JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kesepakatan tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) akan lebih terfokus pada sektor perdagangan.
Dalam penjelasannya, Airlangga memastikan bahwa ART kali ini hanya akan mencakup aspek perdagangan dan investasi, tanpa memasukkan isu-isu yang lebih luas, seperti kebijakan pertahanan dan keamanan, atau sengketa wilayah internasional.
“Berbeda dengan berbagai perjanjian ART dengan negara lain, Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang non-ekonomi. Misalnya, isu terkait pengembangan reaktor nuklir, Laut China Selatan, serta pertahanan dan keamanan perbatasan. Jadi, ART kali ini akan murni membahas perdagangan,” jelas Airlangga.
Baca JugaSinergi DSLNG Dan Petani Honbola Bangkitkan Optimisme Budidaya Jagung Berkelanjutan
Langkah ini menandai fokus baru dalam hubungan perdagangan antara Indonesia dan AS, yang dipandang sebagai upaya untuk memperkuat kemitraan ekonomi tanpa melibatkan kontroversi atau aspek politik lainnya. Hal ini juga menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperdalam kerja sama yang lebih konkret dalam bidang ekonomi.
Kesepakatan Tarif Resiprokal dan Fasilitas Bebas Tarif
Dalam perundingan ART yang baru saja diselesaikan di Washington, kedua negara sepakat mengenai tarif resiprokal untuk produk Indonesia yang diimpor oleh AS.
AS akan mempertahankan tarif resiprokal sebesar 19% untuk produk impor Indonesia, kecuali untuk beberapa produk tertentu yang akan dikenakan tarif 0%. Hal ini menunjukkan adanya fleksibilitas dalam kebijakan tarif yang menguntungkan perdagangan kedua negara.
Salah satu hal yang disoroti dalam kesepakatan ini adalah pembentukan mekanisme khusus yang memungkinkan produk tekstil dan garmen Indonesia mendapatkan fasilitas tarif 0% untuk volume tertentu.
Kuota pembebasan tarif ini akan dihitung berdasarkan volume ekspor tekstil yang diproduksi menggunakan kapas dan serat buatan asal AS. Ini adalah kabar baik bagi industri tekstil Indonesia yang selama ini menjadi salah satu sektor unggulan dalam ekspor.
Selain itu, ada pula fasilitas tarif 0% untuk lebih dari seribu produk Indonesia lainnya yang dapat menikmati pembebasan tarif. Produk-produk tersebut meliputi minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, serta komponen pesawat terbang, yang berpotensi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar internasional.
Komitmen AS terhadap Peningkatan Akses Pasar Indonesia
Penandatanganan ART yang dilakukan oleh Airlangga Hartarto dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, juga mencerminkan komitmen AS untuk meningkatkan akses pasar bagi produk-produk Indonesia.
Dengan adanya fasilitas tarif 0% untuk sejumlah produk, AS membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk memperluas ekspor ke pasar Amerika. Airlangga juga menggarisbawahi bahwa perundingan ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat hubungan dagang kedua negara.
“Kesepakatan ini tidak hanya mengenai tarif, tetapi juga menunjukkan adanya mekanisme yang jelas untuk memperkuat sektor perdagangan dan investasi di kedua negara,” tambahnya.
Dengan demikian, perjanjian ini bertujuan untuk menciptakan hubungan perdagangan yang lebih teratur dan saling menguntungkan.
Pentingnya Fokus pada Ekonomi dalam Perjanjian ART
Kesepakatan ini menunjukkan bahwa kedua negara memprioritaskan hubungan perdagangan murni tanpa terpengaruh oleh isu-isu politik dan keamanan yang seringkali memengaruhi perjanjian internasional.
Dalam pertemuan sebelumnya, banyak perjanjian serupa antara negara-negara lain yang mencakup masalah-masalah sensitif selain perdagangan, namun Indonesia dan AS sepakat untuk menjaga agar ART hanya mencakup bidang ekonomi.
Bagi Indonesia, langkah ini dapat membuka banyak peluang dalam memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan negara dari sektor perdagangan internasional. Selain itu, ART juga menjadi bukti bahwa Indonesia semakin aktif dalam menjalin kemitraan ekonomi dengan negara-negara besar seperti AS.
Keterbukaan terhadap perjanjian tarif yang saling menguntungkan ini diharapkan akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi perekonomian Indonesia.
Meningkatkan Potensi Ekspor Indonesia ke Pasar Global
Fasilitas tarif yang diberikan oleh AS akan memberikan dampak positif terhadap daya saing produk-produk Indonesia di pasar global, terutama di pasar Amerika yang selama ini menjadi tujuan ekspor utama bagi banyak produk unggulan Indonesia.
Produk-produk seperti minyak sawit, kopi, dan tekstil Indonesia, yang mendapat kuota pembebasan tarif, berpotensi memperoleh posisi yang lebih kuat di pasar AS.
Selain itu, dengan pembebasan tarif untuk komoditas seperti karet, rempah-rempah, dan komponen elektronik, Indonesia dapat memperluas pasar bagi sektor-sektor yang selama ini memiliki potensi besar namun belum sepenuhnya tereksplorasi.
Dengan adanya perjanjian ini, Indonesia semakin diperhitungkan dalam kancah perdagangan internasional, membuka peluang lebih besar untuk peningkatan ekonomi jangka panjang.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kilau Emas Antam Kian Menyala Dengan Kenaikan 28 Ribu Rupiah Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat 20 Februari 2026 Beserta Rekomendasi Saham Pilihan
- Jumat, 20 Februari 2026
IHSG Berpotensi Menuju Level Psikologis 8.500 Simak Deretan Saham Unggulan Analis Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
Sinergi DSLNG Dan Petani Honbola Bangkitkan Optimisme Budidaya Jagung Berkelanjutan
- Jumat, 20 Februari 2026
Berita Lainnya
Rekomendasi Hunian Terjangkau Tahun 2026 Melalui Lima Pilihan Rumah Murah Di Kanigoro
- Jumat, 20 Februari 2026
Sinergi Strategis SLB Dan Star Energy Perkuat Akselerasi Transisi Energi Panas Bumi
- Jumat, 20 Februari 2026
Pemerintah Akselerasi Proyek Panas Bumi Sekincau Melalui Tahapan Perencanaan Dan Pengeboran
- Jumat, 20 Februari 2026
Sinergi Penyesuaian Harga BBM dan Kenaikan UMK Perkuat Optimisme Bisnis Bali
- Jumat, 20 Februari 2026




.jpg)







