IHSG Berisiko Lanjut Koreksi Investor Diminta Cermati Saham Potensial Hari Ini
- Kamis, 22 Januari 2026
JAKARTA - Tekanan pasar saham masih terasa kuat menjelang akhir pekan ini.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan belum menunjukkan tanda pemulihan yang meyakinkan. Investor kembali dihadapkan pada situasi pasar yang penuh kehati hatian. Kondisi tersebut membuat strategi selektif menjadi kunci utama dalam menghadapi perdagangan hari ini.
Pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, IHSG diperkirakan masih berada dalam fase koreksi. Sentimen negatif yang datang secara bersamaan dari global dan domestik terus membebani pergerakan indeks. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG tercatat melemah cukup dalam. Indeks ditutup turun 1,36% ke level 9.010.
Baca JugaAmar Bank Bersama MRT Jakarta Perkuat Layanan Embedded Banking
Tekanan tersebut diperparah oleh aksi jual bersih investor asing. Tercatat net sell asing mencapai Rp 1,88 triliun di pasar reguler. Aliran dana keluar ini menunjukkan sikap wait and see investor global terhadap pasar Indonesia. Kondisi ini membuat pergerakan indeks menjadi kurang stabil.
BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Kombinasi faktor eksternal dan internal masih menjadi penghambat utama. Pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya risiko capital outflow menjadi sorotan. Wacana tarif baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menambah ketidakpastian pasar.
Sentimen Global Dan Domestik Masih Membebani Pasar
Dari sisi global, kebijakan perdagangan Amerika Serikat kembali menjadi perhatian investor. Wacana tarif baru yang dilontarkan Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran pasar. Risiko capital outflow dari negara berkembang meningkat seiring ketidakpastian kebijakan tersebut. Situasi ini membuat investor asing cenderung mengurangi eksposur di aset berisiko.
Pelemahan rupiah juga menjadi faktor yang memperkuat tekanan pada IHSG. Nilai tukar yang bergerak tidak stabil meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Investor cenderung menahan transaksi besar hingga ada kepastian arah pasar. Akibatnya, tekanan jual masih mendominasi perdagangan.
Dari dalam negeri, kebijakan moneter Bank Indonesia turut menjadi sorotan. BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Namun keputusan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk meredam tekanan jual di pasar saham. Pelaku pasar masih menanti langkah lanjutan dari otoritas moneter.
Kombinasi sentimen ini membuat IHSG bergerak dalam tekanan. Selama faktor global dan domestik belum menunjukkan perbaikan signifikan, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Investor pun diimbau untuk lebih selektif dalam memilih saham. Manajemen risiko menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.
Level Teknikal Jadi Acuan Pergerakan IHSG
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi. Support terdekat IHSG berada di level 8.948. Sementara itu, level resistance terdekat berada di kisaran 9.035. Rentang ini menjadi area krusial dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.
“Secara teknikal, IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan support di 8.948 dan resistance di 9.035,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasan Kamis, 22 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan bahwa risiko penurunan masih terbuka. Selama belum ada katalis positif, pergerakan indeks cenderung terbatas.
Broker tersebut juga menilai tekanan masih akan berlanjut. Hal ini terutama jika sentimen global belum membaik. Pergerakan rupiah yang belum stabil turut menjadi faktor penghambat. Investor diharapkan mencermati perkembangan makro secara seksama.
Dalam kondisi seperti ini, strategi trading jangka pendek lebih banyak dipilih. Investor disarankan memperhatikan level support dan resistance. Penggunaan stop loss menjadi langkah penting untuk mengantisipasi volatilitas. Kehati hatian menjadi kunci menghadapi pasar yang tidak menentu.
Sektor Komoditas Masih Menarik Dicermati
Di tengah tekanan pasar saham, sektor komoditas justru menawarkan peluang menarik. Salah satu yang menjadi sorotan adalah emas. Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini didorong meningkatnya permintaan aset safe haven.
Harga emas berada di kisaran 4.800 dan mencerminkan tingginya minat investor global. Ketegangan geopolitik serta ketidakpastian ekonomi mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman. Kondisi ini membuat saham terkait komoditas emas patut dicermati. Sektor ini dinilai relatif lebih defensif.
Minat terhadap emas juga tercermin di pasar domestik. Saham emiten tambang emas berpotensi mendapatkan sentimen positif. Namun investor tetap perlu memperhatikan volatilitas pasar secara keseluruhan. Kenaikan harga komoditas tidak selalu sejalan dengan pergerakan indeks.
Dalam situasi IHSG yang masih rawan koreksi, sektor defensif menjadi alternatif. Saham berbasis komoditas dapat menjadi penyeimbang portofolio. Namun strategi masuk tetap perlu disesuaikan dengan kondisi teknikal masing masing saham.
Wall Street Menguat Beri Sentimen Campuran
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat pada perdagangan terakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,21% ke level 49.077,2. Indeks S&P 500 juga menguat 1,16% ke posisi 6.875,6. Nasdaq mencatatkan kenaikan 1,18% ke level 23.224,8.
Penguatan Wall Street memberikan sentimen campuran bagi pasar global. Di satu sisi, hal ini menunjukkan optimisme investor Amerika. Namun di sisi lain, sentimen tersebut belum cukup kuat mengangkat IHSG. Faktor regional dan domestik masih lebih dominan memengaruhi pasar Indonesia.
Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan adanya divergensi pasar. Investor global cenderung selektif dalam menempatkan dana. Negara berkembang masih menghadapi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penguatan Wall Street belum tentu langsung berdampak positif.
Pelaku pasar di Indonesia tetap disarankan fokus pada faktor internal. Pergerakan rupiah, arus dana asing, serta kebijakan global menjadi penentu utama. Kewaspadaan tetap diperlukan meski pasar global menunjukkan penguatan.
Rekomendasi Saham Untuk Trading Jangka Pendek
Di tengah kondisi pasar yang menantang, BRI Danareksa Sekuritas memberikan sejumlah rekomendasi saham. Untuk perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, broker ini merekomendasikan saham ANTM, PSKT, dan EMTK. Ketiga saham tersebut dinilai memiliki peluang cuan secara teknikal.
Untuk ANTM, pada chart satu jam terlihat saham berada di area pullback. Support berada di kisaran 4.110 hingga 4.180. Selama harga bertahan di atas level tersebut, tren masih bullish. Target resistance berada di rentang 4.350 hingga 4.420.
Saham PSKT menunjukkan peningkatan volume dan harga yang signifikan. Pada perdagangan terakhir, saham ini berhasil menembus level resistance di 382. Potensi penguatan masih terbuka dengan target resistance selanjutnya di level 418 hingga 436. Momentum ini menarik bagi trader jangka pendek.
Sementara itu, EMTK pada chart satu jam sedang menguji level resistance di 1.075. Saham ini dapat dimanfaatkan dengan strategi buy on breakout. Jika mampu menembus level tersebut, potensi penguatan lanjutan terbuka menuju area 1.095 hingga 1.110. Strategi disiplin tetap diperlukan dalam kondisi pasar yang fluktuatif.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Harga Emas Pegadaian Naik Tajam Kamis Ini Galeri24 Dan UBS Sentuh Rekor
- Kamis, 22 Januari 2026
Rekomendasi Saham Hari Ini Kamis 22 Januari 2026 Paling Potensial Untuk Trader
- Kamis, 22 Januari 2026













