Jumat, 23 Januari 2026

LPS Dorong Penurunan Simpanan Berbunga Tinggi, Stabilitas Perbankan Jadi Fokus Awal 2026

LPS Dorong Penurunan Simpanan Berbunga Tinggi, Stabilitas Perbankan Jadi Fokus Awal 2026
LPS Dorong Penurunan Simpanan Berbunga Tinggi, Stabilitas Perbankan Jadi Fokus Awal 2026

JAKARTA - Upaya menjaga stabilitas sistem perbankan nasional terus menjadi perhatian utama Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS memasuki awal tahun 2026. Salah satu fokus yang kini digenjot adalah menekan porsi simpanan berbunga tinggi agar tetap berada dalam batas yang dijamin.

LPS menargetkan penurunan porsi nominal simpanan berbunga di atas tingkat bunga penjaminan atau TBP. Per akhir Desember 2025, porsi simpanan berbunga di atas TBP tercatat masih berada di level 33 persen.

TBP yang saat ini berlaku masih ditetapkan sebesar 3,50 persen untuk simpanan rupiah pada bank umum. Sementara itu, TBP simpanan rupiah pada Bank Perkreditan Rakyat atau BPR berada di level 6,00 persen.

Baca Juga

Sinergi untuk Akselerasi, Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan UMKM

Untuk simpanan dalam valuta asing pada bank umum, TBP yang berlaku ditetapkan sebesar 2,00 persen. Ketentuan tersebut menjadi acuan utama dalam penjaminan simpanan nasabah perbankan.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyampaikan bahwa terdapat dua target utama yang sedang dijalankan oleh lembaganya. Target tersebut difokuskan pada penurunan simpanan berbunga tinggi dan peningkatan literasi keuangan masyarakat.

“Ada dua target yang kami lakukan. Pertama, menurunkan porsi nominal simpanan di atas TBP. Kedua, melakukan edukasi dan literasi untuk menarik nasabah usia produktif,” kata Anggito dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026 malam.

Dinamika Simpanan Berbunga Tinggi di Akhir Tahun

Anggito menjelaskan bahwa porsi simpanan berbunga di atas TBP sebenarnya sempat mengalami penurunan pada November 2025. Namun, tren tersebut kembali berbalik pada Desember seiring dengan dinamika akhir tahun.

Menurutnya, kenaikan porsi simpanan berbunga tinggi pada Desember merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap tahun. Hal ini tidak terlepas dari strategi perbankan dalam mempertahankan dana nasabah.

Selain itu, minat pemilik dana untuk mencari tambahan imbal hasil menjelang tutup tahun juga menjadi faktor pendorong. Kondisi ini membuat suku bunga simpanan cenderung mengalami penyesuaian sementara.

“Kami akan terus meminta kepada pihak bank supaya mengikuti suku bunga ataupun tingkat bunga penjaminan,” kata Anggito. Pernyataan tersebut menegaskan peran LPS dalam menjaga disiplin perbankan.

LPS menilai kepatuhan bank terhadap TBP menjadi kunci dalam menjaga efektivitas penjaminan simpanan. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan dapat tetap terjaga.

Likuiditas Perbankan Masih Longgar

Per Desember 2025, dana pihak ketiga atau DPK perbankan tercatat tumbuh cukup kuat. DPK perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 13,83 persen secara tahunan atau year-on-year.

Pertumbuhan DPK tersebut terutama didorong oleh meningkatnya aktivitas belanja pemerintah dan sektor korporasi. Kondisi ini mencerminkan perputaran dana yang relatif aktif di dalam sistem keuangan.

Namun, pada periode yang sama, pertumbuhan kredit perbankan tercatat masih berada di bawah pertumbuhan DPK. Kredit perbankan hanya tumbuh sebesar 9,63 persen secara tahunan.

Anggito menyebut bahwa pertumbuhan kredit tersebut terutama ditopang oleh penyaluran kredit investasi. Sementara itu, kredit konsumsi dan kredit modal kerja belum menunjukkan akselerasi signifikan.

Ia mengamini bahwa likuiditas perbankan saat ini berada dalam kondisi yang cukup melimpah. Kondisi likuiditas yang longgar ini dinilai akan berdampak pada penurunan biaya dana atau cost of fund.

Meski demikian, penyaluran kredit masih tumbuh satu digit karena beberapa faktor. Salah satu faktor utamanya adalah transmisi suku bunga kebijakan Bank Indonesia atau BI-Rate yang belum optimal.

“Kenapa penyaluran kredit di bawah 10 persen? Pertama, suku bunga deposito turun, tetapi suku bunga kreditnya belum turun seperti yang diharapkan,” ujar Anggito. Ia menambahkan bahwa transmisi kebijakan masih menghadapi tantangan.

“Yang kedua, tentu transmisinya masih ada gangguan,” katanya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penurunan suku bunga belum sepenuhnya dirasakan di sektor riil.

Selain faktor suku bunga, pertumbuhan kredit juga dipengaruhi oleh sisi permintaan. Anggito mengingatkan bahwa permintaan kredit yang belum kuat menjadi tantangan tersendiri.

Permintaan kredit yang lemah tercermin dari masih tingginya undisbursed loan di perbankan. Kondisi ini menunjukkan bahwa fasilitas kredit yang telah disetujui belum sepenuhnya ditarik oleh debitur.

Tren Penurunan Suku Bunga Pasar

LPS mencatat bahwa suku bunga pasar atau SBP simpanan rupiah menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Penurunan ini berlangsung secara bertahap dalam beberapa periode terakhir.

Pada periode observasi Januari 2026, SBP simpanan rupiah tercatat turun sebesar 5 basis poin. Dengan penurunan tersebut, SBP rupiah berada di level 3,14 persen.

Tren penurunan SBP ini sejalan dengan kondisi likuiditas perbankan yang tetap longgar. Selain itu, arah kebijakan moneter yang akomodatif turut mendukung penurunan suku bunga simpanan.

Pada periode yang sama, SBP simpanan dalam valuta asing juga mengalami penurunan. Berdasarkan observasi Januari 2026, SBP simpanan valas turun sebesar 12 basis poin.

Dengan penurunan tersebut, SBP simpanan valas tercatat berada di level 2,79 persen. Kondisi ini mencerminkan penyesuaian pasar terhadap kebijakan moneter global dan domestik.

Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Polis, Ferdinan D Purba, menyampaikan bahwa LPS terus mencermati perkembangan tersebut. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan stabilitas sistem keuangan.

“Mencermati tren SBP tersebut, LPS akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan otoritas terkait,” kata Ferdinan. Koordinasi ini bertujuan mendorong transmisi kebijakan moneter yang lebih efektif.

Ia menambahkan bahwa LPS berupaya memastikan penurunan suku bunga kebijakan dapat diteruskan ke suku bunga simpanan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat keseimbangan antara simpanan dan kredit.

Penetapan TBP Tetap Berlaku

Melalui rapat Dewan Komisioner pada Senin, 19 Januari 2026, LPS telah melakukan evaluasi tingkat bunga penjaminan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menentukan kebijakan TBP periode berikutnya.

Hasil rapat memutuskan bahwa TBP tidak mengalami perubahan. TBP yang berlaku ditetapkan untuk periode 1 Februari hingga 31 Mei 2026.

TBP simpanan rupiah di bank umum tetap berada di level 3,50 persen. Untuk simpanan rupiah di BPR, TBP juga tetap ditetapkan sebesar 6,00 persen.

Sementara itu, TBP simpanan dalam valuta asing di bank umum tetap berada di level 2,00 persen. Ketetapan ini sama dengan penetapan pada periode sebelumnya pada September 2025.

Ferdinan menjelaskan bahwa keputusan mempertahankan TBP dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah tren SBP simpanan rupiah dan valas yang masih menurun.

Selain itu, TBP yang berlaku dinilai masih sejalan dengan arah kebijakan makroekonomi. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertimbangan lainnya adalah pertumbuhan simpanan perbankan yang masih positif. Kondisi likuiditas perbankan yang longgar juga menjadi faktor pendukung keputusan tersebut.

Di sisi lain, tingkat cakupan penjaminan simpanan juga berada pada level yang sangat terjaga. Cakupan tersebut bahkan berada jauh di atas mandat undang-undang sebesar 90 persen.

Per Desember 2025, jumlah rekening nasabah bank umum yang seluruh simpanannya dijamin mencapai 99,94 persen. Jumlah tersebut setara dengan 665,05 juta rekening.

Sementara itu, jumlah rekening nasabah BPR dan BPRS yang seluruh simpanannya dijamin mencapai 99,97 persen. Angka tersebut setara dengan 15,67 juta rekening di seluruh Indonesia.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi

Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi

Revolusi Finansial Pribadi: Cara Teknologi dan AI Membantu Kelola Uang Lebih Cerdas di Era Digital

Revolusi Finansial Pribadi: Cara Teknologi dan AI Membantu Kelola Uang Lebih Cerdas di Era Digital

Rupiah Menguat Bertahap di Awal Pekan, Investor Pantau Pergerakan Nilai Tukar Secara Ketat

Rupiah Menguat Bertahap di Awal Pekan, Investor Pantau Pergerakan Nilai Tukar Secara Ketat

Lonjakan Investasi Emas Antam Hari Ini Pecahkan Rekor Baru di Tengah Gejolak Global

Lonjakan Investasi Emas Antam Hari Ini Pecahkan Rekor Baru di Tengah Gejolak Global