Rabu, 04 Februari 2026

Industri Otomotif Indonesia 2026 Hadapi Tantangan Daya Beli, Ekspor Menguat, Penjualan Diproyeksi Naik Tipis

Industri Otomotif Indonesia 2026 Hadapi Tantangan Daya Beli, Ekspor Menguat, Penjualan Diproyeksi Naik Tipis
Industri Otomotif Indonesia 2026 Hadapi Tantangan Daya Beli, Ekspor Menguat, Penjualan Diproyeksi Naik Tipis

JAKARTA - Memasuki 2026, industri otomotif Indonesia masih bergerak dalam situasi yang penuh kehati-hatian. Optimisme tetap ada, namun proyeksi pertumbuhan menunjukkan bahwa pemulihan pasar belum sepenuhnya solid.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, pelaku industri menghadapi kombinasi tantangan mulai dari daya beli masyarakat, kepastian kebijakan pemerintah, hingga dinamika global yang memengaruhi rantai pasok. Situasi ini membuat proyeksi penjualan mobil nasional untuk 2026 cenderung moderat dibandingkan periode sebelum pandemi.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto memproyeksikan penjualan mobil nasional pada 2026 mencapai 850.000 unit. Angka tersebut diperkirakan meningkat 5,4 persen dibandingkan dengan realisasi penjualan sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 803.687 unit.

Baca Juga

Menteri LH dan Pemkot Tangsel Bersinergi Tangani Sampah Secara Maksimal

”Proyeksi penjualan 2026 sebesar 850.000 unit,” kata Jongkie kepada Kompas, Selasa (3 Februari 2026). Proyeksi ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi permintaan pasar yang masih menjadi faktor penentu utama kinerja industri otomotif ke depan.

Meski mengalami kenaikan, angka tersebut belum cukup untuk mengembalikan industri otomotif ke jalur pertumbuhan yang kokoh. Penjualan nasional masih jauh dari level di atas 1 juta unit seperti sebelum pandemi.

Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan pasar domestik masih berjalan lambat dan rapuh. Industri otomotif masih dihadapkan pada kombinasi tekanan daya beli, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan preferensi konsumen yang belum sepenuhnya diimbangi oleh kebijakan struktural yang memadai.

Menurut Jongkie, dari sisi kesiapan industri, pelaku otomotif dinilai masih mampu menghadapi berbagai tekanan, mulai dari biaya produksi, energi, hingga ketergantungan pada komponen impor. Namun, daya tahan tersebut sangat bergantung pada perkembangan permintaan di pasar domestik.

Data penjualan sepanjang 2025 menunjukkan kontraksi yang cukup dalam, baik pada distribusi dari pabrik ke dealer maupun penjualan langsung ke konsumen. Kondisi ini mencerminkan bahwa pelemahan pasar tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga struktural.

Penurunan Penjualan Domestik dan Melemahnya Daya Beli

Sepanjang Januari–Desember 2025, penjualan wholesale tercatat sebanyak 803.687 unit, turun 7,2 persen dibanding 2024 yang mencapai 856.723 unit. Penurunan serupa juga terjadi pada retail sales yang merosot 6,3 persen, dari 889.680 unit pada 2024 menjadi 833.712 unit pada 2025.

Penurunan ganda tersebut mengindikasikan bahwa pelemahan tidak semata bersifat sementara di level distribusi. Kondisi ini juga mencerminkan melemahnya permintaan riil di pasar domestik.

Dalam konteks makroekonomi, konsumsi rumah tangga yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya pulih. Pembelian kendaraan bermotor sebagai barang tahan lama cenderung ditunda ketika persepsi risiko ekonomi meningkat.

Kondisi ini turut dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian. Skema pembiayaan kendaraan yang semakin selektif juga berkontribusi pada lambatnya pemulihan penjualan.

Tekanan tersebut terasa lebih berat bagi merek yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit. Ketatnya penyaluran kredit akibat meningkatnya risiko gagal bayar membuat konsumen cenderung menahan pembelian.

Berakhirnya kebijakan diskon pajak kendaraan bermotor di sejumlah daerah sejak akhir 2025 juga turut menahan minat beli masyarakat. Kondisi ini mempersempit ruang gerak pasar otomotif dalam jangka pendek.

Meski demikian, industri otomotif masih menunjukkan daya adaptasi yang cukup kuat. Produsen dan distributor terus berupaya menyesuaikan strategi pemasaran dan produk agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.

Ekspor Jadi Penopang, LCGC Tertekan

Di tengah lesunya pasar domestik, kinerja ekspor justru tampil sebagai penopang utama industri. Ekspor kendaraan utuh (completely built up/CBU) pada 2025 mencapai 518.212 unit, meningkat 9,7 persen dibandingkan dengan 2024 yang sebanyak 472.194 unit.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya saing sebagai basis produksi otomotif global. Namun, ketergantungan yang semakin besar pada ekspor juga membawa risiko tersendiri.

Perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, maupun kebijakan proteksionisme di negara tujuan ekspor dapat dengan cepat menekan kinerja industri nasional. Oleh karena itu, keseimbangan antara pasar domestik dan ekspor tetap menjadi kunci.

Sementara itu, segmen mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) justru mengalami tekanan berat. Penjualan wholesale LCGC pada 2025 hanya mencapai 122.686 unit, turun tajam 30,6 persen dibanding 2024 yang sebesar 176.766 unit.

Penurunan serupa juga terjadi pada retail sales yang merosot 27 persen, dari 178.726 unit pada 2024 menjadi 130.799 unit pada 2025. Kondisi ini menjadi sinyal kuat melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah bawah.

Padahal, segmen LCGC selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan nasional. Tekanan pada segmen ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi belum berlangsung merata.

Kondisi tersebut juga mencerminkan bahwa kelompok masyarakat paling rentan masih menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi. Akibatnya, pembelian kendaraan baru menjadi prioritas yang ditunda.

Pertumbuhan Kendaraan Elektrifikasi dan Tantangan Insentif

Berbeda dengan segmen LCGC, segmen kendaraan elektrifikasi justru mencatatkan pertumbuhan paling mencolok. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dari pabrik ke dealer pada 2025 melonjak menjadi 103.931 unit, dari 43.188 unit pada 2024.

Kenaikan ini mencerminkan percepatan adopsi kendaraan listrik yang didorong oleh insentif fiskal, masuknya pemain baru, serta meningkatnya kesadaran konsumen. Kendaraan hibrida (hybrid electric vehicle/HEV) juga tumbuh 10 persen, dari 59.903 unit pada 2024 menjadi 65.943 unit pada 2025.

Sementara itu, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mencatat lonjakan paling tajam secara persentase, dari 136 unit pada 2024 menjadi 5.270 unit pada 2025. Pertumbuhan ini memperlihatkan potensi besar segmen elektrifikasi sebagai motor baru industri otomotif.

Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan pertumbuhan melalui kepastian insentif, kesiapan infrastruktur pengisian daya, serta penguatan rantai pasok dalam negeri. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, pertumbuhan ini berpotensi melambat.

Terkait keputusan pemerintah untuk tidak melanjutkan insentif impor kendaraan listrik berbasis baterai pada 2026, Jongkie menilai kebijakan tersebut masih akan dikaji dengan mempertimbangkan kepentingan industri otomotif nasional secara menyeluruh. “Pemerintah juga pasti akan memperhatikan industri otomotif dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan penjualan domestik maupun ekspor,” ujarnya.

Menurutnya, efektivitas insentif kendaraan listrik yang saat ini berlaku masih sangat dipengaruhi oleh faktor harga. “Faktor harga masih menjadi faktor dominan dalam memutuskan pembelian kendaraan bermotor,” katanya.

Kekhawatiran muncul bahwa penghentian insentif kendaraan listrik akan semakin menggerus daya beli masyarakat. Tanpa dukungan insentif, harga jual kendaraan berpotensi meningkat dan mempersempit pasar.

Hal senada dikatakan Chief Executive Officer PT Astra International Tbk – Daihatsu Sales Operation (AI-DSO), Fredy Handjaja. Menurut dia, industri otomotif nasional diperkirakan masih menghadapi tantangan pada 2026 seiring melemahnya daya beli masyarakat, meningkatnya risiko kredit, serta ketidakpastian kelanjutan insentif pemerintah.

Kondisi tersebut membuat konsumen cenderung menahan keputusan pembelian kendaraan, terutama melalui skema kredit. Tekanan tersebut diperparah oleh tren kenaikan non-performing loan (NPL) yang mendorong lembaga pembiayaan memperketat penyaluran kredit.

Dampaknya terasa signifikan bagi merek dengan porsi penjualan kredit yang besar. Selain itu, berakhirnya kebijakan diskon pajak kendaraan bermotor di sejumlah daerah sejak akhir 2025 turut menahan minat beli masyarakat.

Meski demikian, Fredy optimistis pemerintah akan terus memantau industri otomotif sebagai sektor strategis penopang pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan, segmen LCGC diperkirakan tetap dominan, terutama bagi pembeli mobil pertama dan konsumen di luar kota besar.

Sementara itu, minat terhadap kendaraan elektrifikasi, baik hibrida maupun listrik murni, mulai tumbuh di wilayah perkotaan. Pada 2026, strategi utama Daihatsu tetap difokuskan pada penyediaan produk dengan nilai guna tinggi dan harga terjangkau.

Pada 2025, kontribusi segmen LCGC terhadap penjualan Daihatsu mencapai sekitar 35 persen, terutama ditopang oleh Sigra dan Ayla. Untuk segmen elektrifikasi, Daihatsu mulai memasuki pasar hibrida melalui Rocky Hybrid yang diperkenalkan di ajang GIIAS 2025.

Tingginya efisiensi bahan bakar menjadi faktor utama yang diharapkan menarik minat konsumen terhadap Rocky Hybrid. Tak lama setelah diluncurkan, SUV low hybrid ini telah mencatat pemesanan lebih dari 500 unit dan mengalami inden.

Direktur Marketing dan Corporate Planning & Communication Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani, menyebut survei internal menunjukkan efisiensi BBM, teknologi, dan fitur keselamatan sebagai alasan utama konsumen memilih Rocky Hybrid. Pengujian mencatat konsumsi BBM hingga 34,8 km/l, bahkan mencapai 47,8 km/l dalam uji rute perkotaan.

Rocky Hybrid mengusung teknologi strong hybrid tanpa perlu pengisian daya eksternal sehingga cocok untuk wilayah minim SPKLU. Dari sisi layanan, perawatan dapat dilakukan di seluruh bengkel resmi Daihatsu dengan garansi baterai hingga 8 tahun.

PT Astra International Tbk – Daihatsu Sales Operation menargetkan penjualan lebih agresif ke kota-kota besar di luar Jakarta pada awal 2026. Kehadiran Rocky Hybrid diharapkan menopang target Daihatsu mempertahankan posisi kedua penjualan nasional.

Risiko Kenaikan Harga dan Pentingnya Kebijakan Berkelanjutan

Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai harga jual kendaraan dapat naik 20–40 persen seiring kembali normalnya bea masuk dan pajak penjualan. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan kendaraan di segmen harga Rp 150 juta–Rp 400 juta hingga 30 persen.

“Pasar mobil listrik bisa stagnan dan justru kontraproduktif terhadap target transisi energi bersih,” kata Yannes. Menurutnya, keputusan pemerintah menghentikan insentif impor mobil listrik utuh (CBU) pada dasarnya sejalan dengan target mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Kendati demikian, pemerintah tetap perlu menghadirkan solusi konkret bagi produsen yang telah berkomitmen memproduksi mobil listrik berbasis baterai di dalam negeri. Rangsangan kebijakan juga masih diperlukan untuk mendorong kolaborasi dengan produsen.

Absennya “doping” insentif fiskal seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah berisiko membuat pasar kehilangan daya dorong. Tanpa stimulus konkret yang langsung menyentuh daya beli, level psikologis penjualan satu juta unit akan tetap sulit ditembus.

Kenaikan penjualan hanya berpeluang terjadi jika subsidi atau insentif dialihkan secara lebih terarah ke produksi lokal dengan tingkat komponen dalam negeri tinggi. Dengan demikian, harga tetap kompetitif sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri nasional.

Indikator paling krusial bagi kesehatan industri otomotif pada 2026, menurut Yannes, bukan semata angka penjualan, melainkan tingkat utilisasi pabrik. Penjualan tinggi dapat menipu jika didominasi kendaraan CBU yang minim nilai tambah domestik.

Sebaliknya, tingkat utilisasi mencerminkan denyut nadi manufaktur yang sesungguhnya. Jika utilisasi turun di bawah 60 persen, ancaman pengurangan tenaga kerja menjadi nyata meskipun secara nominal penjualan masih terlihat berjalan.

Sinyal awal krisis yang patut diwaspadai antara lain lonjakan penolakan kredit serta penumpukan stok di dealer yang melampaui 60 hari. Sebaliknya, titik balik positif ditandai oleh realisasi investasi fisik di hulu, seperti mulai beroperasinya pabrik sel baterai dan meningkatnya ekspor komponen berteknologi tinggi.

Berdasarkan peraturan yang berlaku, mulai Februari 2024 pemerintah menerapkan insentif berupa pembebasan bea masuk, PPnBM, dan PPN untuk impor mobil listrik berbasis baterai dalam bentuk utuh. Kebijakan ini berlaku hingga Desember 2025 dengan syarat komitmen produksi lokal.

Pada periode 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen yang berpartisipasi dalam program ini wajib memenuhi komitmen produksi lokal sesuai peta jalan tingkat komponen dalam negeri. Ketentuan mengenai TKDN kendaraan listrik telah diatur dalam peraturan presiden terkait percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Berdasarkan peraturan tersebut, TKDN kendaraan listrik produksi lokal ditetapkan mencapai minimal 40 persen pada periode 2022–2026. Target ini meningkat menjadi 60 persen pada 2027–2029 dan kembali naik menjadi 80 persen mulai 2030.

Yannes menilai kebijakan insentif kendaraan listrik berbasis baterai dan kendaraan hibrida tetap perlu dilanjutkan, tetapi dengan koreksi mendasar. Insentif tidak lagi semestinya memberikan ruang impor kendaraan utuh secara berkepanjangan.

Zahra

Zahra

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Mendagri Pastikan Pengungsi Aceh Tamiang Hidup Layak di Huntara

Mendagri Pastikan Pengungsi Aceh Tamiang Hidup Layak di Huntara

Kementerian PU Targetkan Selesai 1.200 Huntara Sumatera Sebelum Ramadhan

Kementerian PU Targetkan Selesai 1.200 Huntara Sumatera Sebelum Ramadhan

Keluhan Pedagang Pasar Wiradesa Terkait Kenaikan Harga Sembako Menjelang Bulan Ramadan

Keluhan Pedagang Pasar Wiradesa Terkait Kenaikan Harga Sembako Menjelang Bulan Ramadan

Dukungan Kemenhub Terhadap Infrastruktur Jalur Logistik Khusus Guna Mengatasi Masalah ODOL

Dukungan Kemenhub Terhadap Infrastruktur Jalur Logistik Khusus Guna Mengatasi Masalah ODOL

Kemenhub Siapkan Infrastruktur Transportasi Laut Fasilitasi Kepulangan Santri Menjelang Ramadhan

Kemenhub Siapkan Infrastruktur Transportasi Laut Fasilitasi Kepulangan Santri Menjelang Ramadhan