama HRUM Ray Antonio Gunara menjelaskan bahwa BSE sejatinya telah memulai aktivitas produksi sejak penghujung tahun 2025. 

Namun, proses penjualan komersial baru bisa direalisasikan pada akhir Maret 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "BSE membukukan penjualan sebanyak 4.091 ton nikel dalam bentuk MHP," ujar Ray dalam paparan publik, Rabu (3/6/2026).

Ray juga memaparkan bahwa tingkat keterpakaian atau utilisasi dari fasilitas HPAL BSE saat ini sudah hampir menyentuh angka 100%. 

Berkat pencapaian tersebut, pihak HRUM merasa optimistis jika volume produksi MHP sepanjang tahun 2026 mampu menyentuh kisaran antara 45.000 sampai dengan 50.000 ton.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Utilisasi kapasitas PT BSE sudah mendekati 100%, sehingga kami harapkan produksi MHP di BSE dapat mencapai kurang lebih antara 45.000 sampai 50.000 ton sampai akhir tahun 2026 ini," katanya.

Walau demikian, Ray tidak menampik bahwa lonjakan harga sulfur memiliki potensi untuk memengaruhi tatanan struktur biaya produksi BSE ke depannya.

Menurut pemaparannya, imbas dari kenaikan harga sulfur terhadap tatanan biaya BSE tidak akan dirasakan secara seketika karena perseroan masih menyimpan stok sulfur yang dibeli dengan harga lama sebelum lonjakan harga terjadi di awal tahun ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kenaikan biaya produksi dari BSE akan naik secara bertahap, karena sebelum kenaikan signifikan harga sulfur, PT BSE sudah memiliki inventori sulfur yang masih menggunakan harga sebelum kenaikan belakangan ini," ujarnya.

Kendati demikian, ia menambahkan bahwa seiring bergulirnya waktu, BSE mau tidak mau harus tetap membeli sulfur dengan mengikuti harga teraktual yang berlaku di pasar.

Oleh sebab itu, tren kenaikan harga sulfur diprediksi akan mulai terlihat pada beban biaya produksi perseroan.

Ray turut menguraikan bahwa di tengah adanya potensi pembengkakan biaya tersebut, peluang untuk membebankan atau melakukan pass-through kenaikan biaya kepada pihak pembeli masih tetap terbuka, meskipun dalam porsi yang terbatas.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pada umumnya kami bisa mem-pass-through kenaikan biaya itu kepada pelanggan, namun hanya sebatas tingkat tertentu. 

Yang mempengaruhi berapa besar biaya yang bisa di-pass-through adalah demand dan supply dari produk itu sendiri," tutur Ray.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua