JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026.Mata uang Garuda diperkirakan menghadapi tekanan seiring meningkatnya ketidakpastian global serta sejumlah faktor eksternal yang memengaruhi sentimen pasar. Kondisi ini membuat investor memantau dengan cermat perkembangan geopolitik serta kebijakan ekonomi global. Perubahan kecil dalam faktor tersebut dapat berdampak langsung terhadap pergerakan mata uang negara berkembang. Oleh karena itu, dinamika rupiah hari ini tidak lepas dari berbagai sentimen internasional maupun domestik.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan mengalami pelemahan atau depresiasi pada hari ini, Jumat (6/3/2026). Apa saja sentimen yang membayangi gerak rupiah hari ini? Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.905 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,28% ke level 99,04. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah datang bersamaan dengan penguatan mata uang Amerika Serikat di pasar global.
Baca JugaHarga Cabai dan Bumbu Dapur di Bojonegoro Naik Signifikan Selama Ramadan 2026
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.900-Rp16.940 per dolar AS pada hari ini. Ibrahim menuturkan sejumlah sentimen yang membayangi gerak rupiah. Salah satunya, tensi geopolitik di Timur Tengah yang memanas. Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global. Situasi ini biasanya membuat pelaku pasar cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar
Ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan mata uang di pasar global. Konflik yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah membuat investor berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Ketidakpastian geopolitik sering kali memicu volatilitas di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut juga berdampak pada nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek.
Hal itu terjadi setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, menyebabkan jutaan penduduk berlindung di tempat perlindungan bom saat konflik memasuki hari keenam dan hanya beberapa jam setelah upaya untuk menghentikan serangan udara AS diblokir di Washington DC, AS.
Peristiwa ini menambah ketegangan yang telah berlangsung beberapa hari terakhir. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan. Pasar global pun merespons situasi tersebut dengan meningkatkan kewaspadaan.
Pada Rabu, sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka, menewaskan sedikitnya 80 orang, dan pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki. Insiden ini memperlihatkan bahwa konflik telah melibatkan berbagai pihak di kawasan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara militer, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global. Ketegangan tersebut meningkatkan risiko geopolitik yang menjadi perhatian investor internasional. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang dunia.
Gangguan Jalur Energi Dunia Tambah Kekhawatiran
Pasokan energi global juga menjadi salah satu faktor yang menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Gangguan terhadap jalur distribusi energi dapat memicu lonjakan harga komoditas dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Investor biasanya merespons situasi tersebut dengan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Akibatnya, mata uang negara berkembang sering kali mengalami tekanan. Hal ini pula yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Pasukan Iran telah menyerang kapal tanker minyak di atau dekat Selat Hormuz. Ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut Operasi Perdagangan Maritim Inggris. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting dalam distribusi energi dunia. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak global. Kondisi ini kemudian memicu kekhawatiran baru di pasar energi internasional.
Eskalasi tersebut terjadi ketika putra Khamenei yang telah tewas muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikannya. Situasi politik di Iran pun menjadi perhatian internasional. Ketidakpastian kepemimpinan di negara tersebut dapat memengaruhi dinamika politik kawasan. Hal ini turut menambah tekanan terhadap stabilitas geopolitik global. Investor pun terus memantau perkembangan situasi tersebut dengan cermat.
Sentimen Kebijakan Moneter Amerika Serikat
Selain faktor geopolitik, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga memberikan pengaruh terhadap pergerakan mata uang global. Keputusan terkait suku bunga oleh bank sentral AS sering kali menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kebijakan tersebut dapat memengaruhi arus modal internasional dan nilai tukar berbagai mata uang. Oleh sebab itu, setiap perkembangan terkait kebijakan moneter AS akan berdampak pada pasar keuangan global. Rupiah juga tidak luput dari pengaruh tersebut.
Dalam perkembangan lain, Presiden ASDonald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, sebuah langkah yang dipandang ramah terhadap penurunan suku bunga oleh pasar. Keputusan ini memicu berbagai spekulasi mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Pelaku pasar menilai langkah tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat. Dampaknya juga berpotensi dirasakan oleh mata uang negara berkembang. Oleh karena itu, pasar terus mencermati perkembangan kebijakan tersebut.
Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga
Di tengah tekanan global, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Berbagai indikator ekonomi menunjukkan stabilitas yang relatif terjaga. Hal ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa perekonomian domestik masih memiliki daya tahan yang baik. Dukungan dari sektor perbankan serta stabilitas sistem keuangan turut memperkuat kondisi tersebut. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi dalam negeri.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia merespons penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada BBB dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negative. Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Selain itu, penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga dengan baik.
Kemudian, stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang meluas, ditopang oleh infrastruktur yang stabil, dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi. Berbagai faktor tersebut memberikan fondasi yang cukup kuat bagi perekonomian nasional. Hal ini juga menjadi salah satu penopang kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Pergerakan Rupiah di Pasar Asia
Pergerakan rupiah pada perdagangan pagi juga menunjukkan kecenderungan pelemahan. Situasi ini terjadi bersamaan dengan pergerakan berbagai mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Meskipun demikian, tidak semua mata uang regional mengalami depresiasi. Beberapa mata uang justru menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang cukup beragam di kawasan Asia.
Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05, rupiah dibuka turun sebesar 15 basis point atau 0,09% menuju level Rp16.920 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,36% ke posisi 98,95. Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia lainnya yang ikut mengalami pelemahan adalah dolar Hong Kong sebesar 0,03%, lalu Peso Filipina terdepresiasi sebesar 0,43%, serta ringgit Malaysia melemah sebesar 0,16%. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan.
Sebaliknya, yen Jepang menguat terhadap dolar AS sebesar 0,06%, dolar Singapura terpantau turut menguat 0,14%. Senasib, won Korea menguat 0,39%, diikuti rupee India terapresiasi sebesar 0,59%. Yuan China naik sebesar 0,07%, serta baht Thailand ikut menghijau 0,04%. Variasi pergerakan mata uang tersebut mencerminkan kondisi pasar yang dinamis. Investor pun terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang ke depan.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Jadwal Liga Spanyol Pekan Ini Madrid Tantang Celta Vigo Barcelona Hadapi Bilbao
- Jumat, 06 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Beras di Delta Mekong Relatif Stabil Meskipun Aktivitas Perdagangan Lemah
- Jumat, 06 Maret 2026
Cara Cek Daftar Penerima BLT Kesra Rp900.000 Jelang Lebaran 2026 Secara Online
- Jumat, 06 Maret 2026










.jpg)

