Kamis, 29 Januari 2026

Harga Batu Bara Naik Dua Hari Beruntun, Pasar Energi Global Mulai Berubah Arah

Harga Batu Bara Naik Dua Hari Beruntun, Pasar Energi Global Mulai Berubah Arah
Harga Batu Bara Naik Dua Hari Beruntun, Pasar Energi Global Mulai Berubah Arah

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan penguatan dalam dua hari berturut-turut. Kondisi ini menandai adanya sentimen positif yang mulai menguat di pasar komoditas energi global.

Pada perdagangan terbaru, harga batu bara menunjukkan tren kenaikan yang cukup stabil. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa komoditas ini masih memiliki daya tarik meskipun energi baru-terbarukan terus dikembangkan di berbagai negara.

Harga batu bara pada Rabu, 28 Januari 2026, tercatat menguat di pasar ICE Newcastle. Kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di level US$ 109,1 per ton atau naik 0,28% dibandingkan hari sebelumnya.

Baca Juga

BYD dan ExxonMobil Perkuat Kolaborasi Pengembangan Teknologi Hybrid di Cina

Kenaikan tersebut sekaligus menandai dua hari penguatan berturut-turut bagi harga batu bara. Dalam dua hari tersebut, harga tercatat naik secara akumulatif sebesar 0,41%.

Performa positif ini turut berdampak pada pergerakan harga sepanjang tahun berjalan. Secara year-to-date atau sejak awal tahun 2026, harga batu bara telah naik sekitar 1,5%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap batu bara belum sepenuhnya surut. Bahkan, sejumlah negara masih memandang batu bara sebagai komoditas strategis dalam menjaga stabilitas energi.

Fenomena tersebut juga mencerminkan bahwa peralihan menuju energi terbarukan tidak serta-merta menghilangkan peran energi fosil. Batu bara masih menjadi salah satu penopang utama pasokan energi di berbagai kawasan.

Di tengah dinamika tersebut, pasar global terus mencermati berbagai kebijakan pemerintah yang berpotensi memengaruhi arah permintaan batu bara. Salah satu sorotan datang dari Amerika Serikat yang mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap sektor energi.

Kenaikan Harga Batu Bara di Tengah Perubahan Arah Energi Global

Amerika Serikat diketahui kembali melirik sektor energi konvensional termasuk batu bara. Hal ini terjadi setelah pemerintahan Presiden Donald Trump membatalkan sejumlah kebijakan pembiayaan energi bersih.

Bloomberg News melaporkan bahwa pemerintahan Trump membatalkan fasilitas pinjaman kepada Arizona Public Service Company senilai US$ 1,8 miliar. Pinjaman tersebut sebelumnya dialokasikan untuk pengembangan proyek energi bersih.

Tidak hanya itu, secara total pemerintah AS membatalkan sekitar US$ 30 miliar pinjaman di sektor energi. Langkah ini menandai perubahan arah kebijakan dibandingkan periode sebelumnya.

Pada era pemerintahan Presiden Joseph Joe Biden, Departemen Energi AS memberikan pembiayaan sekitar US$ 400 miliar untuk pengembangan energi baru-terbarukan. Kebijakan tersebut bertujuan mempercepat transisi menuju energi ramah lingkungan.

Kini, pemerintahan Trump memilih untuk memprioritaskan pembiayaan sektor energi seperti batu bara, gas alam, nuklir, dan mineral kritis. Perubahan kebijakan ini dinilai turut mendukung sentimen positif di pasar batu bara global.

Langkah tersebut membuka peluang peningkatan permintaan batu bara dari Amerika Serikat. Hal ini turut memberi dorongan pada harga di pasar internasional.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa batu bara masih dianggap sebagai energi strategis dalam menjaga ketahanan pasokan. Meski banyak negara mengembangkan energi terbarukan, realitas kebutuhan energi jangka pendek tetap bergantung pada sumber konvensional.

Permintaan batu bara yang relatif stabil juga dipengaruhi oleh kebutuhan industri dan pembangkit listrik. Beberapa negara masih mengandalkan batu bara sebagai tulang punggung pasokan energi nasional.

Di tengah dinamika kebijakan global tersebut, harga batu bara menunjukkan kecenderungan bergerak positif. Hal ini membuat pelaku pasar mulai memproyeksikan potensi kelanjutan tren penguatan.

Namun demikian, pasar tetap mewaspadai fluktuasi harga akibat faktor eksternal seperti geopolitik, cuaca, dan kebijakan energi di berbagai negara. Kombinasi faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek maupun menengah.

Kinerja Harga Batu Bara Sepanjang Tahun 2026

Sejak awal tahun 2026, harga batu bara telah mencatatkan kenaikan sekitar 1,5%. Kinerja ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap komoditas ini masih relatif positif.

Penguatan dua hari berturut-turut yang terjadi baru-baru ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan beli yang mulai meningkat di pasar global.

Kenaikan harga batu bara juga dipengaruhi oleh perubahan kebijakan energi di negara-negara besar. Amerika Serikat menjadi salah satu contoh dengan keputusan pemerintahannya yang kembali memberi perhatian pada energi konvensional.

Selain itu, permintaan dari negara-negara berkembang yang masih mengandalkan batu bara turut menopang harga. Kebutuhan listrik yang terus meningkat membuat batu bara tetap menjadi sumber energi andalan di sejumlah kawasan.

Pasar juga mencermati dinamika pasokan batu bara global. Gangguan produksi, cuaca ekstrem, atau kebijakan ekspor dari negara produsen utama dapat memengaruhi keseimbangan pasar.

Dalam kondisi seperti ini, harga batu bara cenderung bergerak fluktuatif namun tetap berada dalam tren tertentu. Kenaikan bertahap yang terjadi belakangan menunjukkan adanya optimisme di kalangan pelaku pasar.

Meski demikian, investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi. Faktor transisi energi global dan tekanan terhadap emisi karbon masih menjadi tantangan jangka panjang bagi industri batu bara.

Namun dalam jangka pendek hingga menengah, permintaan batu bara diperkirakan masih cukup solid. Hal ini terutama didorong oleh kebutuhan listrik dan industri berat di berbagai negara.

Kondisi pasar yang dinamis membuat proyeksi harga batu bara menjadi perhatian banyak pihak. Investor dan pelaku industri terus memantau indikator teknikal maupun fundamental untuk menentukan arah pergerakan harga.

Di tengah situasi tersebut, analisis teknikal menjadi salah satu acuan penting dalam membaca peluang pergerakan harga harian. Indikator teknikal dapat memberikan gambaran mengenai sentimen pasar dalam jangka pendek.

Analisis Teknikal dan Proyeksi Harga Batu Bara Hari Ini

Pertanyaan utama yang muncul adalah bagaimana proyeksi harga batu bara untuk perdagangan hari ini, Kamis, 29 Januari 2026. Apakah harga akan melanjutkan tren kenaikan hingga tiga hari berturut-turut.

Secara teknikal dalam perspektif harian atau daily time frame, batu bara berada di zona bullish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index atau RSI 14 hari yang berada di level 54.

RSI di atas 50 menunjukkan bahwa suatu aset berada dalam kondisi bullish. Namun, posisi RSI batu bara yang belum jauh dari level 50 mengindikasikan bahwa tren masih cenderung netral.

Indikator teknikal lainnya, yakni Stochastic RSI 14 hari, berada di level 60. Posisi ini menempatkan batu bara di area beli atau long yang cukup kuat.

Kondisi indikator tersebut mengindikasikan bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar. Meski demikian, ruang kenaikan harga dalam jangka pendek dinilai masih terbatas.

Untuk perdagangan hari ini, harga batu bara diperkirakan bergerak dalam rentang yang relatif sempit. Target support berada di kisaran US$ 108 hingga US$ 106 per ton.

Jika tekanan jual meningkat, level tersebut dapat menjadi area pantulan harga. Support ini menjadi titik penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar dalam menentukan strategi perdagangan.

Sebaliknya, apabila harga batu bara masih mampu melanjutkan penguatan, maka kisaran US$ 110 hingga US$ 117 per ton dapat menjadi target resisten. Level tersebut menjadi batas atas pergerakan harga dalam jangka pendek.

Pergerakan harga yang terbatas mencerminkan kondisi pasar yang masih mencari arah. Investor cenderung menunggu konfirmasi lanjutan sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Sentimen global terkait kebijakan energi dan permintaan industri masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga. Setiap perkembangan baru dari negara-negara besar berpotensi memicu volatilitas di pasar batu bara.

Selain faktor fundamental, kondisi teknikal tetap menjadi acuan penting bagi trader harian. Kombinasi keduanya membantu menentukan peluang masuk dan keluar pasar secara lebih terukur.

Dengan indikator yang masih berada di zona positif, peluang kenaikan harga masih terbuka meski terbatas. Namun, risiko koreksi tetap perlu diantisipasi oleh pelaku pasar.

Kondisi ini membuat perdagangan batu bara hari ini diperkirakan berlangsung dengan volatilitas moderat. Pasar cenderung menunggu katalis baru untuk mendorong pergerakan harga yang lebih signifikan.

Dalam konteks jangka pendek, fokus investor tertuju pada level support dan resisten yang telah terbentuk. Pergerakan di luar rentang tersebut dapat menjadi sinyal perubahan tren berikutnya.

Secara keseluruhan, harga batu bara masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan transisi energi global. Perubahan kebijakan di negara besar seperti Amerika Serikat turut memberikan dorongan terhadap sentimen pasar.

Penguatan dua hari berturut-turut menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap batu bara belum sepenuhnya surut. Kondisi ini memberikan ruang bagi harga untuk tetap bergerak positif dalam jangka pendek.

Meski demikian, tantangan jangka panjang tetap membayangi industri batu bara. Upaya pengurangan emisi karbon dan pengembangan energi terbarukan masih menjadi agenda utama banyak negara.

Namun dalam realitas kebutuhan energi global saat ini, batu bara masih memiliki peran strategis. Hal ini tercermin dari kebijakan sejumlah negara yang tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan penggunaan energi konvensional.

Dengan kondisi tersebut, pasar batu bara diperkirakan masih akan bergerak dinamis. Investor dan pelaku industri perlu terus memantau perkembangan global untuk mengantisipasi perubahan tren harga.

Kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental menjadi kunci dalam membaca arah pasar. Dalam jangka pendek, harga batu bara masih berpotensi bergerak stabil dengan kecenderungan positif.

Situasi ini memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pelaku pasar. Strategi yang tepat dan manajemen risiko yang baik menjadi faktor penting dalam menghadapi volatilitas harga komoditas energi.

Zahra

Zahra

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Dua Jembatan di Aceh Rampung, Pemulihan Logistik dan Aktivitas Warga Kembali Normal

Dua Jembatan di Aceh Rampung, Pemulihan Logistik dan Aktivitas Warga Kembali Normal

Prabowo Targetkan Ketahanan Stok BBM Tiga Bulan Demi Energi Nasional Lebih Aman

Prabowo Targetkan Ketahanan Stok BBM Tiga Bulan Demi Energi Nasional Lebih Aman

Kerja Sama Keamanan Siber Indonesia dan Amerika Kian Menguat Hadapi Ancaman Digital Global

Kerja Sama Keamanan Siber Indonesia dan Amerika Kian Menguat Hadapi Ancaman Digital Global

Proyek Pipa Gas Bumi Penghubung Jawa Barat–Jawa Timur Masuk Tahap Akhir

Proyek Pipa Gas Bumi Penghubung Jawa Barat–Jawa Timur Masuk Tahap Akhir

Rekomendasi 5 Rumah Murah Mulai Rp 150 Jutaan di Sragen, Cocok untuk Hunian Pertama

Rekomendasi 5 Rumah Murah Mulai Rp 150 Jutaan di Sragen, Cocok untuk Hunian Pertama