JAKARTA - Penyaluran kredit di Indonesia diperkirakan akan tetap tumbuh pada awal tahun 2026, meskipun ada perubahan dalam standar pemberian kredit.
Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa meskipun penyaluran kredit baru pada triwulan-IV 2025 meningkat, bank-bank di Indonesia akan mengambil langkah hati-hati dalam pengelolaan kredit di triwulan berikutnya.
Laporan survei BI mengindikasikan perbankan berfokus pada pengelolaan risiko sambil tetap mendukung perekonomian melalui penyaluran kredit yang terencana.
Baca JugaSinergi untuk Akselerasi, Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan UMKM
Peningkatan Permintaan Kredit Baru pada Akhir 2025
Survei Perbankan yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada permintaan kredit baru pada triwulan-IV 2025.
Hal ini tercermin dalam Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang menunjukkan angka 88,92%, sebuah lonjakan dibandingkan dengan angka 82,33% yang tercatat pada triwulan sebelumnya (III 2025).
Meskipun permintaan kredit baru meningkat, bank-bank Indonesia tampaknya tetap mengelola dengan cermat penyaluran kredit, mengingat faktor-faktor ekonomi dan pasar yang berfluktuasi.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, angka yang lebih tinggi pada SBT tersebut menunjukkan optimisme pasar terhadap kondisi perekonomian Indonesia yang diharapkan tumbuh stabil.
"Pada triwulan I 2026, penyaluran kredit baru diprakirakan akan tetap tumbuh meskipun dengan angka yang sedikit lebih moderat, dengan nilai SBT mencapai 55,74%," ujar Denny.
Proyeksi ini menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan permintaan kredit, laju pertumbuhannya tidak akan setinggi yang tercatat pada akhir 2025.
Perubahan Standar Pemberian Kredit di Tahun 2025
Meskipun ada pertumbuhan permintaan kredit baru, BI juga mencatat bahwa standar penyaluran kredit pada triwulan-IV 2025 cenderung lebih longgar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Indeks Lending Standard (ILS) tercatat pada angka negatif sebesar -2,59, yang menunjukkan bahwa bank-bank Indonesia lebih fleksibel dalam memberikan persetujuan kredit pada periode tersebut.
Beberapa faktor yang mendukung kebijakan ini antara lain penurunan biaya persetujuan kredit, penyesuaian pada jangka waktu kredit, serta suku bunga yang lebih bersaing.
Kebijakan ini tentunya bertujuan untuk menjaga agar aliran kredit tetap mengalir ke sektor-sektor produktif di perekonomian Indonesia. Bank-bank juga berusaha memberikan penyesuaian yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM), yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Meski demikian, peningkatan standar penyaluran kredit pada akhir tahun 2025 menunjukkan adanya kehati-hatian di kalangan perbankan terkait potensi risiko ekonomi yang mungkin timbul.
Proyeksi Penyaluran Kredit pada 2026: Optimisme Terkendali
Memasuki tahun 2026, BI memprediksi bahwa meskipun kondisi ekonomi Indonesia cukup stabil, bank-bank di tanah air akan lebih berhati-hati dalam kebijakan penyaluran kreditnya.
Pada triwulan-I 2026, diperkirakan Indeks Lending Standard akan menunjukkan angka positif sebesar 2,75, yang menandakan bahwa meskipun standar penyaluran kredit masih longgar, perbankan akan lebih selektif dalam menentukan pihak yang berhak menerima fasilitas kredit.
Menurut Denny, langkah hati-hati ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari prospek ekonomi yang baik hingga kecenderungan bank-bank untuk menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengelola risiko yang mungkin terjadi.
“Responden memprakirakan bahwa outstanding kredit hingga akhir 2026 akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Denny.
Namun, meskipun ada optimisme, perbankan di Indonesia diharapkan tetap memprioritaskan kehati-hatian, mengingat potensi fluktuasi ekonomi global dan tantangan domestik yang mungkin terjadi.
Faktor yang Menopang Prospek Pertumbuhan Kredit
Pertumbuhan kredit yang diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2026 ini, menurut BI, sebagian besar didorong oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap positif.
Bank Indonesia dan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan, termasuk suku bunga yang masih berada pada level yang mendukung pertumbuhan sektor riil.
Selain itu, risiko dalam penyaluran kredit di Indonesia juga tercatat tetap terkendali, yang berarti bank-bank diharapkan dapat mengelola risiko kredit dengan baik. Risiko kredit yang terjaga ini menjadi kunci penting bagi perbankan dalam menghadapi potensi guncangan ekonomi baik domestik maupun global.
Proyeksi Bank Indonesia yang menunjukkan optimisme yang lebih moderat untuk tahun 2026 mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan pengelolaan risiko yang hati-hati.
Dengan pendekatan yang seimbang ini, diharapkan sektor perbankan Indonesia dapat terus mendukung perekonomian tanpa mengabaikan pentingnya stabilitas finansial.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Layanan SIM Keliling Jakarta Siap Bantu Perpanjang SIM Di Lima Lokasi
- Jumat, 23 Januari 2026
BPBD Jakarta Peringatkan Hujan Lebat Potensial Guyur Ibu Kota Hingga 24 Januari
- Jumat, 23 Januari 2026
Samsat Keliling Polda Metro Jaya Masih Dibuka di 14 Lokasi Jadetabek
- Jumat, 23 Januari 2026
Wamenag Tekankan Kualitas Layanan KUA Harus Meningkat dan Tidak Lambat
- Jumat, 23 Januari 2026
Berita Lainnya
Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional
- Jumat, 23 Januari 2026
Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi
- Jumat, 23 Januari 2026
Lonjakan Investasi Emas Antam Hari Ini Pecahkan Rekor Baru di Tengah Gejolak Global
- Jumat, 23 Januari 2026
Terpopuler
1.
9 Tanda Tubuh Overdosis Garam yang Wajib Diwaspadai
- 23 Januari 2026
2.
Cara Alami Mengatasi Nyeri Haid Tanpa Obat yang Efektif
- 23 Januari 2026
3.
Pakar Hati-Hati! Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump
- 23 Januari 2026












