Harga Minyak Dunia Kembali Menguat Dipicu Kekhawatiran Geopolitik Timur Tengah dan Pasokan Global
- Rabu, 04 Februari 2026
JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menarik perhatian pasar global setelah mencatat penguatan dalam dua hari beruntun. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap situasi geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, pagi waktu Indonesia. Penguatan tersebut melanjutkan tren kenaikan yang sudah berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Pasar masih dibayangi kekhawatiran meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama di jalur pelayaran strategis global. Kawasan ini dikenal sebagai titik krusial distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu fluktuasi harga.
Baca JugaIndonesia Raih Surplus Besar Perdagangan Besi dan Baja pada Tahun 2025
Berdasarkan Refinitiv, per pukul 10.25 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat di level US$67,86 per barel. Angka ini naik dibandingkan posisi sehari sebelumnya di US$67,33 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$63,78 per barel. Harga tersebut naik dari posisi US$63,21 per barel pada perdagangan Selasa.
Kenaikan harga ini menunjukkan bahwa pasar masih memandang risiko geopolitik sebagai faktor utama penentu arah harga minyak. Meski permintaan global belum sepenuhnya pulih kuat, sentimen risiko masih mendominasi pergerakan.
Pelaku pasar terus mencermati berbagai perkembangan terbaru yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak dunia. Salah satu fokus utama adalah stabilitas jalur distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global.
Ketegangan Timur Tengah dan Jalur Pelayaran Strategis
Penguatan harga minyak didorong oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sejumlah insiden keamanan di sekitar Laut Arab dan Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi ekspor minyak global. Jalur ini menghubungkan negara-negara produsen utama di kawasan Teluk dengan pasar Asia dan wilayah lainnya.
Setiap gangguan kecil di jalur tersebut berpotensi berdampak besar pada stabilitas pasokan energi dunia. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung bereaksi cepat terhadap setiap perkembangan yang muncul di kawasan tersebut.
Ketegangan geopolitik yang meningkat mendorong pasar untuk memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak. Hal ini membuat harga cenderung menguat meskipun faktor fundamental lainnya belum sepenuhnya mendukung.
Pasar energi global saat ini berada dalam kondisi sensitif terhadap isu keamanan dan stabilitas kawasan produsen minyak utama. Kondisi ini membuat harga minyak lebih mudah berfluktuasi dibandingkan periode sebelumnya.
Pelaku pasar juga mencermati dinamika hubungan politik antara negara-negara di Timur Tengah dan kekuatan global. Setiap pernyataan atau tindakan diplomatik dapat memicu perubahan sentimen secara cepat.
Selain Timur Tengah, konflik Rusia-Ukraina juga masih menjadi faktor yang memengaruhi pasar energi global. Konflik tersebut terus menimbulkan ketidakpastian terhadap pasokan energi, terutama bagi pasar Eropa.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan antara kedua negara ini kerap dikaitkan dengan risiko terhadap stabilitas pasokan minyak di kawasan Teluk.
Kondisi geopolitik yang belum stabil membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi di pasar minyak. Namun, sikap hati-hati ini justru mendorong harga naik karena kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Pasar global menilai bahwa risiko geopolitik saat ini lebih dominan dibandingkan faktor permintaan jangka pendek. Hal ini menjelaskan mengapa harga minyak tetap menguat meskipun permintaan global belum sepenuhnya pulih.
Pengaruh Sentimen Global dan Data Persediaan AS
Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh dinamika fundamental, termasuk data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Pasar saat ini menanti rilis data resmi terkait stok minyak mentah AS.
Sebelumnya, indikasi penurunan tajam stok minyak mentah AS memicu ekspektasi pasokan yang lebih ketat dalam jangka pendek. Ekspektasi ini turut menopang harga minyak di pasar global.
Data persediaan minyak sering dijadikan indikator penting untuk mengukur keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Penurunan stok biasanya diartikan sebagai sinyal menguatnya permintaan atau terbatasnya pasokan.
Sebaliknya, kenaikan stok sering dipandang sebagai indikasi lemahnya permintaan atau melimpahnya pasokan. Oleh karena itu, pasar sangat sensitif terhadap setiap perubahan data persediaan mingguan.
Dalam beberapa pekan terakhir, data persediaan AS menunjukkan tren fluktuatif. Kondisi ini menambah ketidakpastian pasar dan memperkuat volatilitas harga minyak.
Pelaku pasar global terus mengamati kebijakan energi Amerika Serikat, terutama terkait produksi minyak serpih. Produksi dari sektor ini memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan pasokan global.
Selain itu, kebijakan moneter dan arah suku bunga global juga turut memengaruhi harga minyak. Kebijakan suku bunga yang ketat dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan berpotensi melemahkan permintaan energi.
Namun, saat ini pasar lebih fokus pada risiko pasokan dibandingkan faktor permintaan. Hal ini terlihat dari respons harga yang lebih sensitif terhadap isu geopolitik dibandingkan data ekonomi makro.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar minyak sedang berada dalam fase risk-driven. Dalam situasi seperti ini, setiap perkembangan geopolitik cenderung berdampak signifikan terhadap harga.
Investor global juga mencermati pernyataan dan langkah negara-negara produsen utama di OPEC dan sekutunya. Kebijakan produksi kelompok ini masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak.
Meskipun belum ada perubahan kebijakan produksi besar yang diumumkan, pasar tetap waspada terhadap potensi penyesuaian produksi. Sikap waspada ini turut memperkuat sentimen bullish di pasar minyak.
Pergerakan Harga Brent dan WTI Sepanjang Januari 2026
Brent dan WTI masih menunjukkan kecenderungan rebound setelah tekanan yang terjadi pada akhir Januari lalu. Pergerakan ini mencerminkan upaya pasar untuk mencari keseimbangan baru di tengah ketidakpastian global.
Sepanjang Januari 2026, harga Brent sempat turun dari area US$70 per barel. Namun, harga kemudian kembali stabil di kisaran US$67 hingga US$68 per barel.
Sementara itu, minyak mentah WTI bergerak konsolidatif di rentang US$60 hingga US$64 per barel. Pola pergerakan ini menunjukkan adanya fase penyesuaian setelah tekanan sebelumnya.
Tekanan pada akhir Januari sebagian dipicu oleh kekhawatiran melemahnya permintaan global. Namun, sentimen tersebut mulai mereda seiring munculnya risiko geopolitik yang lebih dominan.
Kenaikan harga pada awal Februari 2026 menunjukkan bahwa pasar mulai kembali memasukkan faktor risiko ke dalam perhitungan harga. Hal ini terlihat dari penguatan bertahap yang terjadi dalam dua hari beruntun.
Pergerakan ini juga mencerminkan perubahan sentimen investor dari fokus pada permintaan ke fokus pada pasokan. Kondisi ini lazim terjadi ketika pasar dihadapkan pada potensi gangguan distribusi energi.
Stabilisasi harga di kisaran tertentu menunjukkan bahwa pasar sedang mencari titik keseimbangan baru. Namun, keseimbangan ini masih rapuh dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Setiap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu pergerakan harga yang tajam. Oleh karena itu, pasar minyak global masih berada dalam kondisi waspada tinggi.
Investor dan pelaku pasar terus memantau berbagai indikator makroekonomi global. Namun, saat ini faktor geopolitik tampaknya lebih dominan dalam membentuk arah harga minyak.
Kondisi ini membuat proyeksi harga minyak dalam jangka pendek menjadi semakin sulit diprediksi. Ketidakpastian global yang tinggi memperbesar potensi volatilitas harga.
Meski demikian, penguatan harga saat ini menunjukkan bahwa pasar masih memiliki kepercayaan terhadap potensi rebound. Hal ini didukung oleh ekspektasi bahwa gangguan pasokan dapat terjadi jika ketegangan geopolitik meningkat.
Dalam situasi seperti ini, harga minyak cenderung bergerak lebih dipengaruhi oleh berita dan sentimen dibandingkan data fundamental murni. Kondisi tersebut membuat pasar semakin dinamis dan penuh risiko.
Prospek Pasar Minyak di Tengah Ketidakpastian Global
Ke depan, arah harga minyak dunia masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kondisi pasokan global. Setiap eskalasi konflik atau gangguan distribusi dapat memicu lonjakan harga yang signifikan.
Pasar juga akan terus mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat sebagai indikator keseimbangan pasokan dan permintaan. Data tersebut akan menjadi salah satu penentu sentimen jangka pendek.
Selain itu, kebijakan energi negara-negara produsen utama akan tetap menjadi fokus perhatian. Setiap perubahan kebijakan produksi berpotensi memengaruhi stabilitas harga minyak global.
Di sisi lain, pemulihan ekonomi global yang belum merata membuat permintaan energi masih menghadapi tantangan. Kondisi ini dapat membatasi kenaikan harga jika tidak disertai gangguan pasokan yang signifikan.
Namun, dalam jangka pendek, pasar tampaknya lebih fokus pada risiko geopolitik dibandingkan faktor permintaan. Hal ini terlihat dari penguatan harga meskipun permintaan global belum sepenuhnya pulih kuat.
Kondisi ini mencerminkan bahwa pasar minyak saat ini berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Investor dan pelaku pasar harus menghadapi kombinasi risiko geopolitik, ekonomi, dan kebijakan energi global.
Penguatan harga Brent ke US$67,86 per barel dan WTI ke US$63,78 per barel menunjukkan bahwa pasar masih memiliki sentimen positif. Namun, sentimen ini dapat berubah dengan cepat jika muncul perkembangan baru.
Pelaku pasar global terus bersiap menghadapi potensi volatilitas yang tinggi. Setiap berita terkait konflik, diplomasi, atau kebijakan energi dapat memicu pergerakan harga dalam waktu singkat.
Dengan kondisi tersebut, pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasokan global menjadi faktor utama yang membentuk arah harga.
Meski demikian, tren penguatan dua hari beruntun memberikan sinyal bahwa pasar mulai mengantisipasi potensi risiko pasokan. Hal ini membuat harga minyak tetap berada dalam jalur positif untuk sementara waktu.
Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan keseimbangan rapuh antara risiko geopolitik dan faktor fundamental. Selama ketegangan global belum mereda, harga minyak diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru.
Zahra
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kemenperin Perketat Pengawasan Larangan Impor Pakaian Bekas di Indonesia
- Rabu, 04 Februari 2026
Askrindo Tingkatkan Manajemen Risiko Demi Layanan Asuransi Lebih Stabil
- Rabu, 04 Februari 2026
Berita Lainnya
Kemenperin Perketat Pengawasan Larangan Impor Pakaian Bekas di Indonesia
- Rabu, 04 Februari 2026












