Kamis, 22 Januari 2026

WEF Davos 2026 CEO BRI Tegaskan UMKM Pilar Transisi Hijau Berkelanjutan

WEF Davos 2026 CEO BRI Tegaskan UMKM Pilar Transisi Hijau Berkelanjutan
WEF Davos 2026 CEO BRI Tegaskan UMKM Pilar Transisi Hijau Berkelanjutan

JAKARTA - Isu pembiayaan berkelanjutan kembali mengemuka dalam forum ekonomi dunia tahun ini. 

Di tengah dorongan global menuju ekonomi hijau, peran pelaku usaha di tingkat akar rumput menjadi sorotan penting. Dalam konteks negara berkembang, keberhasilan transisi hijau tidak hanya ditentukan oleh proyek besar. Justru, keterlibatan sektor usaha kecil menjadi penentu keberlanjutan jangka panjang.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk Hery Gunardi menilai usaha mikro kecil dan menengah memegang peranan vital. UMKM tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menjaga rantai pasok lokal dan ketahanan komunitas. Meski demikian, sektor ini kerap luput dari pembahasan utama dalam diskusi pembiayaan berkelanjutan global. Padahal kontribusinya sangat besar bagi struktur ekonomi nasional.

Baca Juga

Amar Bank Bersama MRT Jakarta Perkuat Layanan Embedded Banking

Dalam pandangan Hery, transisi hijau dan pertumbuhan inklusif tidak akan berjalan tanpa keterlibatan UMKM. Ia menegaskan bahwa pembiayaan berkelanjutan harus bersifat menyeluruh dan tidak eksklusif. Apabila UMKM tertinggal, maka tujuan besar keberlanjutan akan sulit tercapai. Karena itu, UMKM perlu ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar pelengkap.

Peran UMKM Dalam Ekonomi Negara Berkembang

Hery Gunardi menjelaskan bahwa di banyak negara berkembang, UMKM menjadi tulang punggung perekonomian. Sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menopang aktivitas ekonomi lokal. UMKM juga berperan menjaga stabilitas sosial di tengah tantangan global. Tanpa UMKM yang kuat, struktur ekonomi akan rapuh.

Namun, realitas di tingkat global menunjukkan hal berbeda. Diskusi mengenai pembiayaan berkelanjutan kerap berfokus pada korporasi besar atau proyek infrastruktur berskala masif. UMKM sering kali tidak masuk dalam agenda utama. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara konsep keberlanjutan dan praktik di lapangan.

Menurut Hery, pendekatan tersebut perlu diubah. Keberlanjutan harus menyentuh sektor yang paling dekat dengan masyarakat. Tanpa pembiayaan yang inklusif, transisi hijau berisiko hanya menjadi jargon. UMKM harus diajak bergerak bersama, bukan dibiarkan berjalan sendiri.

Pembiayaan Berkelanjutan Harus Inklusif

Dalam diskusi panel bertajuk “Capital for Sustainability Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets”, Hery menegaskan pentingnya pendekatan inklusif. Diskusi ini digelar di Indonesian Pavillion pada World Economic Forum 2026 di Davos Swiss, Selasa 20 Januari 2026. Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan global.

“Pembiayaan berkelanjutan harus bersifat inklusif. Transisi hanya akan berhasil jika UMKM bergerak maju bersama, bukan tertinggal,” tegas Hery Gunardi. Pernyataan ini menegaskan posisi BRI dalam mendorong ekonomi hijau berbasis kerakyatan. Menurutnya, inklusivitas bukan pilihan, melainkan keharusan.

Hery juga menyoroti bahwa tanpa keterlibatan UMKM, pertumbuhan inklusif sulit diwujudkan. Pembiayaan berkelanjutan harus dirancang agar dapat diakses pelaku usaha kecil. Dengan demikian, dampaknya akan terasa langsung di tingkat komunitas.

Peran Bank Lokal Sebagai Anchor Bank

Dalam konteks global, Hery menekankan pentingnya peran bank lokal sebagai anchor bank. Bank lokal memiliki pemahaman mendalam terhadap karakter pasar domestik. Tanpa kemampuan eksekusi di tingkat lokal, pembiayaan berkelanjutan berisiko berhenti pada tataran konsep. Hal ini membuat dana tidak tersalurkan optimal ke sektor riil.

Hery menjelaskan bahwa BRI menjalankan peran tersebut dengan menggandeng berbagai pihak. Kerja sama dilakukan bersama pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, serta bank multilateral. Kolaborasi ini bertujuan menyalurkan blended finance secara efektif ke sektor UMKM. Skema tersebut memungkinkan risiko dan manfaat dibagi secara seimbang.

Tanpa keberadaan bank jangkar lokal, pembiayaan berkelanjutan sulit menjangkau kebutuhan nyata di lapangan. BRI memanfaatkan jaringannya yang luas hingga pelosok desa. Dengan pendekatan ini, konsep keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata. Pembiayaan tidak berhenti di atas kertas.

Digitalisasi Dorong Skala Pembiayaan Berkelanjutan

Selain peran kelembagaan, Hery menekankan pentingnya digitalisasi. Teknologi dinilai menjadi faktor kunci dalam mendorong skala pembiayaan berkelanjutan. Digitalisasi memungkinkan penurunan biaya pembiayaan serta perluasan akses kredit. Dengan sistem digital, UMKM lebih mudah terhubung dengan layanan keuangan.

Menurut Hery, teknologi juga berperan dalam pengumpulan data ESG. Data tersebut dapat ditarik hingga ke level UMKM. Hal ini membuat pembiayaan berkelanjutan lebih terukur dan transparan. Dengan dukungan digital, keberlanjutan tidak lagi sebatas proyek percontohan.

“Digitalisasi memungkinkan keberlanjutan untuk berkembang dalam skala besar, menurunkan biaya pembiayaan, memperluas akses kredit, serta memungkinkan pengumpulan data ESG hingga ke tingkat UMKM,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi menjadi enabler utama keberlanjutan.

Keberlanjutan Menjadi Strategi Mass Market BRI

BRI menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama pembiayaan UMKM. Hery menegaskan bahwa keberlanjutan bukan inisiatif terbatas atau niche. Strategi ini telah menjadi bagian dari DNA BRI dalam membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari. Pendekatan ini menempatkan UMKM sebagai mitra strategis.

Tantangan terbesar, menurut Hery, berasal dari persepsi lama. UMKM kerap dianggap tidak bankable dan berisiko tinggi. Untuk mematahkan stigma tersebut, BRI mengubah pendekatan pembiayaan. Dari yang semula berbasis agunan, kini beralih ke kepercayaan berbasis data.

BRI memanfaatkan digital underwriting, data transaksi, dan penguatan ekosistem usaha. Dengan pendekatan ini, risiko dapat dikelola secara lebih akurat. Pembiayaan berkelanjutan pun dapat tumbuh lebih luas dan terukur. UMKM tidak lagi dipandang sebagai beban risiko.

“Sustainability bukan inisiatif niche bagi kami, tetapi strategi mass market yang tertanam dalam cara kami membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari,” kata Hery. Pernyataan ini menegaskan komitmen jangka panjang BRI.

Keberlanjutan Nyata Hingga Tingkat Desa

Hery menegaskan bahwa pembiayaan berkelanjutan tidak seharusnya berhenti pada instrumen keuangan tertentu. Green bond atau proyek infrastruktur besar bukan satu satunya tolok ukur. Keberlanjutan yang nyata justru terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa. Petani dan micro entrepreneur menjadi bagian penting dari ekosistem ini.

“Keberlanjutan yang nyata terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa, petani, dan micro entrepreneur. Ini bukan bantuan sosial, melainkan aktivitas ekonomi yang layak secara komersial,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa keberlanjutan harus berdampak langsung. Dengan demikian, transisi hijau dapat berjalan seiring pertumbuhan ekonomi rakyat.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BI Catat Kredit Nganggur Bank Masih Tinggi Nasional

BI Catat Kredit Nganggur Bank Masih Tinggi Nasional

BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan Dan Langkah Stabilisasi

BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan Dan Langkah Stabilisasi

Harga Emas 24 Karat Antam Tembus Rp 3 Juta Per Gram Hari Ini

Harga Emas 24 Karat Antam Tembus Rp 3 Juta Per Gram Hari Ini

Harga Emas Pegadaian Naik Tajam Kamis Ini Galeri24 Dan UBS Sentuh Rekor

Harga Emas Pegadaian Naik Tajam Kamis Ini Galeri24 Dan UBS Sentuh Rekor

IHSG Berisiko Lanjut Koreksi Investor Diminta Cermati Saham Potensial Hari Ini

IHSG Berisiko Lanjut Koreksi Investor Diminta Cermati Saham Potensial Hari Ini