Waste to Energy Dinilai Mampu Kurangi Sampah Sekaligus Hasilkan Energi
- Kamis, 29 Januari 2026
JAKARTA - Persoalan sampah di Indonesia dinilai telah memasuki fase darurat, terutama di kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Timbulan sampah harian yang terus meningkat memberi tekanan besar pada sistem pengelolaan konvensional yang selama ini bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir. Dalam kondisi tersebut, pendekatan teknologi dipandang perlu untuk mencegah dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih luas.
Guru Besar IPB University Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono menilai pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy memiliki potensi sebagai solusi nasional. Ketergantungan pada metode open dumping di TPA dinilai tidak lagi memadai karena memicu pencemaran tanah, air, dan udara.
Baca JugaSST dan UMC Luncurkan SuperFlash Gen 4 28nm untuk Kendaraan Modern
Arief menyebut intervensi teknologi terukur diperlukan agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata Arief.
Menurutnya, teknologi ini memungkinkan pengurangan volume sampah secara signifikan dalam waktu relatif singkat. Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi kota-kota besar yang menghadapi keterbatasan lahan.
Dampak Lingkungan dan Manfaat Energi
Dari sisi lingkungan, WtE dinilai mampu mempercepat proses pengolahan sampah sekaligus menekan volumenya. Proses pembakaran terkontrol dapat mengurangi bau tidak sedap dan memperbaiki sanitasi lingkungan sekitar. Selain itu, teknologi ini berpotensi menekan produksi air lindi serta populasi lalat yang menjadi vektor penyakit.
“Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” ujarnya.
Energi listrik yang dihasilkan dapat menjadi tambahan pasokan bagi jaringan energi nasional. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menyelesaikan limbah, tetapi juga memberi nilai tambah.
Arief menilai pendekatan ini selaras dengan upaya menurunkan ketergantungan pada energi fosil. Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi dipandang sebagai bagian dari transisi menuju sistem energi yang lebih bersih. Namun demikian, manfaat tersebut harus diiringi dengan standar lingkungan yang ketat.
Kesesuaian Teknologi dengan Karakter Sampah
Keberhasilan penerapan WtE sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah domestik. Sampah perkotaan di Indonesia masih didominasi fraksi organik dengan kadar air tinggi. Kondisi tersebut menuntut adanya pemilahan dan pengolahan awal sebelum proses pembakaran dilakukan.
“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya,” kata Arief. Ia menegaskan sampah yang cenderung basah memerlukan penanganan khusus agar pembakaran berlangsung efisien. Tanpa pengolahan awal, proses WtE berisiko tidak optimal dan berdampak pada lingkungan.
Pemilahan di sumber juga dinilai penting untuk meningkatkan kualitas bahan bakar sampah. Langkah ini dapat membantu mengurangi residu berbahaya yang berpotensi mencemari lingkungan. Dengan sistem yang tepat, WtE dapat berjalan lebih aman dan efektif.
Standar Keselamatan dan Pengawasan Lingkungan
Aspek keselamatan lingkungan menjadi prasyarat utama dalam penerapan teknologi WtE. Arief menyoroti pentingnya sistem pengendalian emisi gas buang agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat. Selain itu, pengelolaan abu sisa pembakaran harus dilakukan sesuai klasifikasi limbah B3 maupun non-B3.
Edukasi publik juga dinilai penting agar masyarakat memahami manfaat dan risiko teknologi ini secara proporsional. Transparansi dalam pengawasan lingkungan diperlukan untuk membangun kepercayaan publik. Dengan pengawasan berkelanjutan, potensi dampak negatif dapat diminimalkan.
Arief mencontohkan sejumlah negara yang telah menerapkan WtE dengan standar lingkungan ketat. Jepang di Osaka dan Yokohama, Zurich di Swiss, serta Dubai disebut sebagai contoh penerapan yang berhasil. Praktik serupa juga diterapkan di Cina, Singapura, Jerman, dan Belgia.
Relevansi Kebijakan dan Tata Kelola
“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat,” ujarnya.
Kunci keberhasilan tersebut terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional. Pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan dinilai penting untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Arief menilai rencana pemerintah mengembangkan proyek WtE melalui Danantara Investment Management berada pada arah yang relevan. Meski demikian, implementasi program tersebut membutuhkan kehati-hatian dan tata kelola yang kuat. Pendekatan ini dinilai tepat untuk menjawab situasi darurat sampah di perkotaan.
“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya.
Dengan perencanaan matang, WtE berpotensi menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah nasional. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus kebutuhan energi masa depan.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Tips Memilih Kacamata Photochromic Agar Nyaman, Modern, dan Aman untuk Mata
- Kamis, 29 Januari 2026
Sopir dan Pengusaha Logistik Dorong Pembukaan Kembali Rute Penyeberangan Ketapang-Lembar
- Kamis, 29 Januari 2026
Berita Lainnya
Bocoran Spesifikasi dan Prediksi Harga Mobil Listrik i2C Karya Anak Bangsa
- Kamis, 29 Januari 2026
Pertumbuhan Mobil Listrik di Kamboja Meningkat Pesat, Target 2030 Capai 30.000 Unit
- Kamis, 29 Januari 2026
Meningkatkan Kualitas Produk UMKM Desa Tamiajeng dengan Logo, Branding, dan Kemasan
- Kamis, 29 Januari 2026









.jpg)

