JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan efek nyata tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga pada perekonomian.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa sejak awal tahun, anggaran yang digelontorkan telah mendorong pertumbuhan berbagai sektor usaha. Hingga Januari 2026, BGN telah mengalokasikan Rp19,5 triliun untuk program MBG.
Menurut Dadan, belanja tersebut berperan dalam menciptakan permintaan baru yang berdampak berkelanjutan pada sektor usaha pendukung.
Baca JugaKemendag Dorong UMKM Perempuan Indonesia Tembus Pasar Ritel Inggris 2026
“Sampai saat ini saja Badan Gizi sudah mengeluarkan Rp19,5 triliun untuk Januari. Dan itu menggerakkan roda ekonomi, tidak hanya kebutuhan bahan baku meningkat, tapi juga faktor ikutannya,” jelasnya.
Efek Berganda pada Industri dan Wirausaha
Program MBG tidak hanya meningkatkan kebutuhan pangan, tetapi juga menimbulkan efek pada sektor-sektor lain, termasuk industri kecil dan menengah. Dadan memberi contoh industri sabun yang ikut terdorong oleh kebutuhan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Sebagai contohnya ya ternyata entrepreneur atau wirausaha yang bergerak di bidang sabun ini banyak sekali sekarang. Karena kebutuhan SPPG banyak, satu SPPG satu hari itu membutuhkan kurang lebih 25 liter sabun,” ujarnya.
Tingginya kebutuhan ini membuka peluang baru bagi wirausaha lokal. Banyak pengusaha yang kini mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan sabun dan produk pendukung lainnya untuk MBG. Hal ini menunjukkan bahwa program kesehatan publik dapat memiliki efek multiplikasi yang signifikan terhadap sektor usaha lokal.
Perhatian Internasional terhadap Program MBG
Selain berdampak pada ekonomi domestik, MBG juga menarik perhatian lembaga internasional. Dadan menuturkan bahwa Rockefeller Foundation menunjukkan minat terhadap model pelaksanaan MBG di Indonesia.
“Ya sebetulnya ketika Rockefeller Foundation datang kan saya diminta Pak Presiden untuk menemani makan malam,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Rockefeller Foundation menilai bahwa Indonesia berhasil menciptakan metode pelaksanaan MBG yang baru dan inovatif.
Mereka mengapresiasi keterlibatan banyak mitra dan kecepatan implementasi program, yang menurut mereka menjadi studi kasus menarik di tingkat global.
“Mereka menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Indonesia termasuk dengan metode yang baru pertama kali dilakukan di dunia, di mana pelaksanaan MBG bisa melibatkan demikian banyak mitra dan bisa berjalan demikian cepat,” tambah Dadan.
Program MBG sebagai Motor Penggerak Ekonomi Baru
Pelaksanaan MBG yang cepat dan melibatkan banyak mitra dianggap tidak hanya efektif dalam pemenuhan gizi, tetapi juga memiliki potensi sebagai penggerak ekonomi baru.
Pemerintah menekankan bahwa program ini mendorong munculnya peluang usaha di berbagai sektor, mulai dari produksi pangan hingga penyediaan kebutuhan operasional SPPG.
Keberhasilan MBG menunjukkan bahwa intervensi kesehatan masyarakat dapat berperan lebih luas daripada sekadar memberikan gizi. Program ini membuka ruang bagi inovasi, mendorong wirausaha lokal, dan memperkuat sektor ekonomi pendukung.
Dengan demikian, MBG menjadi contoh konkret bagaimana program sosial dapat menghasilkan efek ekonomi yang luas, sekaligus menarik perhatian internasional.
Dadan menegaskan bahwa pemanfaatan program MBG sebagai motor penggerak ekonomi juga dapat menjadi inspirasi bagi negara lain. Dengan keterlibatan berbagai pihak dan implementasi cepat, MBG mampu menciptakan nilai tambah tidak hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kemendag Dorong UMKM Perempuan Indonesia Tembus Pasar Ritel Inggris 2026
- Selasa, 03 Februari 2026
Inggris Luncurkan Climate Finance Accelerator Dukung Investasi Proyek Hijau Indonesia
- Selasa, 03 Februari 2026
Pemerintah Siapkan Perpres Alihkan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung
- Selasa, 03 Februari 2026
Berita Lainnya
Inggris Luncurkan Climate Finance Accelerator Dukung Investasi Proyek Hijau Indonesia
- Selasa, 03 Februari 2026
Investasi Jepang, Singapura, dan Inggris Masuk Indonesia 2026 Dorong Energi Hijau dan Pendidikan
- Selasa, 03 Februari 2026
Strategi Cerdas Indonesia untuk Memperkuat Industri Tekstil di Tengah Persaingan Global
- Selasa, 03 Februari 2026
3 Tantangan Utama yang Masih Menghambat Iklim Bisnis dan Investasi Indonesia 2026
- Selasa, 03 Februari 2026
PHE Pertamina Capai Produksi Migas 1,03 Juta Barel Per Hari Menunjang Ketahanan Energi Nasional
- Selasa, 03 Februari 2026












