Mayoritas Harga Batu Bara Ambles Tertekan Penurunan Harga LNG

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 21 Mei 2026
Mayoritas Harga Batu Bara Ambles Tertekan Penurunan Harga LNG
Ilustrasi Batu Bara. (Foto: money.kompas.com)

JAKARTA - Sebagian besar harga batu bara mencatatkan penurunan yang cukup dalam pada sesi transaksi Rabu (20/5/2026). 

Kemerosotan ini disebabkan oleh berkurangnya kecemasan para pelaku pasar atas hambatan ketersediaan energi global serta anjloknya nilai gas alam cair (LNG).

Bukan hanya itu, atensi pasar saat ini sedang diarahkan pada program Pemerintah Indonesia yang bermaksud memperketat kontrol terhadap aktivitas ekspor komoditas strategis. 

Pergeseran regulasi dari salah satu negara pemasok terbesar di dunia tersebut diperkirakan akan memengaruhi psikologis pasar energi, terkhusus pada kawasan Asia.

Mengacu pada data transaksi yang dilansir dari Investor Daily, pergerakan nilai batu bara Newcastle untuk pasokan Mei 2026 sejatinya masih menguat tipis US$ 0,05 menuju US$ 132,45 per ton. 

Akan tetapi, kontrak Juni 2026 merosot tajam senilai US$ 1,95 ke level US$ 137,45 per ton, diikuti kontrak Juli 2026 yang ambles US$ 1,75 menuju posisi US$ 140,15 per ton.

Keadaan yang sejalan turut melanda harga batu bara Rotterdam. Kontrak Mei 2026 terapresiasi tipis US$ 0,05 menjadi US$ 112,5 per ton.

 Sebaliknya, pasokan Juni 2026 terpangkas US$ 1,15 ke angka US$ 121,95 per ton, serta kontrak Juli 2026 merosot US$ 2 pada level US$ 122,9 per ton.

Pelemahan nilai komoditas tersebut tervalidasi sesudah ancaman krisis energi global dipandang merosot. Bersandarkan data TradingView, penurunan risiko itu berlangsung seirama dengan kembali normalnya arus pengiriman LNG yang melewati rute Teluk Persia.

Beberapa kapal tanker LNG milik Uni Emirat Arab (UEA) diinformasikan sudah kembali berlayar melintasi rute laut tersebut. Dinamika ini meminimalkan kepanikan pasar terhadap potensi tersumbatnya ketersediaan energi akibat eskalasi perselisihan di Timur Tengah.

Imbas langsung dari penurunan nilai gas alam ini menjadikan urgensi pemanfaatan batu bara selaku bahan bakar substitusi pembangkit listrik kian menyusut. Kendati tengah tertekan, tarif batu bara saat ini sebenarnya masih menetap pada level yang terbilang tinggi.

Komoditas ini terdata masih membukukan peningkatan berkisar 22% semenjak awal tahun. Apresiasi masif itu sebelumnya disokong oleh besarnya kebutuhan energi internasional tatkala pertikaian Timur Tengah sedang memanas.

Sorotan Terhadap Kebijakan Ekspor Indonesia

Aspek lain yang terus diamati pasar ialah rencana strategis otoritas Indonesia yang hendak mengonsolidasikan seluruh kegiatan ekspor komoditas krusial lewat lembaga kepunyaan negara. 

Regulasi anyar ini dipastikan turut melibatkan tata kelola pengapalan batu bara.

Kebijakan restrukturisasi ekspor itu dipandang mempunyai kapasitas besar dalam memengaruhi sirkulasi niaga komoditas serta sistem formulasi harga energi global demi periode jangka menengah. 

Indonesia memegang andil vital lantaran statusnya selaku salah satu eksportir batu bara termal paling besar di dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua