Sabtu, 24 Januari 2026

Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Fluktuatif Risiko Melemah Terbatas

Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Fluktuatif Risiko Melemah Terbatas
Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Fluktuatif Risiko Melemah Terbatas

JAKARTA - Perdagangan nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini kembali menjadi perhatian pelaku pasar. 

Di tengah dinamika global yang masih sarat ketidakpastian, pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Meski sempat menunjukkan penguatan pada penutupan sebelumnya, tekanan dari faktor eksternal dan domestik masih membayangi arah rupiah ke depan.

Sentimen global dan domestik saling berkelindan memengaruhi psikologi investor. Di satu sisi, ada dorongan optimisme dari meredanya indeks dolar AS, namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter global serta isu geopolitik tetap menjadi faktor penekan. Kondisi tersebut membuat pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Baca Juga

Sinergi untuk Akselerasi, Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan UMKM

Pada perdagangan Kamis, rupiah tercatat menguat tipis terhadap dolar AS. Namun, penguatan ini dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yang telah berlangsung sebelumnya. Investor pun kini menanti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang berpotensi menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Pelemahan Indeks Dolar

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,26 persen atau 44 basis poin ke level Rp16.936 per dolar AS pada Kamis (22/1/2026). Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami pelemahan sebesar 0,08 persen ke level 98,56. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak sedikit lebih lega.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah tersebut terjadi seiring meningkatnya sentimen risk on di pasar global. Harapan terkait pembicaraan seputar Greenland disebut turut meredakan kekhawatiran investor, sehingga mendorong minat terhadap aset berisiko.

Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbatas. Sentimen negatif dari dalam negeri, khususnya terkait isu independensi Bank Indonesia serta defisit fiskal, masih menjadi faktor yang membebani pergerakan rupiah. Oleh karena itu, menurutnya, rupiah berpotensi kembali bergerak fluktuatif dalam rentang yang terbatas.

Sentimen Global Masih Membayangi Pergerakan Rupiah

Dari sisi global, kekhawatiran Eropa terhadap sikap keras dan ancaman kebijakan perdagangan dari Washington kembali mencuat. Isu Greenland menjadi salah satu faktor yang memicu ketegangan dan berdampak pada persepsi risiko di pasar keuangan internasional.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai sentimen global tersebut turut memengaruhi pergerakan rupiah. Ketidakpastian geopolitik membuat investor cenderung bersikap defensif dan mengurangi eksposur pada aset negara berkembang. Kondisi ini menyebabkan aliran modal asing menjadi lebih selektif.

Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis revisi final Produk Domestik Bruto Amerika Serikat serta data inflasi Personal Consumption Expenditure. Data-data tersebut akan menjadi acuan penting bagi investor dalam membaca arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Kebijakan Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Domestik

Dari dalam negeri, sentimen berasal dari keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan. Bank sentral memutuskan menahan BI Rate pada level 4,75 persen pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap di 3,75 persen dan suku bunga lending facility berada di level 5,5 persen.

Keputusan tersebut dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Dengan mempertahankan suku bunga, Bank Indonesia berupaya memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial guna mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Langkah ini juga dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. Meski tekanan global masih ada, kebijakan moneter yang stabil diharapkan dapat memberikan kepercayaan bagi pelaku pasar domestik maupun asing.

Proyeksi Perdagangan Rupiah Hari Ini

Seiring dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, Jumat (23/1/2026), akan bergerak fluktuatif. Namun, kecenderungan pelemahan masih terbuka dengan kisaran pergerakan di level Rp16.930 hingga Rp16.950 per dolar AS.

Menurutnya, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya perkembangan kebijakan global dan respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat. Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, rupiah diperkirakan belum mampu menguat signifikan.

Meski demikian, pelemahan yang terjadi dinilai masih dalam batas wajar dan belum mengindikasikan tekanan yang berlebihan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Rupiah Dinilai Sudah di Atas Nilai Wajar

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai level rupiah yang telah menembus Rp16.900 per dolar AS sudah berada jauh di atas nilai wajarnya. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sentimen investor global yang cenderung menghindari aset berisiko atau risk off.

Tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Investor masih menunggu kepastian mengenai waktu penurunan suku bunga acuan, yang hingga kini belum memberikan sinyal yang jelas.

Meski demikian, Fakhrul memperkirakan jika rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia menilai level tersebut sebagai overshoot dan justru menjadi momentum bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi jual dolar.

Fundamental Eksternal Masih Relatif Kuat

Di sisi lain, ketahanan eksternal Indonesia dinilai masih cukup solid. Surplus neraca perdagangan terus menopang posisi cadangan devisa nasional. Pada akhir Desember 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$156,5 miliar, yang memberikan bantalan kuat bagi stabilitas nilai tukar.

Fakhrul memproyeksikan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada pada kisaran rata-rata Rp16.500 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh kenaikan harga komoditas yang berdampak positif terhadap kinerja ekspor nasional.

Penguatan harga logam seperti timah serta pemulihan harga nikel dinilai berpotensi menjaga surplus neraca perdagangan. Meski tekanan masih terasa di awal tahun, perbaikan diperkirakan akan muncul pada pertengahan 2026 seiring membaiknya neraca pembayaran.

Selain itu, stabilitas rupiah juga perlu didukung oleh kebijakan fiskal. Peningkatan porsi penerbitan obligasi global dinilai dapat membantu menyerap devisa hasil ekspor dan memperkuat cadangan devisa, sehingga menopang ketahanan nilai tukar ke depan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi

Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi

Revolusi Finansial Pribadi: Cara Teknologi dan AI Membantu Kelola Uang Lebih Cerdas di Era Digital

Revolusi Finansial Pribadi: Cara Teknologi dan AI Membantu Kelola Uang Lebih Cerdas di Era Digital

Rupiah Menguat Bertahap di Awal Pekan, Investor Pantau Pergerakan Nilai Tukar Secara Ketat

Rupiah Menguat Bertahap di Awal Pekan, Investor Pantau Pergerakan Nilai Tukar Secara Ketat

Lonjakan Investasi Emas Antam Hari Ini Pecahkan Rekor Baru di Tengah Gejolak Global

Lonjakan Investasi Emas Antam Hari Ini Pecahkan Rekor Baru di Tengah Gejolak Global