Tradisi Mudik Lebaran Indonesia Menjadi Simbol Kekerabatan dan Budaya
- Jumat, 20 Februari 2026
JAKARTA - Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, jutaan warga Indonesia bersiap untuk pulang ke kampung halaman, fenomena yang dikenal sebagai mudik. Istilah ini ternyata memiliki sejarah kebahasaan yang menarik.
Mengutip situs Indonesia Baik milik Kementerian Komunikasi dan Informatika, kata mudik berasal dari bahasa Jawa, “mulih dilik”, yang berarti pulang sebentar. Frasa ini merujuk pada aktivitas seseorang yang kembali ke tempat asalnya meski hanya singkat.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa mudik berarti pergi ke udik, atau ke pedalaman, sebelum pulang ke kampung halaman. Asal-usul kata ini menunjukkan unsur pergerakan dari pusat kota menuju daerah asal yang biasanya berada di pedalaman atau hulu sungai.
Baca Juga10 Cara Whatsapp Centang Satu Tapi Online, Tanpa Mematikan Data!
Profesor Heddy Shri Ahimsa-Putra dari Universitas Gadjah Mada menambahkan, mudik berasal dari kata Melayu “udik”, yang berarti hulu sungai atau ujung sungai. Orang merantau ke hilir untuk mencari penghidupan, lalu kembali ke hulu prinsip ini menjadi cikal bakal tradisi mudik modern.
Evolusi Tradisi Mudik dari Sungai ke Kota
Sejak masa lampau, sungai menjadi jalur utama mobilitas masyarakat Nusantara. Sebelum transportasi darat berkembang, orang yang merantau akan kembali ke hulu sungai sebagai tempat asal mereka. Fenomena ini kemudian menyatu dengan tradisi keagamaan, sehingga lahirlah mudik Lebaran yang kita kenal sekarang.
Seiring meningkatnya urbanisasi, tradisi mudik menjadi fenomena massal. Kementerian Perhubungan mencatat, sejak era 1970-an, warga dari desa-desa mulai merantau ke Jakarta dan kota besar lain untuk bekerja. Mobilitas ini memunculkan kebutuhan untuk pulang secara berkala, terutama menjelang Idul Fitri.
Profesor Purnawan Basundoro dari Universitas Airlangga menegaskan, pola perantauan dan kembali ke kampung mulai terbentuk pascakemerdekaan, saat mobilitas sosial dan ekonomi meningkat. Jakarta menjadi magnet bagi penduduk dari berbagai daerah, sehingga tradisi mudik pun mengakar secara sosial.
Mudik Sebagai Tradisi Kolektif dan Spiritual
Aktivitas mudik awalnya bersifat individual dan sporadis. Namun, seiring waktu, mudik melembaga sebagai tradisi kolektif yang dinanti masyarakat. Hari Raya Idul Fitri menjadi momen ideal karena bertepatan dengan libur panjang dan memiliki nilai spiritual untuk bersilaturahmi.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan tren peningkatan jumlah pemudik setiap tahun, kecuali saat pandemi. Hal ini membuktikan bahwa mudik bukan sekadar wisata, melainkan kebutuhan sosial dan budaya yang melekat pada identitas masyarakat Indonesia.
Mudik kini melibatkan berbagai suku, agama, dan latar belakang, menandakan tradisi ini telah berevolusi menjadi fenomena nasional. Tradisi ini memperkuat solidaritas sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah modernisasi.
Persiapan Infrastruktur dan Moda Transportasi
Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, bekerja sama dengan operator transportasi untuk memastikan arus mudik lancar. Infrastruktur jalan diperbaiki, armada transportasi ditambah, dan sistem one way maupun ganjil-genap diterapkan di ruas tol.
Berbagai moda transportasi darat, laut, dan udara disiapkan untuk mengakomodasi jutaan pemudik. Inovasi dan evaluasi dilakukan setiap tahun agar arus mudik tetap aman dan efisien. Upaya ini menunjukkan pentingnya mudik dalam skala nasional, tidak hanya sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai tantangan logistik.
Fenomena ini juga berdampak ekonomi signifikan. Di kampung halaman, perputaran uang meningkat drastis karena pemudik berbelanja kebutuhan Lebaran. Sementara itu, kota besar seperti Jakarta mengalami perlambatan ekonomi sementara karena penduduknya meninggalkan kota.
Dimensi Sosial dan Budaya Mudik
Mudik memiliki fungsi sosiologis yang kuat. Tradisi ini memelihara ikatan kekerabatan yang mungkin renggang karena jarak dan kesibukan sehari-hari. Silaturahmi yang terjalin memperkuat modal sosial, menjaga nilai kebersamaan, dan memupuk rasa identitas budaya.
Lebih dari perjalanan fisik, mudik adalah perjalanan emosional dan kultural. Tradisi ini menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus merajut kembali benang-benang keluarga yang sempat terputus. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun modernisasi mengubah pola hidup, akar budaya tetap dijaga masyarakat.
Dengan segala dinamika, mudik tetap menjadi ritual yang dinanti. Dari asal-usul kata hingga dampak sosial dan ekonomi, tradisi ini menggambarkan kekayaan budaya Indonesia.
Jutaan pemudik di jalan raya, stasiun, bandara, dan pelabuhan menegaskan bahwa mudik bukan sekadar perjalanan, tetapi simbol identitas kolektif bangsa.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Cara Membuat Kentang Mustofa Gurih dan Kriuk Jadi Menu Sahur Ramadhan
- Jumat, 20 Februari 2026
12 Resep Menu Sahur Sehat dan Bergizi Agar Tubuh Tetap Bertenaga Saat Puasa
- Jumat, 20 Februari 2026
Berita Lainnya
Pemprov dan Polda Banten Perkuat Koordinasi untuk Pastikan Ramadan 2026 Aman dan Stabil
- Jumat, 20 Februari 2026
Pemkot Madiun Gelar Aksi Berbagi Takjil Selama Ramadan di 30 Titik dengan 150 Paket Setiap Hari
- Jumat, 20 Februari 2026
Terpopuler
1.
Cara Mengaktifkan eSIM di iPhone Dijamin Anti Gagal dan No Signal!
- 20 Februari 2026
2.
10 Cara Whatsapp Centang Satu Tapi Online, Tanpa Mematikan Data!
- 20 Februari 2026












