JAKARTA - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif bukan hanya mengubah cara kita beraktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi pendorong kuat pergerakan pasar saham, khususnya di sektor energi. Revolusi teknologi ini ternyata memiliki efek lanjutan yang signifikan terhadap harga energi dan komoditas, membawa investor serta pasar modal menata ulang strategi portofolio mereka. Dari lonjakan saham teknologi hingga meningkatnya kebutuhan listrik pusat data, fenomena ini menegaskan bahwa hubungan antara dunia digital dan fisik semakin erat.
AI Memicu Lonjakan Permintaan Energi
Kecerdasan buatan kini hampir tak bisa dipisahkan dari kehidupan modern, terutama dari aktivitas bisnis dan teknologi yang terus berkembang pesat. AI tidak hanya populer, tetapi juga semakin dibutuhkan dalam berbagai aspek operasional perusahaan besar dan kecil. Hal ini secara langsung menciptakan kebutuhan luar biasa terhadap daya listrik dan sumber energi lain untuk mendukung pusat data yang menjadi otak dari sistem AI tersebut.
Baca JugaFilm “Monster Pabrik Rambut” Tampil Perdana di Berlinale 2026 dengan Sambutan Hangat
Pusat data berbasis AI bekerja tanpa henti untuk memproses jutaan permintaan, dan tiap proses membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar. Bahkan, satu permintaan model bahasa besar seperti GPT-4 bisa menghabiskan sekitar 10 kali lebih banyak energi dibanding pencarian sederhana di mesin pencari. Ketika jutaan pengguna mengakses teknologi serupa, konsumsi daya listriknya dapat menyamai kebutuhan energi sebuah negara. Tren inilah yang kemudian mendorong fase bullish baru dalam pasar komoditas energi, berbeda dari fase kenaikan pasca-pandemi sebelumnya. Dunia menyadari bahwa untuk menggerakkan sistem digital yang semakin cerdas diperlukan sumber daya fisik yang kuat berupa energi.
Energi Konvensional Mendapat “Angin Segar” dari Kebutuhan AI
Ironisnya, di tengah kampanye global menuju masa depan yang hijau, kebutuhan energi dari penggunaan AI justru kembali mengangkat peran energi konvensional, seperti gas alam, batubara, dan nuklir. Energi fosil ini kini menjadi sumber keuntungan utama karena mampu menyediakan energi dasar atau baseload — yaitu energi yang konsisten 24 jam sehari dan tidak tergantung pada kondisi cuaca seperti matahari atau angin.
Permintaan yang melonjak ini membuat produk investasi seperti ETF Energy Select Sector SPDR Fund mengalami tren positif. Perusahaan-perusahaan besar seperti ExxonMobil dan Chevron menjadi primadona dalam indeks tersebut. Investor mencatat bahwa energi fosil kini memiliki arus kas kuat yang memungkinkan perusahaan membagikan dividen besar serta melakukan pembelian kembali saham, alih-alih menghabiskan modal untuk eksplorasi.
Posisi Energi Terbarukan dalam Lanskap Baru
Meski energi konvensional mendapatkan tekanan kuat dari lonjakan permintaan AI, energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin masih memiliki peran yang signifikan namun berubah. Teknologi bersih tidak akan tertinggal sepenuhnya, namun fungsinya kini lebih banyak sebagai penyangga dalam strategi korporasi dan kepatuhan terhadap standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Perusahaan teknologi terbesar dunia, seperti Google, Amazon, dan Microsoft, terus menjanjikan target net-zero emission, sekaligus menjadi pembeli utama kontrak jangka panjang untuk energi terbarukan. Kesepakatan pembelian tenaga listrik dari sumber bersih ini memberikan kepastian pendapatan bagi pengembang energi terbarukan. Selain itu, ketertarikan pada solusi seperti reaktor modular kecil (Small Modular Reactors) — dianggap sebagai energi “bersih” yang dapat memberikan baseload — semakin meningkat.
Sementara itu, ETF yang melacak energi bersih memiliki daya tahan harga yang kuat meskipun pergerakannya tidak secepat indeks energi fosil. Hal ini karena permintaan jangka panjang terhadap energi bersih sering dikunci dalam kontrak panjang yang mengikat secara hukum antara perusahaan pemakai energi dan penyedia.
Faktor Geopolitik dan AI dalam Pergerakan Harga Energi
Investor sering mempertanyakan apakah kenaikan harga energi sepenuhnya disebabkan oleh revolusi AI atau ada faktor lain yang turut memengaruhinya. Di satu sisi, konflik geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah dan konflik di Ukraina terus memberi tekanan pada pasokan energi global. Sanksi dan perang menyebabkan pasokan menjadi langka, mahal, serta sangat sensitif terhadap kabar terbaru.
Namun dalam skema yang lebih luas, permintaan yang berasal dari penggunaan AI bekerja sebagai faktor permintaan (demand-side) yang lebih stabil dan sifatnya kurang elastis. Artinya, permintaan energi untuk pusat data dan infrastruktur AI relatif tidak menurun meskipun harga melambung tinggi. Dibandingkan ketegangan geopolitik yang hanya memicu fluktuasi jangka pendek, kebutuhan energi dari revolusi AI mampu mengangkat harga ke rezim “higher for longer” — atau harga yang tinggi dalam waktu yang lebih panjang.
Kini dunia berebut, bukan hanya minyak untuk transportasi, melainkan listrik untuk sistem AI. Akibatnya, harga energi kemungkinan tidak akan kembali ke level rendah seperti dekade sebelumnya.
Strategi Investasi dan Peluang di Tengah Transformasi Energi
Dalam lingkungan pasar yang berubah cepat ini, investor perlu menata ulang strategi investasi mereka. Diversifikasi portofolio menjadi penting, bukan hanya berfokus pada satu sektor. Produk investasi terhadap energi konvensional menawarkan keunggulan dalam menangkap keuntungan dari harga gas dan minyak yang stabil tinggi. Di sisi lain, alokasi pada saham energi bersih dapat memberikan pertumbuhan jangka panjang seiring meningkatnya komitmen perusahaan besar terhadap energi ramah lingkungan.
Selain itu, eksposur pada saham sektor logam industri juga penting. Proyek pembangunan infrastruktur besar, termasuk jaringan listrik dan pusat data, memerlukan logam seperti tembaga dalam jumlah masif. Saham perusahaan yang bergerak di industri ini bergerak sesuai permintaan global, sehingga menjadi pilihan investasi menarik.
Bagi investor ritel, strategi pembelian rutin seperti Dollar-Cost Averaging (DCA) juga membantu dalam menekan risiko volatilitas pasar dan menjaga efisiensi biaya akuisisi saham. Pendekatan ini memungkinkan pembelian secara berkala tanpa terpengaruh oleh sentimen pasar jangka pendek.
Revolusi AI sejatinya bukan hanya tentang algoritma yang bekerja di balik layar, tetapi juga tentang bagaimana perang untuk daya dan sumber daya alam memengaruhi perekonomian dunia. Dengan memahami narasi makro ini, investor dapat menemukan peluang untuk ikut serta dalam pertumbuhan yang sedang berlangsung dan memiliki bagian di perusahaan-perusahaan yang menjadi penopang dunia digital masa depan.
Fery
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kilau Emas Antam Kian Menyala Dengan Kenaikan 28 Ribu Rupiah Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat 20 Februari 2026 Beserta Rekomendasi Saham Pilihan
- Jumat, 20 Februari 2026
IHSG Berpotensi Menuju Level Psikologis 8.500 Simak Deretan Saham Unggulan Analis Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
Sinergi DSLNG Dan Petani Honbola Bangkitkan Optimisme Budidaya Jagung Berkelanjutan
- Jumat, 20 Februari 2026
Berita Lainnya
Transformasi Infrastruktur Data Dorong AI ASEAN Masuki Era Produksi 2026
- Jumat, 20 Februari 2026
Cara Daftar Haji Plus 2026, Lengkap dengan Syarat & Langkah-langkahnya
- Jumat, 20 Februari 2026
Khotbah Jumat Pertama Ramadan 2026: Nilai Kemanusiaan dan Penguatan Iman
- Jumat, 20 Februari 2026
Pemprov dan Polda Banten Perkuat Koordinasi untuk Pastikan Ramadan 2026 Aman dan Stabil
- Jumat, 20 Februari 2026




.jpg)







