Jelang Hari Besar, Harga Pangan di Kaltim Mulai Merangkak Naik

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 21 Mei 2026
Jelang Hari Besar, Harga Pangan di Kaltim Mulai Merangkak Naik
Pedagang di Pasar Segiri Samarinda. (Foto: editorialkaltim.com)

SAMARINDA – Beberapa harga bahan pokok di Kalimantan Timur mulai merangkak naik menjelang hari besar keagamaan. Peningkatan paling signifikan dialami oleh komoditas daging sapi yang sampai sekarang masih mengandalkan pasokan dari luar wilayah.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kalimantan Timur, Heny Purwaningsih, memaparkan lonjakan harga yang berlangsung bukan disebabkan oleh kelangkaan komoditas, melainkan lonjakan konsumsi masyarakat serta tingginya biaya distribusi.

“Ada mulai kenaikan, tapi bukan karena kelangkaan,” ujar Heny.

Ia menerangkan kebutuhan daging sapi di Kaltim masih belum sanggup dipenuhi dari hasil produksi peternak lokal. Keadaan tersebut menjadikan ketersediaan barang sangat bergantung pada kiriman dari luar daerah, terkhusus menjelang momentum hari raya tatkala permintaan melonjak tajam.

“Untuk kebutuhan daging sapi kami masih mengandalkan pasokan dari luar daerah,” katanya.

Berkebalikan dengan daging sapi, keperluan daging ayam di Kalimantan Timur diungkapkan sudah jauh lebih stabil. Malahan mayoritas kebutuhan masyarakat sekarang dapat ditutupi dari hasil produksi lokal.

“Kalau daging ayam kami sudah swasembada. Sekitar 80 sampai 90 persen sudah bisa dipenuhi dari Kaltim sendiri,” jelasnya.

Heny menuturkan masyarakat saat ini pun mulai mempunyai pilihan lain guna mencukupi kebutuhan protein hewani, yaitu lewat produk daging beku. 

Menurut pandangannya, ketersediaan daging beku dapat menyokong stabilitas konsumsi tatkala harga daging segar melambung di pasar.

“Sekarang produk daging beku sebenarnya juga menjadi alternatif bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan daging,” tuturnya.

Bukan cuma daging sapi, beberapa komoditas pangan lainnya turut mengalami kenaikan harga. Walau begitu, DPPKUKM Kaltim menegaskan situasi itu tidak berhubungan dengan persediaan barang yang berkurang.

“Kami akui ada kenaikan, tapi bukan karena kelangkaan. Salah satu komponen penyusun harga jual itu adalah biaya BBM atau biaya transportasi,” katanya.

Menurut Heny, ongkos distribusi masih menjadi kendala utama dalam memanajemen harga pangan. Kenaikan harga BBM berimbas langsung terhadap biaya angkut bahan pokok, apalagi sirkulasi antardaerah di Kaltim masih bersandar pada rute darat dan laut.

Kendati demikian, otoritas memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang hari besar tetap aman serta terkendali.

“Secara keseluruhan menjelang hari besar ini pasokan tetap aman. Tapi memang ada beberapa komoditas tertentu yang mengalami kenaikan harga,” ujarnya.

Ia mengimbuhkan inflasi Kalimantan Timur pada awal Mei 2026 justru mencatatkan penurunan disandingkan dengan periode April lalu. Hal tersebut dipandang menjadi indikator bahwa manajemen pasokan serta harga masih beroperasi dengan cukup efektif.

“Inflasi awal Mei turun dibandingkan inflasi awal April. Artinya upaya pengendalian harga dan ketersediaan pasokan sudah berjalan sesuai harapan,” jelasnya.

DPPKUKM Kaltim pun terus mengalirkan edukasi bagi para distributor serta pedagang supaya penyaluran kebutuhan pokok tetap beroperasi lancar di tengah pembengkakan biaya operasional.

“Kami sampaikan kepada distributor dan pedagang bahwa untuk kebutuhan umum dan bahan pokok diupayakan menggunakan solar subsidi sehingga distribusi tidak terganggu,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua