JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penurunan yang terus berlanjut pada hari Rabu, 21 Januari 2026. Hingga mencapai tengah hari ini, rupiah terpantau melemah ke level Rp 16.967 per dolar AS.
Kondisi ini menggambarkan pelemahan tipis sebesar 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 16.956 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi sorotan di pasar uang, mengingat beberapa faktor eksternal maupun domestik yang mempengaruhi kinerja rupiah.
Baca Juga
Pergerakan Rupiah yang Tertekan
Pergerakan mata uang global pada hari ini bervariasi, dengan sebagian besar mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Meskipun demikian, pelemahan rupiah pada tengah hari ini terbilang ringan jika dibandingkan dengan beberapa mata uang Asia lainnya yang tercatat lebih dalam.
Rupiah masih mempertahankan posisi stabil di tengah fluktuasi global, meskipun tetap berada dalam tekanan yang cukup besar terhadap mata uang utama dunia.
Hingga pukul 11.40 WIB, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia setelah ambles sekitar 0,4%. Kondisi ini turut berkontribusi pada sentimen negatif yang mengarah pada sejumlah mata uang negara berkembang.
Beberapa mata uang lainnya, seperti dolar Taiwan dan yuan China, juga tercatat melemah masing-masing sebesar 0,16% dan 0,09% terhadap dolar AS.
Faktor Pengaruh Terhadap Rupiah
Salah satu faktor yang memengaruhi penurunan nilai tukar rupiah adalah dinamika ekonomi global, khususnya terkait dengan kebijakan moneter dari bank sentral AS, Federal Reserve.
Kenaikan suku bunga yang berkelanjutan oleh Federal Reserve cenderung menguatkan dolar AS dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketidakpastian pasar dan kebijakan fiskal internasional turut memainkan peran penting dalam pergerakan mata uang ini.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, terutama yang melibatkan negara-negara besar, turut menambah volatilitas di pasar global.
Meskipun Indonesia relatif terisolasi dari dampak langsung ketegangan tersebut, ketidakstabilan global tetap berpengaruh pada sentimen investor terhadap aset di negara berkembang. Pelemahan rupiah ini bisa jadi adalah refleksi dari reaksi pasar terhadap berbagai faktor tersebut.
Mata Uang Asia yang Variatif
Di tengah penurunan rupiah, pergerakan mata uang Asia menunjukkan hasil yang bervariasi. Sebagian besar mata uang regional menghadapai tekanan, namun ada juga beberapa yang menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia pada hari ini, melonjak sekitar 0,63%.
Penguatan ini dipengaruhi oleh kebijakan moneter domestik yang cukup agresif dan data ekonomi positif dari Korea Selatan yang memberikan optimisme terhadap prospek ekonomi mereka.
Selain itu, peso Filipina juga tercatat menguat 0,2%, sementara yen Jepang turut mencatatkan penguatan sebesar 0,05% pada tengah hari ini. Dolar Hongkong dan baht Thailand masing-masing mengalami kenaikan tipis 0,02% dan 0,01%.
Sebaliknya, ringgit Malaysia dan dolar Singapura menunjukkan penurunan nilai tukar yang lebih terbatas. Ringgit Malaysia turun sebesar 0,04%, sementara dolar Singapura melemah tipis 0,008%.
Prospek Jangka Pendek untuk Rupiah
Meski terdapat perbedaan penguatan dan pelemahan mata uang di Asia, outlook jangka pendek untuk rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kinerja ekonomi Indonesia yang terus mengalami pemulihan pasca-pandemi bisa memberikan dukungan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, mengingat adanya ketidakpastian global dan fluktuasi pasar, rupiah diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan dalam waktu dekat.
Untuk memperkuat posisi rupiah, dibutuhkan langkah-langkah kebijakan domestik yang dapat menjaga kestabilan makroekonomi Indonesia, seperti pengendalian inflasi dan pengelolaan cadangan devisa yang sehat.
Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia terus memonitor perkembangan nilai tukar rupiah dan mengimplementasikan kebijakan yang dapat mengurangi dampak fluktuasi eksternal.
Dengan segala dinamika yang terjadi, meskipun rupiah mengalami penurunan tipis pada hari ini, outlook jangka panjang masih menunjukkan potensi untuk pemulihan yang lebih stabil, tergantung pada respons kebijakan domestik serta faktor eksternal lainnya.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
ICEX Resmi Berizin OJK, Menandai Era Baru Bursa Kripto Kompetitif di Indonesia
- Rabu, 21 Januari 2026
PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi
- Rabu, 21 Januari 2026
Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi
- Rabu, 21 Januari 2026
Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
JMA Syariah Targetkan Pendapatan Kontribusi Tumbuh 20 Persen
- 21 Januari 2026
2.
Amankah Merendam Teh dalam Susu Semalaman? Ini Penjelasannya
- 21 Januari 2026
3.
4.
Tarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya
- 21 Januari 2026







