JAKARTA - Perkembangan teknologi yang melaju cepat sering kali menjadi tolok ukur relevansi seorang tokoh di tengah perubahan zaman.
Namun, tidak semua pemikiran kehilangan makna ketika teknologi berganti. Hal inilah yang disoroti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat memberikan sambutan dalam peluncuran delapan buku yang merekam perjalanan hidup 70 tahun Prof Yusril Ihza Mahendra.
Dalam pandangan Gibran, Yusril merupakan figur langka yang mampu melintasi berbagai era, mulai dari masa mesin tik hingga kecerdasan buatan. Perjalanan panjang tersebut dinilai bukan sekadar catatan waktu, melainkan bukti konsistensi gagasan dan pemikiran yang tetap relevan hingga hari ini.
Baca JugaPrabowo Soroti Potensi Dana Umat Capai Rp500 Triliun Nasional
Acara peluncuran buku yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, 7 Februari 2026 menjadi momentum refleksi tentang pentingnya keteladanan intelektual bagi generasi muda. Di hadapan para tamu undangan, Gibran menekankan bahwa pengalaman lintas zaman Yusril layak menjadi sumber inspirasi nasional.
Peluncuran buku ini juga menegaskan bahwa kontribusi pemikiran tidak dibatasi oleh usia atau perubahan teknologi, melainkan oleh kedalaman gagasan dan komitmen pada nilai-nilai kebangsaan.
Yusril Tokoh Lintas Zaman Dari Mesin Tik Hingga AI
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyebut Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra sebagai tokoh lintas zaman, dari era mesin tik hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
“Prof Yusril hidup di era sejak mesin tik. Namun gagasan dan pemikirannya sampai sekarang masih relevan di era digital dan AI. Ini luar biasa, Bapak-Ibu tepuk tangan untuk Prof. Yusril,” kata Gibran dalam sambutannya di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Menurut Gibran, kemampuan Yusril menjaga relevansi pemikiran di tengah perubahan zaman merupakan bukti kualitas intelektual yang tidak lekang oleh waktu. Ia menilai, pemikiran yang kuat justru mampu beradaptasi dan tetap memberikan solusi dalam konteks yang berbeda.
Gibran menyampaikan bahwa perjalanan panjang Yusril di berbagai era pemerintahan menunjukkan kapasitas kepemimpinan dan keilmuan yang jarang dimiliki tokoh lain di Indonesia.
Delapan Buku Rekam Jejak Tujuh Puluh Tahun Pemikiran
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga menyampaikan ucapan selamat atas peluncuran delapan buku yang merekam perjalanan hidup dan pemikiran Yusril Ihza Mahendra selama 70 tahun.
Ia meyakini, buku-buku tersebut bukan hanya menjadi dokumentasi perjalanan pribadi, tetapi juga menyimpan gagasan dan pemikiran yang bernilai bagi bangsa.
Menurut Gibran, rekam jejak pemikiran Yusril yang tertuang dalam buku dapat menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi generasi muda yang tengah mencari figur teladan dalam bidang hukum, tata negara, dan kepemimpinan.
Buku perjalanan hidup ini diharapkan mampu membuka wawasan pembaca tentang pentingnya konsistensi nilai, integritas, serta keberanian intelektual dalam menghadapi dinamika politik dan hukum nasional.
Figur Serba Bisa Di Berbagai Bidang
Lebih lanjut, Gibran menilai Yusril sebagai tokoh serba bisa karena kiprahnya yang luas di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, hukum, tata negara, hingga politik.
Pengalaman tersebut menjadikan Yusril sebagai figur yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga praktik pemerintahan secara langsung.
“Sebagai anak muda, saya harus banyak belajar dari beliau, dari pengalaman-pengalaman beliau. Beliau adalah guru besar hukum tata negara di usia 42 tahun,” ujar Gibran.
Menurutnya, capaian akademik dan pengalaman panjang Yusril menjadi bukti bahwa keilmuan dan pengabdian dapat berjalan seiring. Hal ini dinilai penting untuk diteladani oleh generasi penerus bangsa.
Jejak Panjang Di Berbagai Era Pemerintahan
Gibran kemudian memaparkan rekam jejak Yusril Ihza Mahendra di berbagai era pemerintahan Indonesia. Ia menyebut Yusril sebagai pendiri Partai Bulan Bintang dan pernah menjabat Menteri Hukum dan Perundang-undangan.
Selain itu, Yusril juga pernah mengemban amanah sebagai Menteri Kehakiman dan HAM pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Yusril menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara. Saat ini, ia kembali dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi siapapun Presidennya, Menterinya Prof. Yusril,” seloroh Gibran yang disambut tawa hadirin.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kapasitas dan pemikiran Yusril mampu melampaui batas-batas politik praktis, menjadikannya figur yang terus relevan dan dibutuhkan oleh negara di berbagai masa.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Bangun Kosambi Sukses Catat Marketing Sales Tinggi Sepanjang Tahun
- Sabtu, 07 Februari 2026
OJK Proyeksikan Pembiayaan Multifinance Tumbuh Stabil Sepanjang Tahun 2026
- Sabtu, 07 Februari 2026
KPR BCA Diproyeksikan Stabil Tumbuh Didukung Insentif Properti Nasional
- Sabtu, 07 Februari 2026
OJK Proyeksikan Pembiayaan Multifinance Tumbuh Stabil Sepanjang Tahun 2026
- Sabtu, 07 Februari 2026
KPR BCA Diproyeksikan Stabil Tumbuh Didukung Insentif Properti Nasional
- Sabtu, 07 Februari 2026
Berita Lainnya
Mekanisme Penyaluran Makan Bergizi Gratis Selama Ramadhan Tetap Berjalan
- Minggu, 08 Februari 2026
Pemerintah Bertekad Turunkan Biaya Haji Demi Pelayanan Jemaah Lebih Baik
- Minggu, 08 Februari 2026
LRT Jakarta Velodrome Manggarai Ditargetkan Angkut 80 Ribu Penumpang
- Minggu, 08 Februari 2026
Terpopuler
1.
Pilihan Konser Akhir Pekan Seru Dari JKT48 Hingga SM*SH
- 08 Februari 2026
2.
3.
Air Cucian Beras Manfaat Alami Untuk Wajah Sehat Cerah Alami
- 08 Februari 2026
4.
7 Kebiasaan Sehari Hari Pemicu Rambut Rontok Perlu Segera Dihindari
- 08 Februari 2026
5.
5 Makanan Tinggi Protein Penting Untuk Usus Dan Pencernaan Sehat
- 08 Februari 2026











