JAKARTA - Persoalan sampah plastik yang mengotori pesisir Bali kembali menjadi sorotan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar di Sentul, Jawa Barat.
Presiden menekankan pentingnya upaya lebih agresif dan terintegrasi untuk mengatasi masalah sampah, terutama di Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata internasional.
Respon atas peringatan tersebut datang dengan cepat; keesokan harinya, ribuan orang yang terdiri dari TNI, Polri, masyarakat setempat, pelajar, dan komunitas lingkungan terjun langsung membersihkan sampah plastik yang mencemari Pantai Kuta, Kabupaten Badung.
Baca JugaIFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
Tak hanya di pesisir, masalah sampah plastik juga menyerang permukiman di berbagai wilayah Bali, dan di TPA Suwung Denpasar, tempat pemrosesan akhir, telah melampaui kapasitas normal.
Namun, di balik masalah yang cukup besar ini, muncul sebuah inovasi yang berpotensi mengubah cara kita melihat sampah plastik. Yayasan Get Plastic Indonesia di Bali telah berhasil mengembangkan teknologi untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM), yang bisa digunakan sebagai energi alternatif.
Inovasi ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi penumpukan sampah plastik sekaligus menyediakan energi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Mengubah Sampah Plastik Menjadi Energi yang Bernilai
Sampah plastik di Bali, yang jumlahnya terus meningkat, menjadi salah satu tantangan besar dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.
Data dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali menunjukkan bahwa dari total 3.436 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, sekitar 17 persen di antaranya adalah plastik.
Sampah plastik, yang seringkali tidak terkelola dengan baik, menambah beban lingkungan, namun dengan pemikiran kreatif dan inovatif, sampah ini bisa diubah menjadi sesuatu yang berguna.
Inovasi yang dilakukan oleh Yayasan Get Plastic Indonesia sejak 2013 ini menunjukkan bahwa sampah plastik dapat diproses menjadi BBM menggunakan teknologi pirolisis.
Pirolisis adalah proses pengolahan sampah plastik dengan cara pemanasan pada suhu tinggi, yaitu lebih dari 350 derajat Celcius, tanpa melibatkan oksigen. Proses ini menghasilkan gas yang kemudian diubah menjadi cairan, yang bisa berupa bensin, solar, atau minyak tanah.
Teknologi Pirolisis yang Mengolah Plastik Menjadi Bahan Bakar
Teknologi pirolisis yang dikembangkan oleh Yayasan Get Plastic Indonesia memungkinkan sampah plastik yang dikumpulkan dari masyarakat untuk diubah menjadi bahan bakar yang berguna.
Sampah plastik yang sudah dalam keadaan kering dimasukkan ke dalam tabung mesin pirolisis yang dirancang khusus. Mesin ini memiliki kapasitas untuk mengolah hingga 10 kilogram sampah plastik dalam sekali proses.
Setelah dimasukkan ke dalam mesin, sampah plastik dipanaskan dalam suhu tinggi yang akan mengubah plastik menjadi gas.
Gas tersebut kemudian diubah menjadi uap dan dikondensasikan menjadi cairan, yang dipisahkan menjadi beberapa jenis BBM sesuai dengan berat massa. Bensin akan terpisah lebih dulu karena memiliki massa yang lebih ringan, sementara solar akan terpisah setelahnya.
Setiap mesin pirolisis yang dimiliki Yayasan Get Plastic Indonesia dapat menghasilkan sekitar 10 liter solar dari 10 kilogram sampah plastik. Pada saat ini, yayasan tersebut telah memproduksi sekitar 5.000 liter BBM per tahun dari proses ini.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Selain mengurangi masalah sampah plastik yang semakin menumpuk, penggunaan teknologi pirolisis untuk menghasilkan BBM dari sampah plastik ini memiliki manfaat yang besar. Salah satunya adalah pemanfaatan residu yang dihasilkan dari proses pirolisis.
Residu berupa bubuk karbon yang dihasilkan dari pengolahan 10 kilogram sampah plastik dapat digunakan untuk membuat berbagai produk, seperti asbak, blok paving, atau briket. Ini menunjukkan bahwa proses pirolisis tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi produk-produk yang dihasilkan.
Selain itu, teknologi ini juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang semakin terbatas. Menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar alternatif memberikan solusi energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Emisi yang dihasilkan dari penggunaan solar dari sampah plastik ini terbilang rendah, seperti yang ditemukan dalam uji laboratorium yang dilakukan di Yogyakarta, yang mencatatkan angka emisi hanya 2,7 persen.
Potensi untuk Replikasi dan Kolaborasi
Meskipun saat ini penggunaan BBM dari sampah plastik masih terbatas pada kendaraan operasional Yayasan Get Plastic Indonesia dan beberapa kendaraan lain, seperti bus pariwisata dan traktor petani, Dimas Bagus Wijanarko, Ketua Yayasan Get Plastic Indonesia, memiliki visi untuk memperluas produksi BBM ini secara massal.
"Kami berharap bisa memproduksi BBM dari sampah plastik dalam skala lebih besar, dan menjadi solusi yang tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga menyediakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan," kata Dimas.
Potensi besar untuk memproduksi BBM dari sampah plastik ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk dari sektor swasta dan pemerintah.
Pertamina, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR), juga melihat peluang untuk bersinergi dengan inovasi ini, dengan harapan dapat mendukung keberlanjutan energi dan pengelolaan sampah di Indonesia. Ahad Rahedi, Manager Komunikasi Pertamina, mengapresiasi terobosan ini dan berharap dapat melihat lebih banyak kolaborasi di masa depan untuk mengatasi masalah sampah plastik.
Tantangan dan Masa Depan
Namun, meski inovasi ini menjanjikan, masih ada tantangan besar yang perlu dihadapi, terutama dalam hal pembiayaan dan investasi untuk memproduksi BBM dari sampah plastik dalam skala besar.
Dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mendukung pengembangan teknologi ini. "Demi masa depan bangsa dan lingkungan yang lebih bersih, kita perlu berani berinvestasi dalam inovasi ini," ujar Dimas.
Penting untuk memperbesar inovasi-inovasi yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya plastik, yang menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar di dunia. Dengan keberanian untuk berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan, Indonesia dapat menciptakan masa depan yang lebih bersih dan mandiri energi.
Inovasi mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak yang dilakukan oleh Yayasan Get Plastic Indonesia ini memberikan harapan baru dalam upaya mengurangi sampah plastik dan menyediakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
Dengan teknologi pirolisis, sampah plastik yang tidak terkelola dapat menjadi bahan bakar yang berguna, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi dampak lingkungan. Kolaborasi antara sektor pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat penting untuk memperbesar potensi inovasi ini dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Dinamika Sembako Kehidupan: Ramalan Zodiak Hari Ini Fokus Evaluasi Rencana
- Kamis, 05 Februari 2026
Dinamika Internal Real Madrid: Isu Konflik Mencuat Akibat Eksperimen Taktik Arbeloa
- Kamis, 05 Februari 2026
Momen Seru Lisa Blackpink Jalani Proses Syuting Film Tygo Di Indonesia
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
Danantara Indonesia Dorong PT PAL dan INKA Jadi Motor Utama Hilirisasi Baja Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Pemerintah Tuntaskan Keadilan Transmigran dengan Penerbitan Ribuan Sertifikat Hak Milik
- Kamis, 05 Februari 2026
Kemenhub Perkuat Bandara Sebagai Pusat Respon Bencana dan Mobilisasi Kemanusiaan
- Kamis, 05 Februari 2026
Terpopuler
1.
2.
Sampah Plastik di Bali Jadi BBM Berkat Inovasi Teknologi Pirolisis
- 05 Februari 2026
3.
4.
Kemenhub Fokus Jadikan Bandara Pusat Respon Cepat Bencana
- 05 Februari 2026












